Bagian 7

40 5 1
                                    

Gemuruh suara tepuk tangan mengakhiri persentasi Manggala dan Hafsari.

Prof. Karwaki berjalan menghampiri keduanya, ia merasa puas karena telah mempercayakan penelitian ini pada mahasiswa asal negara yang kaya akan rempah-rempahnya itu.

Ia tidak salah mengira bahwa Manggala dan Hafsari akan 'menghajar' habis tema ini dengan sempurna dan menakjubkan. Rekan-rekannya memberikan ucapan selamat atas keberhasilan kedua mahasiswanya mengangkat tema ini dengan begitu tersusun dan sesuai fakta ilmiah.

"Selamat dan terimakasih Arsamanggala dan Hafsari. Sejak awal saya memang sudah yakin bahwa kalian akan mengerjakan penelitian ini dengan sungguh-sungguh. Terbukti dengan persentasi kalian siang ini, hampir semua audience memberikan standing applause. Kalian pantas untuk itu. Sekali lagi saya ucapkan selamat dan terimakasih karena sudah melakukan penelitian ini dengan luar biasa." Prof. Karwaki berkata jujur dengan mata yang berbinar menatap kedua mahasiswa di hadapannya takjub.

Sementara Hafsa merasa tegang karena baru saja Prof. Karwaki menyebut nama lengkapnya. Ia berharap semoga Manggala tidak menyadarinya.

"Sama-sama Prof. Saya juga ingin berterimakasih karena Prof. Sudah membimbibg kami selama beberapa bulan ini. Tanpa anda kami tidak akan bisa seperti sekarang ini." Tutur Manggala sopan di setiap kata yang ia ucapkan.

"Benar Prof. Tanpa bantuan dari anda, kami tidak akan bisa seperti sekarang ini. Saya ingin mengucapkan terimakasih karena sudah berkenan membimbing kami selama beberapa bulan terakhir." Ucap Hafsa.

"Semoga kalian tidak kapok jika di lain waktu saya meminta kalian untuk melakukan penelitian lagi. Dan saya hanya ingin memberi tahu saja mungkin akan banyak sekali tawaran untuk kalian setelah acara ini selesai." Tutup Prof. Muda itu mengakhiri pembicaraan dengan kedua mahasiswanya.

Prof. Karwaki pamit karena harus menemui rekannya, sementara itu Manggala dan Hafsari membereskan dokumen-dokumen yang tadi di gunakannya untuk persentasi.

Hafsa merasa lega karena Manggala tidak menyinggung soal nama lengkapnya. Ia hanya berharap semoga tadi Manggala tidak mendengarnya secara jelas. Namun itu hanya harapan Hafsari, kenyataannya Manggala mengingatnya.

"Jadi namamu Hafsari?" Tanya Manggala dingin.

Aktivitas Hafsa yang sedang memasukan dokumen kedalam tasnya mendadak berhenti. Jadi Manggala mendengarnya pikir Hafsari. Apa yang harus ia lakukan sekarang karena berbohong pun tidak mungkin rasanya. Hafsa tidak berani berbohong, alhasil bukannya menjawab ia hanya diam.

Terdengar jelas nada ketidak sukaan Manggala kala menanyakan nama lengkap Hafsa. Detik berikutnya Manggala kembali bersuara.

"Tidak usah terkejut seperti itu Hafsari, saya sudah mengetahui namamu jauh sebelum Prof. Karwaki memberikan tugas penelitian kepada kita. Saya hanya kecewa kenapa kamu tidak berbicara  jujur dari awal."

Kali ini suara Manggala tidak sedingin tadi, namun tersirat kekecewaan di setiap kalimatnya. Hafsa bingung harus berkata apa, ia lebih memilih untuk diam sampai akhirnya Manggala pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.

Sebulir air mata jatuh menetes, Hafsa patah. Ia merasa sakit diperlakukan demikian oleh Manggala. Namun Hafsa segera menyadarinya, bahwa Manggala berbuat seperti itu karena ulah dirinya yang tidak berkata jujur sedari awal.

