Rahajeng tidak pernah menyangka jika ada manusia sekeras kepala dan seambisius Catra, laki-laki yang mengatakan ingin menjadi pacarnya disaat ia hanya tahu siapa namanya.
Catra Maharga dengan segala ambisi dan kelakuannya mencoba menarik perhatian...
Aku gak akan pernah menyangka kalau keputusanku untuk belajar gitar dengannya kemarin membuatku harus menemaninya kebuah acara band indie yang sangat ramai dengan manusia. Rasanya sesak dan gerah, namun tak ada yang bisa aku lakukan selain mengikuti Catra kemanapun ia pergi.
Untungnya aku benar-benar mengikuti seluruh instruksi Catra untuk menggunakan setelan kaos dan celana jeans saja, ditambah sepatu kets, sehingga aku tidak perlu merasa salah kostum disini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Cat, tempat apaan sih ini? gerah banget,"
"Ya namanya aja acara indoor, Jeng, pasti gerah. Tapi gak terlalu kan? Soalnya lo pake kaos doang,"
"Iya tapi kamu gak ngomong kalo acaranya kayak gini, kan aku jadi pake kaos Snoopy!" Catra tertawa mendengar ucapanku, matanya sesekali melihat ke arah kaos berwarna putih yang aku kenakan kemudian tertawa lagi.
"Gak apa-apa, lucu kok!" Catra mengajakku menepi di salah satu stan yang menjual air mineral. "Minum dulu, gue telepon temen gue dulu," aku mengangguk dan menerima begitu saja air pemberian Catra karena aku tidak membawa botol minumku sendiri ke dalam tempat acara. Kata dia sih percuma, karena bakal disita nantinya.
"Doyan minum juga lo ternyata, hahaha," ia melirik ke botol air mineral yang aku pegang, ternyata aku sudah menghabiskan separuh isi botol tersebut. "Gue kira lo gak doyan minum, soalnya pas dulu gue kasih juga lo tolak, kan?"
"Ya kan waktu itu aku bawa minum sendiri, terus gak haus banget. Sekarang kan beda," Catra hanya mengangguk sembari menahan tawa. Males deh.
Tak lama berselang, dari kejauhan terlihat seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam berjalan ke arah Catra. "Cat! Sori, sori, gue tadi ada urusan sama LO-nya, nego dulu biar lo bisa masuk kedalem,"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Santai aja kali," teman Catra ini kemudian mengajak kami untuk masuk ke belakang panggung. Disana aku bertemu dengan teman kos Catra yang kemarin memarahi aku. Dia memangku gitar listrik dengan wajah serius sembari sesekali memainkannya. Pantas saja dia kemarin marah karena suara gitarku tak beraturan, ternyata dia seorang gitaris!
"Cat, itu bukannya temen kos kamu ya?"
"Lah, iya. Sam!" Catra memanggilnya dengan suara lantang. Oh, namanya Sam.
"Eh, disini lo, Cat?" Sam melambaikan tangan dengan santai dan menaruh gitarnya. Ia berdiri menghampiri kami. "Gue kira lo gak bakal dateng kesini,"
"Harusnya gue kali yang ngomong gitu, ngapain lo kesini?"
"Gue gantiin Fuad. Dia gak bisa ngisi bagian gitar, nyokapnya sakit, jadi yaudah deh," jelas Sam. "Lo bukannya yang kemarin main gitarnya sumbang itu bukan sih?" tanya Sam ketika melihat ke arahku. Ya emang sih main gitarku jelek, tapi gak gitu juga.
"Iya, aku yang kemarin main gitarnya sumbang!" ucapku sinis yang justru membuatnya tertawa.
"Kocak deh temen lo, Cat!" ia masih tertawa. Membuatku jengkel saja. "Nama gue Sam, nama lo siapa?"
"Rahajeng, panggil aja Ajeng,"
"Oke, Ajeng,"
"Jadi lo main jam berapa?" tanya Catra kepada Sam.
