Ketukan palu hakim menjadi penanda bahwa, status janda telah kusandang mulai hari ini. Ada rasa lega yang bergelayut, tapi amarah pun masih membuncah di dada. Untuk terakhir kalinya, diri ini menatap ke arah laki-laki yang dua minggu lalu menampar wajahku.
Seperti inilah akhir rumah tangga yang kami bangun empat tahun lalu. Hakim menjadi penengah permasalahan, dan menyelesaikan prahara hubungan suami istri dengan ketukan palu.
Untuk mengumpulkan berkas perceraian, menunggu sidang, dan memperoleh kepastian, ternyata membutuhkan waktu cukup lama. Aku pun harus menunda keberangkatan ke kota untuk membuat Nenek Sihir itu jera.
Bapak menjadi orang paling sibuk dua minggu ini. Bahkan, dia hampir menyerah dan akan memilih mengeluarkan jurus andalan paku dan beling keluar dari mulut.
Tentu saja yang paling sedih adalah Ibu. Bagaimana tidak, putri satu-satunya harus menyandang gelar janda di usia terbilang muda, dua puluh lima tahun. Sepanjang sidang, air mata Ibu tak kunjung berhenti mengalir. Bibirnya komat-kamit tanpa henti, entah berdoa atau mengeluarkan sumpah serapah untuk mantan menantunya.
Aku sendiri memilih menyembunyikan sakit hati dalam diam. Gengsi juga, kalau kelihatan sedih di hadapan Mas Rudi. Harus jual mahal, itu kata Bapak.
***
Hari yang kunanti sudah tiba, Bapak dan Ibu pun mengizinkan rencana ke kota. Meskipun ada drama kecil dari Ibu yang menangis tak karuan, melihat putrinya berangkat ke tempat kehancuran bermula.
Sepeda motor baru yang dibelikan Bapak lima hari lalu sebagai pelipur lara, kubawa ke kota untuk alat transportasi menyelidiki Nenek Sihir sebelum mulai mengerjakan misi. Dari pada naik ojek online terus, boros.
Indekos yang akan kutempati sudah dipesankan seorang teman bernama Kinan, sekaligus partner untuk membalas perlakuan Nenek Sihir itu.
Kinan adalah teman sewaktu kerja dulu. Wanita berusia dua puluh enam tahun yang masih lajang itu, setia mendengar cerita tentang ulah Mas Rudi. Dia pula yang menyarankan untuk mengikuti laki-laki itu, sebelum aku memutuskan untuk membongkar kedoknya.
Tiga jam perlajanan menggunakan motor cukup melelahkan, meskipun aku sering berhenti di mininarket untuk sekadar istirahat.
Sampai di indekos sudah pukul dua siang, aku memutuskan untuk istirahat dulu sebelum melaksanakan rencana.
Klik!
"Rin, udah di kos, ya?" tanya Kinan melalui pesan Whatsapp.
"Baru saja sampai, Kin, ada apa?"
"Nanti pulang kerja aku ke situ, ada hal penting yang harus kita bicarakan."
"Oke, sekalian bawakan makanan, ya, aku lapar."
Pesan terkirim dan langsung centang biru. Kinan tampak serius ingin bertemu, pasti ada sesuatu yang penting. Mungkin dia punya informasi tentang Nenek Sihir.
Lebih baik aku tidur dulu, sembari menunggu Kinan pulang kerja.
***
Pukul empat sore, Kinan baru saja sampai dengan membawa nasi padang kesukaanku. Karena perut sudah lapar, aku langsung melahap makanan sampai habis. Entahlah, nafsu makan akhir-akhir ini meningkat, sampai berat bedan ikut naik.
"Aku sudah kenyang, Kin, sekarang kamu mau cerita apa?"
"Calon mantan suaminya si Nenek Sihir itu, kemarin aktif di akun Instagram," kata Kinan dengan semangat '45.
"Terus, apa hubungannya sama misi kita?"
"Yaelah. Pas tahu akunnya aktif, aku langsung kirim direct message. Minta ketemu, soalnya ada yang penting mau kusampaikan."
