Bab 8. Gweny dan Masa Lalu Virgo

82 8 4
                                        

"Hih!" Gweny membalas dengan tatapan tajam; sementara Franda menahan kekehan. Ia sungguh tahu kalimat seperti itu akan keluar dari mulut cowok yang hampir seminggu ini melajang. Meskipun demikian, dirinya tetap gatal ingin menyahut permintaan Virgo tadi.

Sebelum melangkah untuk membeli mie rebus, Virgo mengeluarkan benda lentur milik Gweny yang diambilnya tadi pagi. Ia memegang tangan Gweny yang siap menyendok kuah. Membuat gadis itu mendongak ke arahnya.

"Mau bikin rambut celup bakso, lo?" tanyanya ketus. Ia kemudian meletakkan benda tersebut di antara mangkuk Gweny dan Franda. "Pakai ini dulu!"

Seorang gadis penyuka ungu tersedak mendengarnya. Ia membulatkan mata sempurna dan menatap Gweny heran beberapa detik sebelum beralih ke punggung cowok di belakangnya.

"Waah, Gwen!" Franda hampir berteriak lantang.

Gweny mendesis dan memperingatkan untuk tidak heboh lewat matanya. "Gue tau apa yang lo pikirin, ya? Jadi, enggak usah ngomong!"

Franda tertawa lirih mendengarnya, lalu sedikit memajukan badan. "Tapi gue pengin tetep ngomong kalau Virgo kayaknya suka sama rambut lo."

Gweny hanya menutup mulut rapat dan menatapnya sesaat. Dirinya gemas dan ingin tertawa menadari tebakannya terucap. Namun, ia takut akan menyindir Franda yang hatinya seluas daun kelor. Sahabatnya itu tidak suka ditertawakan sembarangan. Kemudian, ia memutuskan untuk menyantap makanannya saja.

Tidak lama setelahnya, seorang cowok pemimpin rapat siang nanti menempati kursi di sisi kiri Gweny. Ia membawa semangkuk makanan kesukaannya dan segelas es teh. Tanpa basa-basi, dirinya mengambil pelengkap makan yang tersedia di meja untuk dicampur ke mie ayam.

"Dev, cerita sekarang dong!" pinta Gweny berbisik setelah makanan di dalam mulutnya kosong.

"Nanti," sahut cowok itu cuek, lalu melahap suapan pertamanya.

Gweny melirik sepersekian detik ke arah Franda yang terlihat tidak tertarik dan tetap fokus makan. Padahal ia yakin gadis itu tetap bisa mendengarnya. "Keburu Virgo datang, Dev."

Devan menghentikan gerak tangannya, lalu menoleh ke arah Gweny. Kepala Gweny sedikit condong ke kiri dan membuatnya menahan napas tiga detik. Menatap mata bening gadis itu juga membekukan seluruh ototnya.

Cowok itu berdeham, lalu berkata, "Ceritanya panjang."

Gweny bergeming dan meneliti raut wajah Devan yang menurutnya sedikit berubah. Ia pun menyeringai jail setelah tahu jawabannya. "Lo ...."

"Apa?"

"Gugup, ya?" Gweny melanjutkan kalimatnya sambil memicing.

Belum sempat Devan menjawab, sebuah tangan dengan jari merenggang hinggap di wajah bersihnya. Disusul suara seseorang yang sangat dikenalnya.

"Hati-hati, jaga jarak kalau enggak mau celaka!" ucap orang tersebut. Ia sedikit mendorong wajah Devan ke belakang. Membuat cowok itu mengangkat tangan kanan untuk menepis; sementara Franda dan Gweny menoleh ke arahnya.

"Resek lo!" umpat Devan setelah wajahnya terbebas dari tangan Virgo.

Virgo duduk di kursi kiri Franda dengan santai. Seolah ia tidak melakukan apa-apa pada sahabatnya.

Franda kembali menikmati makanannya, sedangkan Gweny memanyunkan bibir dan menggerutu dalam hati. Ia sudah sangat penasaran apa yang akan disampaikan Devan. Eh, cowok menyebalkan itu justru datang di saat yang tidak tepat!

"Dev, pokoknya setelah ini, lo harus ngasih tau ke gue!" Gweny berbisik tepat di telinga Devan. Ia juga mengangkat tangan kanan untuk menutupi gerak bibirnya.

Our TimeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang