Chapter 6

187 37 12
                                        

ALL CHARACTERS BELONG TO J.K. ROWLING

THE PHILOSOPHER'S STONE
~CHAPTER SIX~


"Draco, aku lelah."

"Sama, aku juga."

"Ayolah, hanya selembar pekamen! Kalian mau dihukum Snape?"

"Nanti saja. Nanti malam, jika aku ingat." Pansy bersenandung.

Aku mendengus, "Kalau nanti-nanti terus, pasti tidak akan kalian kerjakan."

"Aku akan kerjakan nanti malam."

"Tapi nanti malam kan malam Halloween. Kita ada jamuan makan malam spesial." kataku mengutip perkataan Prefek kemarin lusa.

"Pr ramuan masih dikumpulkan dua hari lagi! Demi Tuhan, Draco!" Blaise mengerang malas sambil berbaring di sofa common room.

"Benar kata Blaise, masih lama." Pansy juga berbaring, tetapi ia berada di karpet sedangkan kakinya diatas sofa bersebelahan dengan kepala Blaise.

Aku menghela nafas, mereka benar-benar diluar batas wajar tingkat kemalasan.

"Aku tidak tanggung atas apapun yang akan terjadi di kelas Snape." kataku final, lalu merapikan perkamen-perkamen kami yang berserakan.

Tiba-tiba, Pansy berdiri dan dengan cepat menarik perkamen esai ramuanku. Setelah itu ia berlari naik kekamarnya.

Aku hanya bisa menghela nafas, pasti hal selanjutnya yang ia lakukan adalah menyontek. Aku melirik Blaise, dan ia hanya nyengir. Oh, pastilah ia bekerja sama dengan Pansy. Ya ampun.

Blaise berdiri merapikan jubahnya, "siap ke kelas mantra?"

Aku menghela nafas lagi, "More than ready" aku memasukkan beberapa buku dan perkamen ke dalam tas.

Pansy berlari turun dengan rusuh, maksudku.. benar-benar se-rusuh-itu. 

"Ayo." katanya santai sambil mendahului kami keluar asrama.

Blaise berbisik, "She's mental, isn't she?"

Aku mengangguk setuju dan kami berdua terkikik.

Kami berjalan bersama ke kelas mantra. Pansy mengoceh hal baru hari ini. Ia mengaduh tentang betapa kesulitannya ia menulis dengan quills, sedangkan di sekolah muggle, kami—Pansy dan aku—menggunakan pencils and pens.

Blaise tidak tahu, ia tidak bersekolah di sekolah dasar muggle. Ayahnya tidak mengenalkan hal-hal mengenai muggle, walaupun ayahnya—adalah seorang muggle—dengan ayah Pansy berteman. Blaise bilang ingin melihat dan menggunakan pens dan pencils kapan-kapan.

Kami masuk ke kelas mantra, kelasnya sudah cukup ramai. Ada teman-teman asramaku, bahkan er.. Granger.. dan ketiga ajudannya pun sudah sampai.

Blaise menyikutku cukup kencang.

"Ada apa sih?" kataku mengaduh.

"Granger melihatmu terus daritadi." bisiknya.

Aku melirik Granger sekilas, ia menatapku tajam. Lalu aku berbalik menghadap Blaise.

Aku berbisik, "apa salahku?"

Blaise menggidikan bahunya, sepertinya tidak tahu juga. Aku tidak berani menatap Granger lagi. Lalu aku melirik Pansy sekarang, ia sedang mencoba memasukkan potongan roti kedalam mulutnya. Ya ampun.

Draco Malfoy and the Philosopher's Stone || DramioneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang