Chapter 3

435 51 15
                                        

ALL CHARACTERS BELONG TO J.K. ROWLING

THE PHILOSOPHER'S STONE
~CHAPTER THREE~


Aku berlari mengampiri Goyle yang memanggilku dari meja Slytherin di Aula Besar sambil tersenyum.

"Hey, Malfoy! Sendiri saja?" Crabbe mengulurkan tangannya.

Aku duduk dan menjabat tangan Crabbe dengan bingung, "yeah, Blaise mendapat detensi karena tidak menyelesaikan Esai yang kemarin. Dan kau tahu, Pansy akhir-akhir mulai bermain dengan perempuan, ya begitulah."

Aku cukup dekat dengan Blaise dan Pansy—padahal kami baru mengenal satu sama lain selama sebulan—, hingga kami memanggil nama depan masing-masing. Tapi aku masih merasa aneh dengan Crabbe serta Goyle. Apalagi Nott, ia memang aneh.

"Kau boleh mulai makan, kau tahu." kata Goyle sambil mengunyah ayam.

Aku menggeleng pelan, "aku menunggu Blaise, kau bisa duluan Goyle. Terima kasih."

Aku melihat sekitar, dan menemukan Hermione Granger yang sedang mengomel kepada kedua ajudannya. Tapi lihatlah perempuan itu, bukankah ia sangat manis?

Aku menggeleng pelan lalu menatap makanan di meja. Aku mulai memerhatikan Granger sejak tatapan mata kami bertemu sebulan yang lalu saat kelas pertama Tranfigurasi. Ada sesuatu yang aneh pada diriku saat menatap matanya. Dan, jangan panggil aku stalker.

Aku mohon kalian tidak memberitahu Blaise atau Pansy soal ini. Ya, kalian tahu sendiri mulut sirine Pansy seperti apa, kan?

Seseorang menepuk pundakku, aku tersenyum kearahnya, "kau lama sekali, Blaise" Aku mulai mengambil makanan.

"Mereka gila. Detensi nya terlalu berat untuk anak tahun pertama yang tidak menyelesaikan esai." Blaise memutar matanya lalu terkekeh.

"Maka kerjakan esai mu, kau tau Snape seperti apa" Aku mengambil piala berisi jus labu lalu meneguknya sekali, "kita sudah sebulan di Hogwarts ya."

Blaise memutar matanya lagi, "Aku tahu, kau murid kesayangan Snape."

Aku terkekeh pelan sambil mengangkat bahu, "kau tahu siapa aku."

Tiba-tiba, berpuluh-puluh burung hantu terbang melewati kepala kami, "Oh! Mail Time!" kata seseorang dengan riang.

Blaise menangkap kertas yang dilemparkan kepadanya, "Aku malah dikirimi koran oleh orang tuaku?" Ia terkekeh tak percaya.

Tak lama, aku melihat Eagle Owl milikku, Bubo-bubo. Aku menangkap surat yang terlempar ke arahku dan membukanya perlahan. Surat dari Mom dan Dad, menanyakan kabarku, sehebat apa Hogwarts, dan kekaguman mereka tentang Bubo. Aku terkekeh, aku merindukan keduanya!

"Draco, lihat!" Blaise menyenggolku cukup keras.

"Lihat apa? Wah! Blaise! Gambarnya bergerak!" Aku memukul lengannya senang.

Blaise memutar matanya, "Baca ini!"

"Seseorang membobol vault di Gringgots?" aku bertanya, bingung.

"Iya, baca lebih jelas!" Blaise berseru jengkel.

Kini giliranku memutar mataku, "Pembobolnya tidak mendapatkan apapun dari vault itu karena vaultnya sudah kosong?"

Blaise menangguk.

Aku memperhatikan gambar bergerak tersebut, sebentar. Aku kenal vault itu! Saat ke Gringgots dan Hagrid mengambil sesuatu dari sana yang katanya penting—urusan Hogwarts—.

Draco Malfoy and the Philosopher's Stone || DramioneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang