Bab 6. Ekspresi Langka Virgo

56 7 6
                                        

Mata jernih Gweny membulat seketika; sementara kakak tunggalnya yang belum ada satu hari di rumah cengengesan tanpa dosa.

"Kak, cowok tuh yang dipegang ucapannya, lho!" Gadis itu menarik ujung lengan kaus cowok berusia dua puluh dua tahun yang baru saja membalikkan badan dan siap melangkah keluar dari ruang makan.

"Kakak bukan tanpa alasan enggak jadi nganterin lo, Gwen." Noel melirik ke kiri di mana Gweny berdiri.

Gweny bungkam sejenak sambil memicing ke arah kakaknya. Ia memperhatikan raut wajah di hadapannya yang terlihat mencurigakan karena tidak membalas tatapannya dan mengulum senyum ganjil. "Apa alasan Ka—Astaga! Jangan bilang ... ada temen gue di depan?!" Ia seketika ingat bagaimana dirinya pulang kemarin.

Noel mengendikkan bahu dan menatapnya penuh arti. Masih dengan mempertahankan senyum itu. Kemudian, ia mulai menggerakkan kaki menuju kamarnya di lantai dua. Meninggalkan Gweny yang tengah melirik Tatyana dan Mila untuk memastikan kedua wanita tersebut tidak mengerti apa yang ia dan Noel bicarakan. Namun, Gweny yakin itu impossible.

Gweny nyengir kuda ke arah mereka yang tengah menatapnya penuh tuntut karena ingin tahu lebih. Ia segera menyambar tas ranselnya yang tersampir di sandaran kursi makan, lalu menyalami Tatyana dan Mila.

"Eyang Putri, Ma, Gweny berangkat dulu. Assalamu'alaikum?" pamitnya sambil balik badan.

Dan benar saja. Ketika dirinya menginjak halaman depan, seseorang yang tadi terlintas di benaknya terlihat. Cowok itu berdiri memunggunginya di depan gerbang sambil menyampirkan tas ransel di bahu kiri. Gweny meniup poninya, lalu berjalan menghampiri.

"Tumben lo enggak bawa motor?"

Pertanyaan tersebut memutuskan lamunan Virgo. Ia membalikkan badan dan melihat Gweny sedang melirik mobil Jazz putih miliknya.

"Bisa enggak, sih, lo nyapa dulu?" protesnya.

"Kelamaan," sahut Gweny. Ia kemudian masuk ke mobil dan duduk di jok samping kemudi.

Baru satu menit jalan, Gweny melirik Virgo yang tengah membelokkan mobil ke kiri setelah melewati gerbang perumahannya. Ia mengernyitkan dahi dan sedikit manyun.

"Lewat jalan raya macet, tau?" Gweny mengeluarkan unek-uneknya.

Ini alasannya—selain alasan ia tidak boleh mengendarai motor—lebih memilih menggunakan sepeda dan melewati jalan tikus daripada harus diantar oleh mamanya menggunakan mobil.

"Bawel lo! Udah untung gue jemput juga," gerutu Virgo dengan tatapan yang sudah fokus ke jalan raya.

"Emangnya, gue minta?" sahut Gweny tidak ingin kalah.

Cowok itu menghela napas, lalu berkata, "Lo itu ngeselin, ya? Seenggaknya, bilang 'terima kasih' kek udah gue jemput dengan cuma-cuma. Lo tau enggak—"

Gweny buru-buru memotong ucapan Virgo. "Belum tuh! Orang lo belum cerita apa-apa dan langsung nanya 'lo tau enggak?'. Ya, mana gue bisa tau?"

Virgo menoleh dan mendesis sesaat dengan memasang wajah sebal ke arah Gweny yang tengah menatap lurus ke depan. "Lo itu—"

Lagi-lagi gadis berkuncir kuda itu memotong ucapannya. Ia menoleh dan berkata, "Apa? Lo mau protes?"

Virgo memilih tidak menanggapinya karena bersiap untuk membelokkan mobil ke kiri—gang sekolah mereka. Setelah menempuh sekitar tiga ratus meter dari perempatan tadi, mereka tiba di gerbang sekolah. Mobil Virgo tiba hampir bersamaan dengan mobil yang membawa Sheila di kursi penumpang.

Di parkiran, Gweny akan segera turun setelah mengucapkan terima kasih. Namun, Virgo menarik lengan kanan blazer merah hati berlogo sekolah mereka. Hal itu membuat Gweny menghentikan aktivitas tangannya yang sudah memegang handle pintu mobil.

Our TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang