Munafik, itu terus berada di pikiran Arkan. Ego telah menguasainya waktu itu, padahal dia tidak merasa terganggu ketika orang itu memandangnya bahkan jantungnya berpacu setengah kali lebih cepat dari biasanya.
Entah keberani dari mana hingga dia menarik tangan gadis itu dan membawanya ke atas gedung lalu meminta gadis itu menjauhinya.
Bodoh.
Merasa benar apa yang di lakukannya, ternyata tidak berakhir disitu. Arkan merasa setiap harinya ada yang kurang padanya, tatapan itu sudah menjadi konsumsinya setiap hari.
Sampai gadis itu tak terlihat lagi, dan sudah meninggalkan pekerjaannya. Arkan kalang kabut mencari gadis itu. Tugasnya pun banyak terbengkalai kalau tidak Cakra teman seperjuangannya itu memberikannya siraman rohani untuk segera mengerjakan tugas agar cepat selesai dari masa perkuliahan ini.
Arkan kembali pada aktifitas normalnya berkutat dengan tugas tugas kebetulan mesin printnya sedang rusak waktu itu, maka Arkan meminta Cakra untuk mengantarnya ke tempat percetakan.
Entah nasib atau takdir, Arkan bertemu dengan gadis itu, rasa senang membuncah namun semua tertutupi dengan wajah datar yang melekat di wajah Arkan.
Mencuri pandang pada gadis itu, ternyata memacu jantungnya, apa semua ini.
Arkan bukan orang bodoh yang tak tahu apa maksud dari reaksi fisiknya itu.
-----
Lian duduk di kelas yang berbeda dengan teman teman yang sama, Nabila, Mark dan lainnya.
Mempelajari tentang program yang masih belum selesai di bahas.
"Lian." Panggil Nabila saat pelajaran berakhir.
"Kenapa Nab ?" Lian mengangkat tas ransel kecilnya yang isinya hanyalah 2 buah buku jurnal dan charger Hp.
"Makan pancake yuk." Ajak Nabila sambil memperlihatkan foto pancake pada Lian.
"Yaudah sih, tapi gue harus balik kerja, Nab. Minggu dah gue traktir." Kata Lian lalu berpamitan pada temannya itu.
Gadis itu berjalan ketempat kerjanya sambil mendengarkan musik.
"Nanti malam temenin gue." Bahu Lian di sentuh dengan tangan yang sama dengan beberapa hati lalu.
"Kaget tau." Lian menepis tangan Arkan, lalu melepaskan headseat yang menyumpal telinganya tadi.
"Nanti malam, gue jemput." Ucap Arkan lalu meninggalkan gadis itu yang melewati gedung arsitektur.
Tidak ada gosip yang menyebar tentang hubungan mereka, yang ada hanyalah cerita tentang kedekatan Arkan dengan teman sekelasnya, Rila.
Lian tidak memusingkan soal itu, ya walaupun belum percaya sepenuhnya dengan Arkan tapi Lian mencoba menjalani hubungan ini like a water yang mengalir.
Seperti kata Arkan tadi siang, gadis berlensa hitam pekat itu kini sedang menunggu Arkan di halte bus dekat tempat tinggalnya.
Hanya menunggu 5 menit, batang hidung Arkan sudah kelihatan dengan motor Vario 250 cc berwarna putih dengan helm hitam yang nyangkut di kepalanya.
"Cepet naik." Ujar Arkan. Gadis bernama Lian itu pun langsung saja duduk di belakang Arkan.
"Mau kemana sih ?" Gadis itu bertanya tepat setelah motor yang Arkan kendarai melaju.
"Cari alat gambar. Penggaris udah patah semua." Ucap Arkan.
"Oh."
Mereka melaju tanpa banyak mengeluarkan suara, hanya suara motor dan suara motor orang lain yang terdengar.
"Kak." Panggil Lian.
"Gue bukan kakak lo, kayaknya." Balas Arkan.
"Terus gue manggilnya apa ?" Lian turun dari motor Arkan setelah dirasanya sampai di tempat yang Arkan inginkan.
"Sayang, enggak. Panggil nama aja." Kata Arkan lalu melepaskan helmnya lalu berjalan mendahului Lian.
"Penggaris segitiga, masih pake ?" Lian menatap Arkan yang sedang melihat lihat penggaris.
"Ya emang, kalau gak pake mau pake apa." Arkan masih mencari penggaris yang tepat.
"Arkan..." Jeda sejenak.
