[4th Mess] The Answer

139 24 0
                                        

Ada ribuan alasan mengapa kayaknya gue nggak boleh balikan dengan Darren, dan yang paling utama adalah karena membangkitkan rasa sakit yang selama ini telah—walau nggak sepenuhnya—terkubur.

Setelah putus, gue baru merenungkan perubahan yang gue dapat dengan Darren. Yang paling gue rasa jelas kayaknya gue yang nggak jadi diri gue sendiri.

Ya, gue ngerasa gitu selama pacaran sama Darren. Gue seperti terobsesi dengan menghilangkan rasa keminderan gue, hingga akhirnya gue menjadi pribadi yang lain. Gue berusaha untuk menjadi seseorang yang Darren inginkan, harapkan, dan butuhkan. Tapi berujung sia-sia, karena pada akhirnya Darren bisa lepas juga.

Saat itu gue baru sadar, kalau perubahan gue juga lah yang menjadi boomerang pada hubungan gue sendiri. Gue akhirnya ngerti kenapa Darren memutuskan untuk ninggalin gue. Walau sampai saat ini, kesalahan terbesarnya tetap pada kepengecutan Darren. Gue mengaku salah, tapi Darren lebih salah.

Gue udah nggak memusingkan lagi soal itu, karena jelas kita masih SMP dan pemikiran kita belum seterbuka itu. Masih sama-sama egois, dan nggak bener-bener ngerti apa itu sebuah hubungan.

Setelah kejadian dua hari yang lalu di gor, gue merasa akhirnya gue bisa mengikhlaskan perasaan gue ke Darren. Kenapa harus selama itu ya? Atau mungkin gue menahannya sampai selama ini karena Darren baru muncul lagi sekarang? Jadi, mungkin gue akan menahan kesakitannya lebih lama kalau gue nggak ketemu Darren lagi sekarang, tapi di masa depan?

Bisa jadi.

Pulang dari gor gue membicarakan banyak hal dengan Darren, termasuk permintaan maaf atas perbuatannya dulu. Gue lega akhirnya gue mendengar ucapan itu dari bibir Darren sendiri. Setelah itu gue benar-benar merasa telah selesai dengan Darren, dan merasa semuanya lebih baik-baik aja. Gue kayak berdamai sama masa lalu.

Hubungan gue sama Darren dulu emang pahit, tapi justru itu gue jadi belajar. Suka sama orang lain nggak harus merubah diri lo jadi orang lain juga hanya untuk mempertahankannya. Kalau dia suka sama lo, dia pasti menerima semua sifat-sifat lo. Sesimple itu, yang bodohnya baru gue sadarin sekarang.

"Jadi, lo udah biasa aja ke Darren sekarang? Udah temenan lagi?" tanya Kenny, ketika kami bertiga sedang berada di salah satu tempat makan yang menyediakan wifi gratis untuk mengerjakan tugas kelompok.

Gue mengangguk mengiyakan.

"Apa lo juga sempet diajak balikan juga sama dia?" Kini Bintang yang bertanya.

"Nggak mungkin lah. Udah baikan sama gue aja udah bersyukur kali dia," gue terkekeh.

"Iyasih. Gambling banget kalau sekalian ngegas ngajak balikan," Bintang sepakat.

"Lebih baik gini ya, Tha, udah clear semuanya. Daripada bersikap seolah nggak pernah terjadi apa-apa."

"Yap, betul," gue mencomot kentang goreng. "Bagian gue udah kelar nih. Lo udah belom?"

Kita lagi ngerjain makalah ekonomi yang harus dikumpulin minggu depan. Masih lama emang waktunya, tapi sekalian aja daripada cuma nongkrong ngeghibah doang. Harus seimbang positif dan negatifnya tuh. Hahay. Bisa juga gue bener sekali-kali.

Sebenarnya tugas ini berempat, tapi satunya lagi entah minggat kemana. Sepulang sekolah dia langsung cabut gitu aja, padahal gue udah bilang kalau mau ngerjain tugas ekonominya. Anak cowok emang nggak bisa diandelin urusan tugas-menugas. Jangan disamain sama Bintang, dia mah beda.

Teman cowoknya Bintang itu cuma Reza sama Fahri, dan selebihnya cewek. Dia bilang lebih nyaman temenan sama cewek daripada cowok. Soalnya kebanyakan contoh buruknya kayak ngajakin nyebat, nyimeng atau mabok. Untung aja Reza sama Fahri bersih. Udah gue patenin. Makanya Bintang cuma temenan akrab sama dua cowok itu doang, selain gue dan Kenny.

Home [Chanyeol X Nayeon]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang