10. JANDA SEMAKIN DI DEPAN

4.9K 243 14
                                        

"Itu artinya janda semakin di depan, Rin. Hahaha," ucap Kinan seraya tertawa haha-hihi.

Begitulah reaksinya kala aku bercerita tentang kotak kue dari Pak Fatih dan traktiran nasi bebek dari Mas Hendra. Oh, iya, kubiasakan mulai semalam untuk panggil mas. Ya, sebab permintaan Mas Hendra juga, sih.

"Ya, tapi risih, Kin. Masa baru ketemu dua hari waktu tes, langsung dikasih kue. Untung teman-teman yang lain mau ikut makan kuenya. Kalau engga?"

"Ya, makan sendirilah, Rin. Hahaha."

Bayangkanlah wahai pembaca, bagaimana kalau kue dari Pak Fatih ada mantra jaran goyangnya? Kan ngeri juga. Ganteng sih, tapi kalau udah beranak dan beristri, gimana? Kalau sampai naksir dia, kan aku takutnya jadi menyandang gelar sekuel nenek sihir.

Oh, iya, Kinan mendukung sekali kalau aku mengakrabkan diri dengan Mas Hendra. Walaupun Kinan belum pernah ketemu langsung, tapi dia punya firasat kalau laki-laki itu, bisa jadi imam yang baik kelak.

Aku mengamini saja firasat Kinan. Namun, sebagai seorang wanita yang bergelar janda, aku harus pandai memilah dan memilih pendamping. Sebab masa lalu dengan Mas Rudi sudah membuat hidup ini tak karuan. Lebih ke sakit hati yang tak kunjung hilang, sih. Sakit, tapi tak berdarah. Kalian para pembaca pasti bisa paham, bagaimana perasaan seorang Rina sekarang.

Kalau ingat kelakuan Mas Rudi dan nenek sihir itu, aku ingin kembali ke beberapa waktu lalu saat memata-matai mereka di kafe. Lalu menyeret mereka masuk ke terowongan kasablanka. Biar ketemu wewe gombel atau Mbak Cantik berambut panjang dan bertubuh semlohay bohai.

Ah, sudahlah. Tak ada gunanya mengingat masa lalu. Toh, sekarang sudah ada laki-laki yang mencuri hatiku. Kalian tahulah siapa orangnya. Apa? Kalian tidak tahu? Sini-sini aku bisikin pake toa.

Kembali ke laptop!

"Teman-teman yang lain juga nyuruh hati-hati sama orang baru, Kin. Takutnya cuma senang sesaat aja. Btw nanti tidur sini, ya?"

"Bener kalau menurutku. Kamu baru aja jadi janda, kan. Jadi, ya harus hati-hati banget." Kinan meneguk teh botol yang barusan dia beli di Indomaret tadi, "Emang gak berani tidur sendirian?" lanjutnya sambil melihat tutup botol, berharap mendapat hadiah tiga ratus juta. Biar tajir melintir kayak Syahrini.

"Beranilah! Ngadepin kenyataan pahit aja berani, kok. Aku masih mau cerita banyak, Kin."

"Bolehlah-bolehlah," kata Kinan sambil menutup teh botol yang sudah habis setengah itu.

Pukul sembilan malam saat aku sedang bercerita panjang kali lebar kali tinggi, Kinan ternyata sudah tidur mendengkur. Ah, benar-benar borem! (Tibo merem atau rebahan langsung tidur)

Jadilah aku menikmati malam penuh bintang dan sinar rembulan seorang diri. Ah, malah galau-galauan lagi. Kuy, tidur! Besuk pagi harus nginem, sebab cucian sudah numpuk dan indekos perlu sedikit sentuhan. Biar lebih enak dipandang saja.

***

Pukul sembilan pagi, aku baru saja bangun tidur. Ternyata Kinan sudah pulang, sebab hari ini dia masuk kerja sift pagi.

Oh iya, ada kabar gembira buat kalian. Kinan bilang kalau kemarin Mas Rudi datang melamar kerja ke pabrik tempat Kinan bekerja.

Artinya, laki-laki itu sudah dipecat, dan sekaranh dia jadi pengangguran. Benar-benar seru! Ah, aku jadi pingin ketemu sama Mas Rudi setelah diterima kerja nanti.

Bayangkan saja, ketemu mantan suami yang sekarang jadi pengangguran, dengan menggunakan busana ala wanita karier. Ide bagus, kan?

Bayangin ekspresinya Mas Rudi nanti saja, aku mau bersih-beraih kos dulu.

SUMPAH SERAPAH!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang