Pagi pagi sekali Lian mendapat pesan dari kakaknya bahwa Willis akan tiba 2 jam lagi, masih dengan piyama tidur yang di balut hoodie jacket Lian segera pergi ke bandara.
Sesuai janjinya pada Willis, gadis itu tiba sebelum Willis.
Masih ada waktu 1 jam lagi dan Lian harus tidur, waktu tidurnya terganggu karena dia menonton live idolanya di instagram, Baekhyun EXO tahukan bagaimana kalau laki laki cantik itu sudah cerita panjang lebar.
Lian terlihat seperti gelandangan yang memegang banner bertuliskan nama kakaknya.
Sepertinya pesawat Willis sudah landing maka ini saatnya Lian berdiri sambil memegang bannernya.
Begitu banyak orang orang yang melewati Lian tapi tak ada tanda tanda Willis akan muncul, sehingga Lian harus lebih perhatian lagi.
Matanya menangkap seorang Cakra melewatinya dengan santai bersama Brian.
Itu artinya Arkan juga sudah pulang, gadis itu lupa ternyata seminggu sudah berlalu dan gadis itu tak menyadarinya.
"Kok lo ada disini." Benar saja baru membayangkan Arkan ternyata orangnya sudah sampai di depannya.
"Eh..." Lian melipat banner di tangannya secara tak sadar.
Arkan merangkul Lian, wajah gadis itu jelas sekali sedang bingung. Arkan bahkan memeluk gadisnya itu, menyalurkan rasa rindu yang tak mampu di ungkapkan.
Lian tentu saja senang tapi ini terlalu tiba tiba dan dia terkejut.
"Ekhm." Lian melepaskan Arkan dan melihat Willis yang sudah berdiri di depannya.
"Gue ke toilet tadi makanya lama." Willis menatap Arkan tidak suka, oh ayolah mereka hampir terlihat mirip hanya saja berbeda warna lensa mata dan juga rambut Willis terlah berubah coklat.
"Siapa ?" Bibir Arkan bergerak meminta penjelasan Lian.
"Eh mas, kirain ke sesat tadi, ini Arkan dan Arkan ini mas Willis, kakak gue." Jelas Lian.
Arkan hanya mengangguk begitupun Willis tapu kalian pasti melihat kilatan tak suka di mata Willis saat ini.
"Kenapa meluk adek gue." Lihatlah betapa Willis menjaga adiknya.
"Maaf kak." Arkan terlihat mengalah di sini, baru sekali peluk sudah mendapat teguran dari pihak keluarga.
"Awas lo peluk peluk adek gue. Peluk kalau udah halal, paham." Willis jelas sekali memperingati Arkan.
"Apaan sih mas, kayak mas gak pernah aja. Aku pernah liat di hp mas Willis tuh ada foto mas Willis ci- mphhhh." Willis menutup mulut Lian agar gadis itu berhenti mengoceh.
"Pulang ayo." Willis menyeret Lian dan meninggalkan Arkan.
---
Willis sedang rebahan di kasur milik Lian, kalau kalian bertanya dimana Anggi, dia sudah wisuda dan sekarang dia merantau lagi, beberapa hari yang lalu Lian melihat dia sampai di Sabang bersama teman temannya.
Jadi sekarang Lian sendirian di kosan ini, makanya Willis datang untuk menemani Lian sekaligus pekerjaannya yang pindah tugas ke sini.
Lian merasa senang tapi dia juga sedikit takut akan terkekang akan adanya Willis.
"Pacar lo ?" Baru saja Lian menyusun 2 tumpuk baju Willis, si pemilik malah mengagetkannya.
"Iya." Jawab Lian lirih.
"Bagus juga selera lo, kenapa gak datang ke sini." Kata Willis sambil mencari cari makanan.
Lian hanya berdehem, dia masih takut di sidang saat aksi pelukan teletubis Arkan tadi.
"Boleh pacaran, tapi jangan lebay, jangan berlebihan gue takut lo sakit hati nanti." Jelas Willis saat menemukan panecake buatan Lian yang di masaknya sebelum menjemput Willis.
"Iya mas." Lian kembali menyusun pakaian Willis yang berada di kopernya. Lian kemudian bergegas untuk mandi.
Setelah selesai dengan urusan membersihkan badan serta berpakaian Lian kemudian memakan panecake buatnya.
Melihat Willis yang sudah terkapar di tempat tidurnya, gadis itu pun memilih untuk pergi kerja, hari ini dia mendapat sift pagi kebetulan sekali dia tidak ada kelas hari ini.
Baru ingin masuk ke kafe tempat kerjanya Lian sudah di hadang oleh Arkan, untuk apa laki laki itu datang, bukannya istirahat saja di rumah.
"Kenapa disini?" Ucap Lian to the point.
"Ya gue mau ketemu pacar gue lah." Arkan tersenyum canggung.
"Yaelah, Ka. Gue mau kerja, jam 4 deh kita jalan." Ucap Lian.
"Gue tau, tapi gue pengen aja liat, lo udah seminggu gak liat lo, kok lo tambah jelek ya, Li." Ejek Arkan.
Lian terdiam sejenak, sejak kapan Arkan mulai bercanda. Hey bukanya itu kemajuan.
"Eh, Ka mending lo pulang abis itu istirahat nanti jam 4 gue ke kosan lo deh, kita jalan." Ujar Lian.
"Yaudah, nanti biar gue yang jemput aja." Arkan mengusak rambut sang pacar dengan canggung lalu pergi, sambil menjawab telpon yang berdering.
Sambil menunggu jam 4 Arkan lebih memilih untuk istirahat di kosan miliknya, dia jadi kepikiran dengan kakak Lian yang tadi pagi dia temui. Ah Arkan lupa kalau hari ini dia harus mengerjakan miniatur bangunan dengan kelompoknya.
Arkan bergegas meninggalkan kasur yang sedari tadi menampungnya. Arkan melupakan satu hal jika dirinya sudah terjun ke dunia pertugasan maka waktu yang akan di habiskan bukan menjadi masalah, yang artinya dia melupakan janjinya pada Lian.
Detik berlalu dengan santai, waktu begitu cepat berlalu, bergeraknya jarum jam menandakan perpindahan waktu yang akurat, kecuali jam nya mati.
Lian sudah melewati jam kerjanya dan menunggu apa yang telah di janjikan pada Arkan.
Namun saat jarum panjang sudah menunjukan angka 6 Arkan tak kunjung datang menemuinya.
"Ngapain lo di sini?" Hampir saja Lian tersenyum namun senyumnya luntur saat melihat kakaknya ada di daerah tempat kerjanya.
"Ya gue mau nunggu orang, tapi kayaknya gak jadi dah, udah jam 6 juga. Yuk pulang mas." Lian berjalan di samping kakak laki lakinya,
"Gue pikir lo mau jalan sama pacar lo itu." Willis sedikit melirik Lian yang memegang ponselnya.
"Capek mungkin, kan baru pulang." Jawab Lian seadanya, ya sebagian hatinya juga ingin melihat Arkan lama lama, namun apa daya kalau Arkan saja enggan datang meski telah membuat janji.
Willis mengusak rambut Lian, jarang juga dia memperlakukan adiknya dengan normal, kalau di rumah Willis hanya bicara pada Lian seperlunya saja, mungkin saja nanti Willis bisa menjadi wadah curhat Lian, ya Willis sebagai kakak sih merasa senang kalau adiknya mau berbagi cerita.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
Student Architecture (Complate) ✅
Ficțiune adolescențiaku tidak mengenalnya. aku tidak tahu namanya. aku tidak tahu dari mana dia berasal. kenapa aku menyukainya?
