Bagian 2

73 5 0
                                    

Happy Reading
Jangan Lupa Vote ya! :)

Daun maple merah kekuningan jatuh ke atas buku yang berjudul "Aisyah" yang sedang terbuka.

Si pemilik buku mengambil daun tersebut, lalu menyelipkan ke dalam buku catatanya.

Dari arah berlawanan terlihat seorang perempuan bergamis hitam berjalan menuju si pemilik buku.

"Assalamualaikum.. Hafsari, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya perempuan bergamis hitam.

"Waalaikumsalam, ahh rupanya kau Tias. Kau mengagetkanku." Jawab Hafsari sembari menutup buku yang sedang ia baca.

"Saya tidak mermaksud mengagetkanmu Hafsari, jangan terlalu banyak melamun! Apalagi dibawah pohon besar seperti ini." Tutur Tias sambil bergidik ngeri.

"Hushh.. Kamu ini, makannya jangan terlalu banyak menonton acara seram!
Saya hanya sedang menikmati sejuknya udara Hamburg Tias, sebelum memasuki perkuliahan." Jawab Hafsari menerangkan.

Keduanya hanyut dalam pikirannya masing-masing.

Tias sedang memikirkan bagaimana cara menyampaikan amanat yang ditujukan untuk Hafsari.

"Hafsari...." Panggil Tias.

"Yaa ada apa sahabatku?" Timpal tias sembari menyunggingkan senyumnya.

"Kemarin aku berpapasan dengan Atma di stasiun, dia memintaku untuk menyampaikan amanat ini kepadamu." Ucap Tias pelan, ia tidak mau menyinggung perasaan sahabat baiknya itu.

Disebelahnya Hafsari menegang ketika mendengar nama itu disebut.

'Mau apa lagi dia?' Tanya Hafsari dalam hati.

Dengan hati-hati, Tias menggapai tangan kiri sahabatnya yang bebas.

"Ia memintaku untuk menyampaikan hal ini kepadamu Hafsa.." Tias menjeda kalimatnya.

"Atma ingin bertemu denganmu, nanti malam kalau kau bersedia datanglah ke restoran turki yang tak jauh dari wohnungmu." Sambung Tias.

Hafsari menatap sahabat baiknya itu dengan lembut lalu ia menghembuskan nafasnya pelan.

"Tolong sampaikan pada Atma, saya tidak bisa bertemu dengan pria yang tidak berhak untuk saya. Kecuali jika kau mau menemaniku Tias, aku akan mempertimbangkan ajakan itu."

Tias menjadi semakin tak enak hati.

"Maaf Hafsa bukannya aku tidak mau, tapi Atma berpesan bahwa ia hanya ingin berbicara berdua denganmu." Ucap Tias berterus terang.

"Kalau begitu, sampaikan padanya maaf saya tidak bisa menemuinya." Tutur Hafsa lembut tapi terdengar lugas dan tegas.

***

Di bagian sudut Hamburg yang lain, Manggala tengah membaca buku-buku kesehatan miliknya.

Sesekali ia menggaris bawahi tulisan yang ia rasa penting.

Sesudah makan siang nanti, Manggala berencana untuk menemui Pak Anwar di kediamannya yang tak jauh dari KBRI.

Tengah asik membaca, Manggala mendengar suara pintu wohnungnya diketuk. Ia bergegas menuju pintu dan melihat dari lubang kecil, ternyata itu Atmaja.

Dipenghujung PenantiankuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang