Arkan menatap hamparan padang rumput di hadapannya, setelah mengisi acara tadi Cakra mengajaknya ke suatu tempat, kebetulan ini kota ini adalah kampung halaman Cakra, sekalian membawa Brian yang juga orang kota, jarang melihat pemandangan hijau menyegarkan seperti ini.
"Woy, Cakra fotoin gue dong." Brian mencari background yang bagus untuk dirinya.
"Yaelah, Bri. Ngaku anak kota, liat begini aja udah 25 kali take foto."
"Justru karena gue orang kota, gue gak pernah liat beginian."
Arkan menikmati semilir angin yang menyejukan, rasanya ingin berlama lama disini, bila saja waktu tak menyadarkannya disini dia bukan untuk berlibur dia hanya akan menyelesaikan event lalu kembali ke kos nya.
Lian sedari tadi memandangi smartphone miliknya tak ada tanda tanda akan pesan masuk.
Pikirannya melayang entah kemana, apa yang pacarnya itu kerjakan, bersama siapa dan apa dia baik baik saja. Baru di tinggal 2 hari Lian sudah merasa kesepian.
Lian menekan tombol nomor 2 menelepon Arkan adalah satu satunya jalan.
Senyum gadis itu tercipta kala mendapat jawaban dari sang kekasih.
"Halo."
"Kenapa ?"
"Mau ngomong aja sama kamu." Lian terkekeh dengan kelakuannya sendiri.
"Kangen kan lo."
"Eh, Ka. Acaranya kenapa lama banget sih." Lian mengalihkan topik pembicaraan.
"Jadwalnya begitu."
"Lo ngapain, Ka ?"
"Baru selesai makan sama panitia."
Lian melirik jam yang ada di tangannya, menunjukan pukul 3 sore.
"Makan siang, lo nanti sakit gimana, Ka. Siapa yang ngurusin lo nanti." Omel Lian.
"Bawel banget sih, yang makan jam 3 kan rame bukan gue doang."
"Ya gue kan gak mau lo sakit." Kesal Lian.
"Iya aku gak sakit."
Lian tersentak dengan ucapan Arkan yang luar biasa lembut, jarang sekali Lian mendapatkan hal semacam itu dari Arkan.
"Kayaknya tanda tanda lo mau sakit deh, Ka." Lian kembali terkekeh dengan ucapan Arkan.
"Enak aja lo. Yaudah gue mau persiapan lagi."
"Iya udah deh. Jangan lupa hubungi gue. Setidaknya bilang lo sehat aja."
"Iya, jangan deket deket sama cowo lain lo."
Wah wah seorang Arkan benarkah dia bilang begitu, Lian tersenyum kala sambungan telponnya terputus.
Apa iya Arkan-nya seperti itu, bukannya Arkan adalah laki laki paling galak yang pernah Lian temui bahkan dia bertindak menolak Lian waktu itu.
---
Lian sendiri di halte bus, membiarkan bus bus berjalan tanpa membawanya, hanya malas pulang saja.
"Iya hallo, mas Will." Lian menerima sebuah panggilan dari kakaknya.
"Gue mau ke tempat lo, tapi gue gatau jalan." Kata Willis to the point.
"Yaudah mas datang aja, ntar gue jemput dah." Balas Lian yang bergerak menaiki bus terakhir malam ini.
"Awas lo gak jemput gue ya, gue gak mau jadi gembel di sana." Willis mewanti adiknya.
"Iya mas, lo tenang aja. Gue udah sampe di sana begitu lo sampe bandara." Ujar Lian sembari mendudukan dirinya di kursi paling belakang.
"Oke deh."
"Eh mas, jangan lupa bawain barang barang gue ya, ntar gue kirim apa aja yang harus lo bawa." Tambah Lian.
"Iya."
Sambungan nirkabel itu terputus, dan Lian dalam sepi lagi sudah terbiasa dengan sunyi hanya saja seorang di sampingnya terus menyenggol Lian.
"Maaf." Katanya saat Lian terlihat kesal dengan orang di sebelahnya.
"Nama kamu siapa ?" Laki laki di samping Lian mengulurkan tangannya.
"Aku Miko." Katanya.
"Lian." Singkat, Lian dapat melihat laki laki tampan dengan taring yang sepertinya kelebihan kalsium itu, manis saat dia tersenyum.
"Boleh akrab kan." Katanya lagi.
Lian terlihat tak nyaman tapi berusaha tenang, "gue dari tadi sore liat lo duduk di halte sampe malem. Ngapain emang." Miko mengakrabkan dirinya.
"Enggak, gue iseng aja." Kata Lian tapi matanya melihat keluar.
"Lu anak informatika ya, gue anak teknik mesin, kita di kampus yang sama." Ujar Miko.
Lian mengangguk lalu tersenyum.
888
"Ngapain lo sendirian di belakang, Ar." Cakra menghampiri teman sekosnya yang sedang menatap langit dengan ayunan kain yang dibuat mahasiswa lainnya untuk istirahat dekat lokasi acara.
"Enggak, suntuk aja gue. Acaranya udah 4 hari gue bosen. Lagian yang MC gantian si Lala kan, gue jadi mau istirahat aja." Arkan memejamkan matanya menghindari sinar matahari yang tak sengaja menyorotinya.
"Iya, lo kan bisa cuci mata. Kan banyak noh anak anak kampus lain, mana tau ada yang nyangkut, minimal cuci mata lah." Cakra meminum air bersoda berwarna merah dari botol bening itu.
Sedangkan Arkan hanya diam, tak mau menanggapi Cakra.
"Oh iya, ada noh Naira dari kampus Bandung, nanyai lo mulu dari tadi, dia panitia dari sana." Cakra kemudian duduk di ayunan yang Arkan sedang tiduri sehingga kakinya harus menekuk.
"Cantik banget anaknya, Lian mah kalah." Setelah mengucapkan kata tadi Cakra sukses mendapatkan tendangan kecil dari Arkan.
"Baru tau rasanya rindu ya, Aa Arkan." Kali ini Brianlah yang menghampiri mereka.
"Apaan lo, Bri. Lebay amat." Sangkal Arkan.
"Oh jadinya, MC kita galau karena kangen sama cewenya pantesan si Lala yang maju." Ternyata Cakra baru mengerti pokok permasalahan teman sekamarnya itu.
"Berisik."
"Eh, Naira mau kemana lu." Cakra menyapa Naira dari kampus sebelah yang katanya suka menanyai Arkan.
"Kak Arkan nya ada gak, kak." Suaranya sangat lembut berbeda dengan gadis yang Arkan sayangi di sana.
Arkan hanya diam saja, menunggu kelanjutan apa yang akan di katakan gadis dari Bandung itu.
"Ada ada, kunaon?" Brian yang mewakili.
"Ini mau ngasih nasi kotak, kata panitia konsumsi gak nemui kak Arkan jadia aku yang nyari." Jelas Naira. Namun yang Cakra tangkap adalah nasi dengan kotak plastik yang jelas bukan dari panitia konsumsi.
"Oh, yaudah ini orangnya." Cakra mengajak Brian melipir meninggalkan mereka berdua.
Hingga Arkan pun memilih untuk duduk.
"Nih, kak. Aku tadi ambil di konsumsi, dimakan kak jangan sampe sakit." Kata Naira yang terlihat malu malu sambil menyodorkan kotak nasi.
"Makasih, nanti kotaknya gue balikin." Kata Arkan yang di sertai sindiran, tapi jangan lupa senyum tipisnya. Haduh kenapa orang tampan ini seolah memberikan harapan.
Setelah Naira pergi, Arkan memilih untuk kembali tidur, nasi yang di berikan tadi malah di berikan pada Samy si ketua panitia yang lumayan dekat dengannya.
Setelah makanan di berikan pada Samy, barulah Arkan teringat dengan ucapan Lian, dia tidak boleh terlambat makan. Kenapa orang yang di mabuk cinta selalu menuruti permintaan pasangannya.
Arkan terkadang ingin menolak keinginan anehnya, tapi kalau tidak di turuti ada yang mengganjal dan kalau menuruti terasa aneh.
Arkan melihat jam yang sudah menunjukan waktunya makan siang, Arkan pun memilih pergi ke konsumsi untuk mengambil nasi kotak jatahnya.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
Student Architecture (Complate) ✅
Roman pour Adolescentsaku tidak mengenalnya. aku tidak tahu namanya. aku tidak tahu dari mana dia berasal. kenapa aku menyukainya?
