Arkan sudah berada di depan pintu rumah orang tuanya bersiap untuk membuka namun dia tak merasa gadis yang menjadi pacarnya itu berada di sekitarnya, benar saja Lian masih berada di samping mobil, menyembunyikan diri dan berusaha kabur bak maling.
"Mau kemana?" Gadis itu langsung berdiri tegak ketika Arkan berdiri di hadapannya.
"Eumm.. itu aku mau ke toilet, kan gak enak ya baru pertama kali datang, eh udah nyamperin toilet." Ucap Lian dengan nada ragu, lalu gadis itu tersenyum kikuk.
"Masih marah sama aku?" Arkan menatap Lian dalam, matanya seolah ingin menyampaikan apa yang di rasakannya saat itu.
"Aku... Takut, kamu tau kan aku orangnya gak bisa nyari topik yang mau di bahas." Lian menjatuhkan bahunya, seperti di suruh untuk berdiri di depan orang banyak untuk orasi, dia merasa tidak percaya diri.
"Loh, Arka. Kapan datang, mama baru aja beli sayur." Wanita paruh baya yang baru saja melewati pagar langsung di sambut pelukan oleh anaknya itu.
Tapi Lian tertunduk, dia merasa kepercayaan dirinya menghilang, wanita paruh baya yang menyebut dirinya 'mama' itu cantik, mungkin orang yang melihatnya akan bilang itu kakaknya Arkan bukan mamanya.
"Iya ma, pengen pulang aja. Udah lama juga Arkan gak pulang."
"Loh, siapa ini pacar kamu?" Gadis tersentak ketika tangan ibunya Arkan menyentuh bahu miliknya.
Lian hanya tersenyum, lalu menyalami tangan mamanya Arkan.
"Aku temennya kak Arkan tante." Kata Lian yang langsung mendapat lirikan dari Arkan.
"Pacarku ma. Mama mau masak apa? Lian pinter masak loh, nanti di bantuin dia." Arkan terkekeh dia merasa puas karena menjebak Lian dengan ibunya, ya sebenarnya tak ada masalah dia hanya ingin Lian dan ibunya dekat saja.
"Yaampun, kamu malu malu ih." Senyum bu Tari itu seketika melenyapkan prasangka Lian tentang ibu mertua yang sadis.
Lian dan bu Tari sibuk dengan dapur untuk memasak makan malam, sungguh ini pertama kalinya Lian berhubungan hingga tahap seperti ini.
"Tante, masukin garamnya semana sih, nanti ke asinan kalau aku yang kasih."
"Masukin dikit lagi, nanti gak terasa. Kita tuh masak jangan takut takut kasih bumbu bumbu gitu, kalau takut nanti gak berasa tapi jangan kebanyakan juga nanti yang makan tempat sampah." Keduanya terkekeh karena penuturan bu Tari.
Arkan yang memperhatikan di meja makan juga ikut tersenyum, apa hubungan ini akan bertahan, apa dunia membiarkan mereka tetap bersama.
"Arka, susun piringnya. Kita udah mau selesai jangan senyum senyum sendiri aja kamu di situ." Ucap bu Tari.
"Iya iya ma." Arkan mengambil piring dan juga sendok yang berada dekat Lian berdiri.
"Katanya gak bisa akrab, tuh tadi apa dong kalau bukan akrab." Arkan menyenggol bahu Lian.
"Apaan sih... Sana susun piringnya." Lian menjulurkan lidahnya sedikit. Tak lama senyumnya ikut terkembang.
Ketika semuanya telah tersusun rapi di meja makan, semuanya telah bersiap untuk menyantap makanan yang tersedia.
Kehangatan keluarga tercipta meski hanya mereka bertiga, di sela makan ada canda tawa dan perhatian.
"Katanya kamu punya projek ya, Ka ?" Bu Tari terlihat menghabiskan makananya.
"Iya ma, soalnya kata om mau ngajak aku buat gambar jalan, jadi nanti survey dulu ke lapangan, di kota gini aja masih ada jalan yang belum ke aspal, ya walaupun bukan proyek besar tapi kan lumayan." Arkan tersenyum pada ibunya.
