Lian tertawa samar dengan apa yang di pikirkannya, semua itu hanya hayalannya buktinya dia masih duduk di dalam kelas sambil menatap papan tulis yang masih bersih tanpa coretan seorang diri sekarang.
8 menit lagi kelas akan dimulai dan Lian sudah stay disini karena ruangan terlihat kosong sejak 15 menit yang lalu.
Lian mengarahkan pandangannya ke arah luar, tampak seorang yang di ketahuinya tapi tak di kenal.
Arkan, lelaki dengan tubuh atletis itu berjalan bersama seorang gadis sambil tersenyum.
Retak, seperti melihat seorang bias dating dengan wanita pilihannya.
Gadis itu tersenyum sampai seorang teman menghampirinya.
"Heh, lo gak kesambet kan." Nabila menepuk bahu Lian.
"Enggak lah, gue sadar." Kata Lian sambil melirik Nabila yang membawa roti 3 bungkus.
"Liat roti 3 bungkus, langsung di notice gue." Nabila memberikan Lian salah satu roti yang du bawanya.
"Minumnya mana, kalau gue keselek gimana ?" Protes Lian.
"Udah di kasih, masih protes. Gini nih manusia." Ucap Nabila sambil memberikan Lian air mineral.
"Lo bukan manusia ya." Lian suka sekali membuat Nabila kesal, gadis yang suka ngoceh itu memang sering kesal dengan Lian.
Setelah kelas berakhir Lian masih menunggu Anggi yang katanya ingin makan bersama, ya Anggi kan sudah lulus kuliah sekarang dia mendapat pekerjaan yang lumayan bagus.
"Udah lama lo." Anggi duduk di samping Lian.
"Ya belom, tapi udah laper gue." Balas Lian.
"Yaudah cabut kita, nanti kalau jam makan siang gue habis bisa gawat." Kata Anggi.
"Yaudah cepetan."
Setelah makan siang bersama Anggi di warung bakso yang baksonya itu segede kepalan tangan orang dewasa, Lian kembali menuju kampus, ternyata Lian ingat kalau dia harus mencari materi untuk tugasnya di perpustakaan.
"Nyari apa ?"
"Dasar program." Kata Lian tanpa melihat siapa yang menyapanya.
"Nih." Lian menerima buku itu dan melihat kearah orang tersebut.
"K--kak Arkan." Gugup Lian, dirinya masih sama dengan yang dulu sering gugup jika berdekatan dengan Arkan.
"Hmm." Gumam Arkan.
"Kakak ngapain disini." Lian mencoba menetralkan perasaannya.
"Ini tempat umum, siapa pun boleh datang." Jawab Arkan sekenanya.
"Bener juga, yaudah. Makasih kak." Lian beranjak dari lorong rak untuk menuju meja, namun langkahnya terhenti ketika ransel yang di gendongnya di tarik oleh Arkan.
"Kenapa kak ?"
"Pulang bareng gue. Gue tunggu di depan warung mang Awan." Kata Arkan lalu meninggalkan Lian sendirian.
Mustahil, apa kali ini Lian menghayal lagi. Lian tak bisa fokus dengan tugas yang akan dikerjakannya.
Duduk diam di meja perpustakaan sambil merenung padahal jadwal kumpul tugasnya tinggal hitungan jam.
Bahu Lian terasa di tepuk, gadis itu menoleh dan mendapati Mark teman sekelasnya.
"Kenapa ?" Tanya Lian dengan pelan, ingat ini perpustakaan.
"Udah selesai tugas dasar program ?" Mark pun memelankan suaranya.
"Oh iya mampus, bentar gue lagi ngerjain." Lian kembali tersadar dan mengerjakan tugasnya.
"Bareng ya." Tawar Mark.
"Oke." Tanpa ragu Lian pun mengiyakan tawaran Mark, lumayan kalau tidak mengerti ada yang bisa di tanyai.
"Coding ya ?" Tanya Mark saat melihat Lian sedikit kebingungan.
Gadis itu mengangguk.
"Buka halaman 11, ada penjelasannya di situ." Ucap Mark, gadis itu menuruti Mark dan segera membuka halaman yang di tuju.
Seperti yang Arkan katakan, Lian kini sedang duduk di warung mang Awan tempat beberapa mahasiswa duduk untuk makan, tapi kebetulan lagi sepi jadi Lian duduk dengan santai tanpa peduli pandangan orang.
"Udah lama ?"
"Ngagetin anj--." Lian langsung menutup mulutnya takut kelepasan di depan orang yang disukainya itu. Lian masih merasa asing walaupun Lian suka stalking akun Arkan.
"Cepetan masuk." Bagai perintah, segala ucapan Arkan, Lian pasti turuti.
Gadia itu duduk di samping Arkan, mobil Arkan cukup wangi tapi tidak membuat ingin mual, ini lebih menenangkan di banding pewangi kamar mandi.
Lian melihat kursi belakang yang kosong, terdapat tabung gambar dan tas Arkan yang Lian yakin tau nama nama alat yang ada di tas Arkan, ingat Lian juga pernah jadi siswa arsitektur waktu SMK.
Mobil melaju dengan santai.
"Kak, pertama aku mau bilang, boleh gak aku ngomongnya santai ke kakak."
"Gue gak ngelarang." Jawab Arkan.
"Kedua, kita gak saling kenal." Ucap Lian, sambil meminta penjelasan ke Arkan, kenapa Arkan rela mengantar Lian padahal mereka gak saling kenal.
"Gue pernah ngomong sama lo 1 tahun lalu." Bicara tentang 1 tahun lalu rasanya Lian ingin menendang lelaki di hadapannya ini, dia yang melarang Lian untuk mendekatinya dan sekarang apa, Arkan mengantarnya, Bodoh.
"Ketiga, apa tujuan lo nganter gue." Ucap Lian to the point.
"Emang salah nganter pacar sendiri." Deg, darah Lian berdesir hanya dengan mendengar ucapan Arkan, apa? Pacar? Sejak kapan?
Lian menatap Arkan tak percaya, "sejak kapan gue jadi pacar lo."
"Bangun, lo gak ngayal waktu itu." Arkan yang sedari tadi fokus menyetir kini tangan kirinya mengusap kepala Lian dengan lembut.
"Jadi, itu bukan imajinasi gue ?" Lian kaget, Arkan membenarkan apa yang disebut hayalan oleh Lian, dan sekarang Lian mendapat konfirmasi dari orang yang Lian hayalkan.
"Bukan."
"Beneran lo pacar gue ?" Lian masih tidak percaya dengan semua ini.
Arkan melirik Lian dengan kesal sekarang, mata tajamnya sukses membuat Lian terdiam, padahal sedari tadi dia terus bergerak karena senang.
"Kalau bener, kenapa di hp gue gak ada kontak lo, kak." Kata Lian lagi, sambil memegangi Hp nya dan menscroll kontak nya.
"Nih, catet." Arkan memberika benda persegi warna putih miliknya. Gadis itu langsung saja memainkan Hp Arkan sesuka hatinya.
"Yah kekunci, apa nih passnya ?" Lian dari tadi sibuk menekan tekan angka password hp Arkan.
"1214."
"Oh." Setelah melihat lihat galery hp Arkan, Lian beberapa kali terkikik melihat foto di Hp Arkan. Gadis itu melihat foto plat mobil, foto teman temannya bahkan foto Arkan hanya ada sekitar 20an saja.
"Ahh... Yang keempat, emang lo tau dimana rumah gue." Lian menatap Arkan, lelaki itu menggeleng pelan.
"Percuma ada lo, kalau gue gak nanya."
"Lo beneran pacar gue gak sih, kak." Protes Lian, keketusan Arkan memang sebuah hal yang wajar, tapi sekarang Lian sudah berada di posisi yang terbilang cukup dekat.
"Pacar lah, kan kemarin gue nembak lo."
"Kaya nya itu bukan nembak tapi pemaksaan."
"Tanpa gue paksa pasti lo mau."
"Hidih enak aja, gue gak semurah itu." Protes Lian, gadis itu melirik Arkan dengan kesal.
"Disini ?" Mobil Arkan berhenti tepat depan kediaman Lian, padahal Lian tidak pernah memberitahukan tempat tinggalnya pada Arkan.
"Lo stalk gue." Tuduh Lian.
Lelaki itu hanya diam dan melihat Lian dengan tatapan,'cepet turun.'
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Student Architecture (Complate) ✅
Novela Juvenilaku tidak mengenalnya. aku tidak tahu namanya. aku tidak tahu dari mana dia berasal. kenapa aku menyukainya?
