"Lo balikan sama Darren gimana ceritanya?"
Revan tiba-tiba menanyai gue saat kita bertiga ada di kantin-gue, Kenny, dan Revan. Jangan tanya Bintang, gue dan dia masih belum ketemu titik temu. Lagian gue juga memberi dia waktu, jadi kalau kita udah baikan dia sepenuhnya ngelupain perasaannya ke gue. Saat ini yang gue tahu, Bintang makin deket sama Elea karena slek sama gue dan Kenny.
"Wah iya, lo belom cerita ke gue soal itu, Tha," Kenny menyahut, menghentikan aktifitasnya yang baru saja ingin menyuap baksonya. "Padahal udah lebih dari seminggu."
Nggak kerasa emang, tiba-tiba gue dan Darren udah semingguan aja. Sejauh ini, masih baik-baik aja. Gue juga ngerasa ada beberapa perbedaan dari diri Darren. Kayak dia tuh lebih terbuka sama gue, daripada dulu. Lebih banyak bacotnya, tapi gue suka.
Meskipun banyak ngeluhnya, tentang ketidaksukaannya terhadap gue yang ini dan itu, bikin males sebenernya. Tapi Darren gue kasih pengertian, biar guenya juga nggak sebel diatur-atur. Baru seminggu, tapi emang banyak banget ribut kecilnya. Walaupun gitu, pada akhirnya kita baikan dan berhasil berkompromi. Lebih baik gitu, daripada malah diem-dieman. Udah gue bilang, gue lebih suka sekalian ribut lalu putus daripada mertahanin hubungan lama tapi hambar.
Pengalaman yang gue dapat dari Darren dulu.
"Nggak gimana-gimana, biasa aja," gue mengedikkan bahu. "Dia cuma bilang masih sayang sama gue, terus ngajak balikan. Selesai."
"Lo terima gitu doang?" Kenny menatap gue nggak percaya. "Bukan lo banget, Tha."
"Ya, nggak juga," gue berdecak. "Privasi atuh, Bu."
"Halah," Kenny mendorong bahu gue. "Sok-sokan privasi. Giliran nanti putus cerita sambil mewek-mewek ke gue."
"Kambing lo, Ken."
Revan terkekeh. "Oh, jadi dulu lo nangis-nangis, Tha, diputusin Darren?"
"Gimana nggak nangis coba, Litha kan masih pemula saat itu. Belum sebaja sekarang ya, Tha."
Gue memutar bola mata, nggak mengacuhkan perkataan Kenny sama sekali. Perhatian gue kembali pada Revan yang sekarang sedang meminum jusnya.
"Kenapa nanya-nanya, Van? Mau nembak Erin?"
Pertanyaan gue sukses membuat Revan tersedak. Dengan imutnya, pipinya juga terlihat agak merona. Gue dan Kenny terbahak melihat kepolosan seorang Revan.
Mungkin yang membuat gue suka dengan Revan adalah karena ketulusannya. Dia definisi cowok yang benar-benar baik. Dengan muka gantengnya, bisa aja dia brengsek kayak Dika, nempelin cewek sana-sini. Walaupun punya pacar juga tetep aja cewek serepannya banyak. Nggak, Revan nggak gitu.
Dia suka dua cewek waktu yang bersamaan cuma karena gue kayaknya. Mungkin aja, kalau, gue sepenuhnya udah move on dari Darren, dia nggak mungkin mempertimbangkan Erin yang jelas memiliki ketertarikan dengan Revan. Gue dan dia pasti bakalan jadi pasangan awet kayak Kenny-Algi. Gue bisa menjamin itu.
Tapi sayangnya keadaan diantara kami nggak begitu. Rasa gue ke Darren masih ada, dan Revan yang mengetahui hal itu akhirnya mempertimbangkan Erin alih-alih berusaha buat gue. Gue nggak pernah menyalahkan Revan karena hal itu, dan Erin juga tahu situasinya kayak gimana dia tetap menyukai Revan. Gue dan Erin juga berteman baik-walau nggak sering interaksi-meskipun mengetahui fakta yang memang lebih menyakitkan untuk Erin.
"Udah yakin, Van, sama Erin?" tanya Kenny, yang juga tahu situasi kami bertiga. Ini sih kayaknya udah jadi rahasia umum deh kerumitan ini.
Soalnya pas gue balikan sama Darren aja, beberapa orang nanya ke gue, "Lah, Tha, lo balikannya sama Darren? Gue kira jadi sama Revan." Ada juga yang gini, "Nggak jadi sama Revan, Tha? Oh, iya, Revan mah sukanya sama si Chaerin anak MIA-1 ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Home [Chanyeol X Nayeon]
General Fiction(n). The person or place you want to return to over and over. "She'll always be his home."
![Home [Chanyeol X Nayeon]](https://img.wattpad.com/cover/178446734-64-k914980.jpg)