                                    ***

Manggala melangkahkan kakinya tak tentu arah. Ia kecewa pada Hafsari yang tidak berkata jujur prihal identitasnya. Manggala memang mengetahui bahwa Sari yang iya kenal adalah Hafsari. Atma yang memberitahunya.

Flashback on

Manggala terlihat gusar, ia bingung memikirkan judul apa yang akan ia gunakan untuk penelitiannya bersama Sari. Di tengah kebingungannya, terdengar suara pintu wohnungnya di ketuk dari luar.

Ternyata itu Atmaja, Manggala mempersilahkannya masuk.

"Kenapa Manggala? Tampaknya kau sedang banyak pikiran. Oh yaa ini ku bawakan roti isi kacang, Anet sengaja membuatkannya untukmu." Ucap Atmaja.

Manggala membenarkan letak kacamata bacannya. Diraihnya roti isi kacang itu lalu menyuapkan ke dalam mulutnya.

"Sampaikan terimakasihku pada Anet, rotinya enak sekali. Kebetulan aku belum sempat makan siang." Tutur Manggala seraya menyimpan bolpen dari tangannya.

"Aku sedang bingung memikirkan judul yang pas dengan penelitianku. Apakah kau ada saran?" Sambung Manggala.

"Kenapa tidak kau diskusikan saja dengan rekan penelitianmu itu Manggala, oh ya kalau boleh tahu siapa namanya aku lupa lagi."

"Namanya Sari." Jawab Manggala singkat.

"Boleh aku tahu orangnya?"

"Jangan bilang kau mau menduakan Anet, Atma." Curiga Manggala.

"Astagfirullah, itu tidak akan pernah terjadi Manggala. Aku sudah berubah, cinta yang aku miliki hanya untuk Anet dan calon anakku saja." Kata Atma meyakinkan Manggala, ia tak habis pikir mengapa sahabatnya bisa berpikir demikian.

Manggala tertawa dibuatnya, ia berterimakasih pada Atma karena sudah membuatnya sedikit terhibur. Meski Atma merasa geram karena dirinya disamakan dengan lelaki penghibur, naudzubillah pikir Atma.

"Kasihan sahabatku, saya tidak ingin membuatmu penasaran. Ini ku perlihatkan photo Sari rekan sepenelitianku. Tapi ingat jangan berkedip ya Atma, nanti dosa!" Gelak tawa Manggala kembali terdengar, ia puas melihat wajah sahabatnya yang memerah karena candaanya.

Atma meraih handphone dari tangan Manggala, ia melihat sebuah kontak yang diberi nama Sari. Penasaran Atma membuka photonya, lama menunggu dan layar handphone menampilkan gambar seorang perempuan yang tak asing baginya. Atma menolehkan tatapannya pada Manggala, ia merasa tidak percaya ternyata benar dunia itu memang sempit.

"Manggala, Sari rekan penelitianmu adalah Hafsari. Perempuan yang pernah ku ceritakan padamu tempo hari." Kata Atma sambil menyerahkan Handphone itu pada sang empunya.

Flashback off

Selama beberapa bulan mereka melakukan penelitian, Manggala kira Hafsari akan berterus terang. Itu mengapa selama ini ia bersikap seolah tidak tahu, karena Manggala menganggap Hafsa akan jujur padanya. Namun sampai detik ini, sampai persentasi penelitian keduanya berakhir Hafsari tidak berkata apa pun.

Tapi tunggu dulu, untuk apa Manggala merasa kecewa? Toh Hafsari juga bukan siapa-siapa pikirnya. Mungkin Manggala kecewa karena selama ini Hafsa tidak berkata jujur padanya. Ya Manggala kecewa karena ia kurang menyukai orang yang tidak jujur.

                                  ***

TBC

Dipenghujung PenantiankuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang