Black Island. Januari, 2017
"Wooaahhh... Pesawat bekas ini melayang!" Teriak Tom.
"Diamlah! Ada seekor hewan raksasa yang mengangkat pesawat bekas ini!" Ucap Stevan berbisik-bisik.
"Tinggu sebentar! Biar ku intip!" Ucap Parker.
"Apa yang kau lihat Parker?" Tanya Alice.
"Sepertinya ada seekor gajah raksasa yang mengangkat kita, wooaahhh..." Ucap Parker lalu dia terjatuh.
"Parker!" Teriak Jhonny.
Lalu gajah raksasa itu melepaskan pesawat bekas itu. Tetapi betapa malangnya nasib Parker, ia tewas karena diinjak oleh hewan itu.
"Semoga Parker tenang di alam sana." Ucap Alyana sambil berdoa.
"Gajah itu sudah pergi kawan, mari kita pergi dari sini." Ucap Tom.
"Ok, ayo kita pergi dari sini." Ucap Stevan.
Mereka pun pergi menuju ke pedalaman hutan untuk menelusuri pulau itu lebih lanjut.
"Aku ingin bertanya kepadamu, Stevan." Ucap Kolonel Titor.
"Apa yang mau kau pertanyakan?" Ucap Stevan.
"Katamu pulau ini berbahaya, termasuk makhluk hidup yang berada disisi juga berbahaya karena telah terkontaminasi oleh zat itu, termasuk kita tidak boleh memakan ikan di sungai ini, tapi mengapa kau menyuruh kami memakan buah beri yang ada di dekat pesawat bekas itu?" Tanya Kolonel Titor.
"Tidak semua makhluk hidup yang terkontaminasi zat itu, yang kudengar selama ini zat itu sebagian besar dibuang beserta tabungnya atau zat itu masih didalam tabung yang tertutup rapat, pasti ada sebagian kecil zat yang dibuang tanpa tabung atau dengan kata lain zat itu di buang begitu saja, dan pembuangan zat yang tanpa tabung itu sebagian besar di buang ke sungai dan danau di pulau ini, jadi buah beri yang kita makan itu pasti tidak mengandung zat itu, walaupun mengandung zat itu pasti sejak lama zat itu sudah memudar karena hujan lebat." Jelas Stevan.
"Ok, aku mengerti Stevan." Ucap Kolonel Titor.
Di tengah-tengah hutan, mereka memilih istirahat sejenak untuk memulihkan tenaga mereka. Mereka beristirahat dibawah pohon dan duduk di batu-batu besar, tiba-tiba batu yang mereka duduki bergetar.
"Wooaahhh... Batu ini bergetar sangat keras!" Teriak Prof. Alex dan Prof. Jhon.
"Semuanya berlindung dibalik pohon ini!" Teriak Stevan.
"Wooaahhh..." Teriak Prof. Jhon dan Prof. Alex yang terjatuh.
Ternyata batu yang besar itu merupakan cangkang hewan yang menyerupai laba-laba, dan Prof. Alex dan Prof. Jhon terjebak diantara kaki laba-laba itu.
"Alex! Jhon! Hati hati!"Teriak Prof. Cein.
"Apakah kita membawa senjata?" Tanya Stevan yang bingung.
"Ada, biar kuambil." Jawab Jhonny.
"Senjata apa itu? Apakah pistol?" Tanya Stevan yang terburu-buru.
"Hanya tersisa lima senjata, tiga senjata AK47 dan dua M79." jawab Jhonny.
"Baiklah, berikan aku AK47-nya!" Ucap Stevan.
Dooorrr...
Stevan menarik pelatuk dari senjata itu untuk menyerang hewan aneh itu. Namun sayangnya, kedua Profesor itu telah mati karena diinjak hewan aneh itu.
"Oh tidak, kita harus lari sekarang! Lari!" Teriak Kolonel Titor.
Mereka pun lari menuju ke arah gunung berapi yang sedang aktif, mereka kesana untuk menyelamatkan diri. Saat mereka berlari, mereka menemukan sebuah kapal bekas kapal perang dunia kedua.
"Lihatlah disana! Ada kapal bekas disana! Ayo kita menuju kapal itu untuk menghindar dari hewan aneh ini!" Ucap Stevan.
Mereka pun menuju ke kapal bekas itu lalu menaikinya untuk perlindungan dari hewan aneh itu.
"Wooaahhh... Kapal ini masih terlihat bagus, mengapa kapal ini bisa berada disini?" Ucap Tom.
"Mungkin kapal ini terdampar karena gurita raksasa yang menenggelamkan kapal kita sebelumnya." Ucap Stevan.
"Mengapa nasib kita di pulau ini selalu dikejar-kejar oleh hewan aneh dan selalu ada tempat untuk berlindung dari hewan aneh itu?" Ucap Tom.
"Seharusnya kau bersyukur Tom." Ucap Alice.
"Baiklah... Baiklah..." Ucap Tom.
"Hei lihatlah! Gunung itu mengeluarkan asap yang tebal!" Teriak Jhonny.
"Jika dua hari kedepan kita tidak pergi dari pulau ini, kita akan kelaparan dan mungkin gunung itu akan meletus dan bisa membuat kita mati!" Ucap Prof. Cein dengan nada yang keras.
"Bagaimana kau tahu kalau gunung itu akan meletus?" Tanya Tom.
"Aku mendengar beritanya di badan meteorologi, klimatologi dan geofisika kota Toronto." Jawab Prof. Cein.
Mereka pun berbincang-bincang hingga matahari mulai terbenam. Namun tiba-tiba tas yang dibawa oleh Jhonny mengeluarkan suara.
"Suara apa itu? Sepertinya berasal dari tas punggung mu, Jhonny." Ucap Stevan.
"Benar, ini seperti suara penangkap sinyal jarak jauh dari Walkie Talkie yang yang telah dimodifikasi oleh para ilmuwan!" Ucap Prof. Cein.
"Biar kuambil dari tasku, sepertinya benda itu masuk tanpa sengaja di tasku." Ucap Jhonny.
Jhonny pun mengambil benda itu, namun betapa terkejutnya ia karena benda itu mendapatkan sinyal dari pangkalan laut Kanada.
"Lihatlah ini! Kita mendapatkan sinyal dari pangkalan laut Kanada!" Ucap Jhonny dengan suara yang keras.
"Berikan kepadaku! Biar aku kirim balik sinyal itu sebagai respon kita!" Ucap Kolonel Titor.
"Yuhuuu... Posisi kita terlacak oleh mereka! Teriak Stevan yang girang.
"Sudahlah kawan, matahari mulai terbenam, mari kita makan buah beri yang tersisa ini sebagai pengganjal perut kita, dan ini ada air bersih yang tersisa, makan dan minumlah, siapa tahu besok kita akan bebas dari "penjara yang mengerikan" ini." Ucap Kolonel Titor.

KAMU SEDANG MEMBACA
BLACK ISLAND: THREE ISLAND GUARDS
Fiksi Ilmiah[ Tersedia di Google Play Book, kata lebih baku dan lengkap! ] Cover by: @AaronBrusen Black Island adalah pulau yang menjadi tempat pembuangan zat berbahaya, zat itu bisa membuat makhluk hidup bermutasi. Seratus tahun kemudian, para ilmuwan menemuka...