Malam yang sunyi di sebuah desa, Saat itu warga desa sedang berkumpul di aula desa untuk menyaksikan pertunjukan seni. Sementara rumah-rumah dibiarkan kosong, atau jikapun ada orang dirumah. Pasti hanya ibu- ibu dengan anaknya yang masih kecil, atau para lansia yang sudah tidak mungkin untuk berjalan jauh.
Dan satu- satunya pemuda yang tetap tinggal di rumah adalah Ernand, dia bukanlah warga asli desa ini. Ernand hanya ikut ayahnya berkunjung kesalah satu cabang pabrik miliknya di desa ini.
Karna jaraknya yang cukup jauh dari rumah, mereka memutuskan untuk tinggal disana semalam. Tapi ternyata dia malah mendapatkan kejutan ditempat ini. Sekelompok perampok yang sudah menunggu hari ini, beraksi selepas magrib. Dengan beranggotakan 7 orang mereka beraksi memakai pakaian serba hitam dan wajah tertutup selembar kain merah.
Gosipnya kelompok perampok ini memang sudah sering menjarah rumah- rumah warga yang kaya. Mereka cukup berbahaya karna membawa senjata tajam, tak ada satu orangpun yang berani. Mereka lebih memilih sembunyi jika memergoki komplotan penjahat ini dari pada berteriak dan tertangkap.
Tapi Ernand tidak tau akan hal itu. yang dia tau, mencuri itu merupakan tindakan kriminal, dan bertarung adalah hal biasa. Didekat rumah juga sering ada maling, dan Ernandlah yang membuat sekitar rumahnya aman karna semua maling tak sanggup melawan kenekatan Ernand.
Dan kali inipun, jiwa kepahlawanannya muncul saat melihat dua diantara mereka sedang menjarah barang barang dari rumah disebelah tempat tinggalnya yang sedang kosong. Ernad segera menyergap salah satunya dan memukulinya sampai babak belur. Tapi dia tidak tau apa yang sedang menunggunya di sini.
5 orang lainnya muncul dengan senjata masing masing, sebuah belati. Sesaat Ernan tersentak kaget. Tapi semuanya sudah terlanjur dan dia tidak punya pilihan lain selain menghadapinya, dengan tangan kosong.
Sebenarnya dia pernah menghadapu orang yang bersenjata, tapi tidak sebanyak ini. Rasanya bakal sulit dan merepotkan harus melawan enam orang bersenjata secara sekaligus.
"Hyaaaa!"
Mereka maju bersamaan dengan pisau terangkat, siap untuk menusuknya. Tapi Ernan juga sudah siap untuk menepisnya mulai dari yang lari paling depan Er (Ernand) menangkap tangan seseorang yang terlihat agak gemuk dengan tangan kanan dan memelintirnya, sementara kaki kanannya menendang seorang yg pakai kacamata hitam sampai jatuh, tangan kirinya menyambret lengan baju yang paling pendek.
Sementara sikacamata jatuh yang tampak bermata indah menyerbunya dari belakang hendak menusuknya dan dua lagi menyerabg dari depan. Er segera melepaskan dua orang yang di peganginya dan meraih salah satu yang menikamnya dari depan, memegang kedua tangannya dan menggerakkannya searah jarum jam sehingga mengenain seorang didepan dan simata indah yang berada dibelakanggya lalu melempar orang itu. Sementara tiga lainnya sudah kembali berdiri, hanya saja si yang aga gemuk sudah kehilangan belatinya.
Tangan itu bergerak cepat merampas salah satu belati dan membalikannya, menendang sigendut dan menodongkan pisau ke sikacamata. Sikacamata tak mau kalah, mereka saling berusaha menikam sementara dua orang telah bangkit kembali dan membantunya. Er mulai mengeluarkan amukannya, sebuah jurus yang dia pelajari diperguruan silat sejak kecil.
Satu persatu perampok itu ko dan menyisakan simata indah yang terlihat ketakutan, Ernand menyadari hal itu dan segera menarik tangan orang itu dan memeganginya, menepis belatinya sampai jatuh dan Bermaksud untuk membantingnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tapi fokusnya segera terpecah saat melihat kelima perampok itu kabur bersama satu lagi yang sudah ko sejak tadi, meninggalkan simata indah yang sedang dalam bahaya besar.
"Goblog!"
Simata indah menggeram meneriaki teman temannya yang keparat itu, sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman Ernan.
"Siapa suru berteman sama penjahat."
Ernand menarik penutup kepala simata indah dan membuat rambut panjangnya terjuntai. Sesaat Er terkejut saat sadar kalau sejak tadi ternyata dia berkelahi dengan seorang gadis dan Er pun segera melepaskannya.
"Tobat ... tobat ... ya Allah."
Er memukuli kepalanta sendiri, Simata indah itu terjatuh ketanah dan masih ketakutan, tangannya meraih belati yang tadi jatuh tanpa Ernand menyadari itu.
Er mendekatinya dan berlutut di hadapannya, mencoba memerhatikan wajah yang masih tertutup kain merah itu dan menjambretnya. Tapi tak berhasil, karna dia cukup lincah untuk menikam Er dan menusukan belati itu didada Ernan lalu mencabutnya, berusaha untuk kabur tapi Ernand memegangi tangan kiri orang itu. Sekilas Dia melihat sebuah tanda bekas sayatan pisau dipergelangan tangan orang itu.
Sampai untuk kedua kalinya orang itu menusuknya lagi di dada dan membuatnya memuncratkan darah dari mulutnya hingga mengenai wajah perampok bermata indah itu. Dan sesaat kemudian, dia sudah tak melihat apapun lagi, semuanya hanya gelap.
Dan genggamannya melemah, memudahkan perampok itu untuk kabur dengan wajah yang bersiratan darah dari mulut Er, dan setiap tetes air mata yang jatuh karna penyesalannya. Dia meratapi kematian korbannya (Er) tapi juga enggan untuk kembali karna tak mau sampai dibawa ke kantor polisi, ini kali pertama dia menikam seseorang dan dia merasa menyesal.
Senentara jasat Er masih tergeletak ditanah dengan mulut dan dada yang bersimbah darah. Sampai gerombolan warga pulang dari acara pertunjukan seni dan melihatnya tergeletak disana.
"Eh ... orang orang orang!"
Mereka terkejut dan berkerumun melihat ada orang yang berlumuran darah di sana dengan beberapa barang jarahan yang tak sempat terbawa oleh para perampok keji itu.
"Ini pasti ulah perampok itu."
"Tapi anak ini siapa?"
(TBC)
*** Tidak ada puisi di part ini, ini cerpen biasa yang bersambung. Kelanjutannya bisa kalian baca di part berikutnya "Pengalaman berharga II".
Semoga suka dan jangan lupa tinggalkan vote dan comennya