I think this is an easy listening song. Happy reading and playing the video.
***
Seorang gadis setinggi 161 centimeter sedang mondar-mandir di kamarnya. Kedua ujung telunjuknya saling mengetuk. Sementara itu, pikirannya berputar pada kejadian tadi siang ketika di ruang praktik kimia. Ia melirik jam dinding berwarna putih kuning yang tergantung di dinding atas meja belajarnya. Kedua jarumnya sudah menunjukkan angka sembilan, tetapi notif WhatsApp yang ditunggu-tunggunya belum juga muncul.
"Udah tiga jam gue chat, tapi cowok itu belum baca juga. Padahal jelas-jelas on line, hah!" gumamnya sembari berjalan menuju kursi belajar.
Ia akhirnya memutuskan untuk menelepon seseorang yang mungkin saja bisa membantunya keluar dari segala macam pikiran tersebut. Teleponnya mendapat feedback positif di dering keempat.
"Assalamu'alaikum, Dev?"
"Wa'alaikumsalam. Kenapa telepon?" sahut cowok tersebut.
"Hah! Udah gue juga," gumamnya yang terdengar jelas oleh Devan yang sudah selesai chat-an dengan Pak Suwandi dua menit lalu.
Untuk kesekian kalinya, pikiran Gweny melayang tentang Devan yang terlalu to the point dan irit bicara. Membuatnya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana cowok seperti itu bisa mendapatkan seorang kekasih? Seperti apa tipe cewek yang diinginkan oleh seorang Devan? Akan bagaimana sikap Devan ketika menjalin hubungan cinta?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat Gweny terseret ke sebuah lubang penasaran. Bahkan ia sampai membayangkannya terkadang. Hampir satu menit dirinya menganggurkan sambungan telepon hingga suara di seberang sana menyentak kesadarannya.
"Gwen?"
"Ah, iya!" Ia segera menegakkan punggung, lalu berdeham sebelum kembali bersuara, "Maaf, ya, gue abis ngelamun dikit."
"Oke, jadi ...?"
"Eumm, Dev ...." Gweny menggantungkan kalimatnya untuk berpikir beberapa saat tentang apa yang ingin dikatakannya lebih dulu. Telunjuk kirinya mengetuk-ngetuk meja belajar, lalu berhenti di ketukan kelima. "Pas tadi di ruang praktik kimia, apa lo juga denger yang gue omongin ke Virgo?"
Untuk saat ini, rasa penasaran terbesarnya adalah sikap Virgo yang tiba-tiba tidak bersahabat. Alasan inilah yang membuatnya bertanya pada Devan saat ini.
"Oh, yang soal mainin perasaan cewek?" jawab Devan datar.
"Gotcha!" Gweny menjentikkan jari refleks. Dengan wajah serius, ia berkata, "Gue ngerasa Virgo jadi kesel, soalnya langsung pergi gitu aja. Dan yang perlu lo tau ... chat gue belum dibalas sejak tiga jam lalu."
Devan terkekeh, lalu berdeham. "Lo belum kenal Virgo. Dia itu emang males kalau suruh balas chat, tapi ngoceh-ngoceh giliran chat dia lama dibalasnya," terangnya sambil mengulum senyum tipis.
"Ooh, gitu .... Gue seketika jadi mikir, apa mantan-mantannya enggak gatel buat ngocehin dia karena kebiasaannya itu? Hah!" Gweny menghela napas memikirkannya. Ia kemudian tertegun ketika sadar bahwa Devan telah berbicara melampaui kategori irit.
Cowok di seberang sana kembali terkekeh."Lo kebanyakan mikir," tukasnya.
"Yaa ... abisnya, otak gue auto mikir gitu," celetuknya.
"Sekarang, lo udah tau, kan?"
"Lo udah mau nutup teleponnya, ya?" Gweny masih perlu bertanya satu hal lagi padanya.
"Emangnya ...."
"Kasih tau gue alasan Virgo jadi playboy gitu dong! Sheila nangis-nangis ke Franda, tau?" Gweny ingat cerita Franda selepas Maghrib tadi. Mereka berdua jadi merasa semakin kasihan pada gadis tersebut. Membuatnya semakin membulatkan niat untuk menghapus sifat negatif Virgo yang satu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Time
Fiksi RemajaKesabaran Gweny habis hanya karena satu orang di kelasnya, yaitu Virgo. Banyak teman-teman Gweny yang menjadi korban ke-playboy-an Virgo. Sebagai pribadi yang memiliki empati tinggi dan tanggung jawab sebagai ketua kelas, Gweny tidak bisa diam saja...