"Kok gue gak enak ngomongnya ya." Lanjut Lian.
"Apa ?"
"Gue harus ke tempat kerja, soalnya temen gue minta di gantiin, neneknya sakit." Lian menatap Sehun penuh harap.
"Yaudah, gue belinya besok aja. Gue anterin lo."
Lian dan Arkan tiba di caffe tempat Lian bekerja, gadis itu ingin berpamitan untuk ke dalam, Arkan hanya menatap punggung gadis yang berjalan terburu buru itu.
Pintu terbuka dan seorang pembeli masuk, Lian dengan cepat menghampirinya.
"Mau pesen apa, masnya." Lian telah siap berdiri dengan note kecil di tangannya.
"Gue mau latte aja." Katanya, Lian memperhatikan orang itu.
"Loh, kok belum pulang ?" Lian menanyai orang itu.
"Ya karena gue belom mau pulang." Jawabnya enteng.
"Mau nungguin aku pulang ?" Lian masih setia berdiri di samping Arkan.
"Enggak, password wifi nya apa ?" Sedikit kecewa di hati Lian ternyata wifi gratis lebih berharga di bandingkan dirinya.
"Sini." Lian menarik paksa ponsel Arkan dengan kesal mengetik password yang diinginkan Arkan.
"Latte kan, tunggu sebentar." Lian berjalan meninggalkan Arkan yang telah sibuk dengan ponselnya.
Gadis itu memberikan Arkan latte yang diinginkannya.
Gadis itu kembali pada pekerjaannya, pelanggan tidak seramai biasanya, gadis itu bisa memanfaatkan waktu senggang untuk beristirahat.
Smartphonenya berdering menampilkan sebuah nama.
"Kenapa Nab ?" Ya panggilan itu berasal dari teman sekelasnya.
"Kan gue bilang minggu. Terus sekarang gue udah balok kerja gantiin orang ?" Ya Nabila menanyakan perjanjian mereka tadi siang.
"Bagus deh, kalau lo sendiri jadi apa lo di sana, udah gue bilang minggu juga, lu aja gak ngeh dari tadi." Panggilan terputus.
Lian berjalan keluar dari tempat kerjanya yang memang sudah waktunya untuk tutup, dan dia rasa Arkan sudah pamit untuk pulang duluan tadi.
Awalnya gadis itu tenang seperti biasa namun apa, kali ini perasaannya sangat tidak enak, suara derap langkah di belakangnya.
Gadis itu mempercepat langkahnya sedikit berlari pada tempat sepi.
Gadis itu mematung saat tangannya digenggam oleh seseorang.
"Kenapa lari, dari tadi gue panggilin." Entah apa yang harus di perbuat gadis itu, marah atau lega. Dia Arkan.
Satu pukulan mendarat di lengan Arkan.
"Bikin takut tau."
"Ngapain sih lari lari, katanya udah biasa pulang sendirian, kenapa takut." Nada Arkan memang biasa tapi siapa yang tau kalau ternyata dia sedang mengejek gadis itu.
"Ya, lo sih ngikutin gue." Kata gadis itu.
Arkan menarik Lian untuk bersembunyi, rasanya ada seseorang yang melewati mereka dengan gerakan mencurigakan.
Tangan Arkan menutup mulut gadisnya itu.
Mereka melihat seseorang dengan pakaian serba hitam, masker dan juga topi hitam berhenti di sekitar mereka.
Lian menatap Arkan tak percaya apa yang di lihatnya.
Arkan meletakan telunjuknya di mulutnya, tanda untuk jangan berisik.
Setelah dirasa aman mereka kembali pada tempat yang lebih terang.
"Siapa dia ?" Lian mengatur napasnya.
"Gue gak tau, gue anter pulang ayo." Arkan mengeratkan genggamannya di sela sela jari sang gadis.
Entahlah situasi apa ini, Lian bingung harus takut tapi dia juga senang dengan kelakuan Arkan.
"Kalau bisa minta ganti sift jadi siang aja." Tambah Arkan saat di jalan.
"Mana bisa, kalau mau aku aman ya temenin." Canda Lian.
"Hidup gue gak cuma ngurusin lo." Jawab Arkan, gadis itu sontak melepaskan genggaman tangan Arkan.
"Udah sampe."
ㅍㅍㅍㅍ
KAMU SEDANG MEMBACA
Student Architecture (Complate) ✅
Teen Fictionaku tidak mengenalnya. aku tidak tahu namanya. aku tidak tahu dari mana dia berasal. kenapa aku menyukainya?
