Terlihat langit yang jingga
Saat waktu mencoba menelan senja
Saat matahari mulai berkhianat
Karena sinarnya tak akan lagi memberi hangat
Sama seperti dia
Saat waktu telah memberi usia
Pada setiap cerita yang terajut dengan mesra
Yang berikutnya kau bumbui dengan dusta
Apa hati begitu tak berharga?
Apa bibirmu sudah terbiasa dengan dusta?
Kau tahu?
Diri ini sudah percaya pada sebuah bisikan dusta
Saat senja menjanjikan malam indah berbintang
Sampai malam datang dan awan kelam menutup benderang
Kau tahu?
Diri ini pernah tersayat luka
Dan percaya bahwa cintamu akan menaburkan obatnya
Sampai perih itu yang terasa
Sebab yang kau tabur adalah garam ke dalamnya
Perih
Dan mungkin tak akan bisa lagi terobati
Tidak olehmu, pendusta
KAMU SEDANG MEMBACA
Daisuki
RandomEntahlah hanya berisi puisi cerpen yang tak berarti Ini bukan apa apa, hanya beben hidup yang tak dapat ditanggung sendiri.