"Habis ini juga gue onstage, lo mau nonton dari samping?"
"Iya lah, gue udah bilang Hendra sih," Sam hanya mengangguk.
"Yaudah gue cabut dulu ya, mau siap-siap, keburu LO-nya ribut mulu, bacot banget," Sekali lagi Sam tertawa dan kembali mengambil gitarnya.
"Lo besok kalo jadi Lo jangan ribut terus ya, Jeng," ucap Catra tepat di samping telingaku.
"Ya tergantung kamu, kalo kamu susah banget diaturnya ya aku cerewet, Cat!"
"Enggak lah, aku mah gampang diatur, apalagi sama kamu," aku hanya mengibaskan tangan sebagai tanda tak percaya pada ucapannya. Memang dari awal aku tidak bisa percaya dengan segala ucapan Catra.
"Eh, udah pada naik tuh, liat dari samping, yuk!" ucap Catra sembari menggenggam pergelangan tanganku secara tiba-tiba. Tentu saja ini membuatku terkejut namun aku tak bisa protes karena semuanya seperti terjadi begitu saja. Kakiku ikut melangkah bahkan hampir terseok karena mengikuti langkah besarnya.
Tiba di samping panggung, Catra melepaskan pergelangan tanganku. Kini kedua tangannya bersila didepan dada layaknya seorang juri yang hendak menilai peserta kontes pencarian bakat. Kakinya menghentak dan kepalanya mengangguk seirama dengan dentuman drum. Mulutnya ikut menyanyikan lirik lagu yang dinyanyikan oleh vocalis band tersebut.
"Cat," aku menyolek lengannya yang secara otomatis membuat Catra menoleh ke arahku. Ia kemudian memiringkan tubuhnya hingga kini telinganya tepat didekat wajahku. "Kamu bisa main drum juga?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ia mengangguk. "Gue bisa main gitar, drum, piano, perkusi, sama nyanyi sedikit. Tapi masih lebih bagus suara Bagas," jelasnya. Aku tidak tau jika ia bisa memainkan alat musik sebanyak itu. "Kenapa?"
"Gak apa-apa, tanya aja," Ia mengembalikan posisi tubuhnya seperti semula dan kembali menikmati alunan musik yang dimainkan band temannya ini.
Melihat Catra mampu memainkan lebih dari satu alat musik membuatku tersadar jika dia memang seorang jenius dalam bidang musik. Dibalik penampilannya yang serampangan, ternyata terdapat sebuah sikap serius jika itu menyangkut dengan musik.
Aku mengalihkan pandanganku dari Catra ke arah panggung. Disana Sam memainkan gitarnya dengan baik. Bahkan dapat terlihat jika ia sangat menikmati penampilannya. "Cat, Cat, Sam itu anak band juga ya?" tanyaku lagi.
"Enggak. Dia gak main band, tapi bisa main musik. Tapi dia kadang-kadang ikut gantiin yang gak bisa tampil gitu. Temen band dia banyak," lagi-lagi Catra menjelaskan lebih dari pertanyaan yang kutanyakan.
"Emang gak ada yang mau gabung band sama dia?" tanyaku mulai penasaran. Karena siapa sih yang tidak ingin mengajak Sam menjadi satu grup musik jika melihat kemampuan bermain gitar Sam yang sangat luar biasa. Paling tidak bagiku ia main dengan luar biasa.
"Banyak yang mau, termasuk gue, tapi kata dia musik cuma sebagai hobi, bukan yang utama, jadi dia gak mau buat band. Dia takut kebablasan terus gak selesai kuliah," aku mengangguk paham.
Mungkin Catra dan Sam berada di kapal yang sama, yaitu sama-sama mencintai musik. Bedanya, Catra menjadikan musik sebagai yang utama, namun jika Sam menjadikan musik hanya sebagai hobinya, selingan dikala penat menyergap. Namun bagiku, keduanya sama-sama hebat karena mampu mencintai apa yang mereka inginkan.
//
Aku bakallebih sering update Catragais! Huhutenank.