"Oh iya nak Lian, Arka gak pernah loh bawa pacarnya ke rumah, kamu yang pertama." Kekeh bu Tari, sontak saja membuat Lian menatap Arkan tak percaya, apa sih yang di pikirkan laki laki itu.
"Hehe tante bisa aja, kak Arka tuh di kampus lumayan populer, Tan. Dia aja sok kegantengan gitu." Lian menahan senyumnya saat Arkan terlihat cemberut dengan ucapan Lian.
"Bukan aku sih yang sok kegantengan. Memang aku ganteng kan, Ma."
"Iyalah kamu yang paling ganteng di sini, kan kamu cowo sendiri." Lian dan bu Tari terlihat melakukan tos dalam mengerjai Arkan.
Selesai makan dan Lian berinisiatif untuk cuci piring ya walaupun berulang kali di larang oleh bu Tari, tapi gadis itu tetap keras kepala dan bersikeras untuk cuci piring, ya sudahlah bu Tari hanya bisa tersenyum, itu hal maklum yang di lakukan pacar anaknya ketika datang, tapi ini adalah pertama kalinya.
Tentu saja dengan gangguan Arkan, Lian membersihkan piring piring penuh noda minyak.
"Minggir atau aku siram pake air bekas cuci piring nih." Ancam Lian.
"Galak ih, mana Lian kalemku..." Goda Arkan.
"Kapan gue kalem, lo aja yang buat. Gue gila gini lo pacarin." Lian mengangkat piring kecil dan seolah ingin melempar Arkan.
"Kasar ih, aku cium nanti kamu." Langsung saja Lian mencubit pinggang Arkan agar cowo itu segera minggat dari hadapannya.
Kini Lian di bawa oleh Arkan menuju kebun di atas rumahnya, bu Tari memang suka menanam namun lahan kecil membuatnya memutar otak dan memanfaatkan atap yang seperti atap ruko ini di jadikan kebun sayur dan bunga.
"Bunganya bagus." Kata Lian ketika mendapati dandelion liar di sana.
"Bunga apa tuh, kok gitu bentuknya? Kayak hidup tak mau mati segan, di sentuh rontok." Kekeh Arkan.
"Dandelion, apaa sih... Dasar gak waras." Lian mencebik kesal. Setelah semua yang Arkan katakan dan lakukan Lian yakin bahwa Arkan sudah tidak waras, atau mungkin ketempelan setan waktu perkumpulan mahasiswa waktu itu.
"Gak waras aja kamu suka." Arkan menoel pipi Lian tapi gadis itu menepis tak suka. Kesal sih tepatnya.
"Ya maaf, aku gak tau cara biar kamu nerima aku yang walaupun akhirnya di paksa, tapi aku seneng kamu udah jadi pacar aku beneran." Arkan tersenyum memetik bunga berwarna kuning kecil lalu menyelipkan di antara daun telinga Lian.
"Dasar pemaksa." Terkesan sini namun gadis itu tersenyum. Menikmati suasana di dekat tempat tinggal Arkan yang masih asri.
Tangan Arkan merangkul Lian sesekali menjepit leher Lian agar gadis itu tak mencoba melepas rangkulannya.
"Tapi kamu suka kan."
"Mau gimana lagi..." Ucap Lian lesu.
"Aku udah jatuh ke kamu... Yang bisa aku harapkan sekarang hanya kesetiaan kamu." Lanjut Lian.
Arkan tersenyum senang begitupun Lian yang cintanya tak bertepuk sebelah tangan lagi. Perlahan Arkan mendekatkan wajahnya agar bisa merasakan pipi menggemaskan milik Lian.
"Yaampun Arkaa!!! Itu bunga mama yang import... Kamu gimana sih." Kedatangan bu Tari membuat Lian dan Arkan geger dan segera membuang bunga yang ada di rambut Lian, karena Arkan dengan sengaja menyusun bunga bunga kecil di rambut Lian.
END
KAMU SEDANG MEMBACA
Student Architecture (Complate) ✅
Novela Juvenilaku tidak mengenalnya. aku tidak tahu namanya. aku tidak tahu dari mana dia berasal. kenapa aku menyukainya?
