Author POV.
Seokjin terbangun saat merasa lehernya kaku dan keram. Ia mencoba menggerak-gerakkan leher dan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Seokjin terkejut saat ada seorang wanita memangku kepalanya. Ia mendongak ke atas dan melihat sosok Jieun masih dengan mata terpejam.
"Jeon Jieun?" Lirih Seokjin. Kemudian saat ia ingin bangkit, tiba-tiba kepalanya sangat pening.
"Akh.. Kenapa kepalaku pening sekali.." Seokjin menyentuh dahinya dan menemukan benda aneh menempel di dahinya. Sebuah kompres. Ia mengerenyitkan dahinya bingung. Ia perlahan bangun dan mengganti posisinya berbaring di samping Jieun.
Jieun yang terusik karena ranjangnya bergerak pun akhirnya membuka matanya. Ia melihat Seokjin sudah bangun. Namun masih berbaring di sampingnya.
"Eoh, kau sudah bangun? " Jieun mengusap kening Seokjin. "Kau masih panas.. Jangan memaksakan diri ke rumah sakit dulu."
Seokjin hanya diam dan malah menatap Jieun tajam. "Mwo? Kenapa kau menatap ku seperti itu?" Seokjin memalingkan wajahnya kesamping.
"Aku akan membuatkan mu bubur dulu.."
Jieun berusaha bangkit dari ranjang Seokjin namun malah terhenti karena tangannya ditahan oleh Seokjin.
"Kau mau sesuatu? " Jieun malah memberikan pertanyaan dulu padanya. Seokjin menggeleng. "Aku ke dapur dulu sebentar.." Saat Jieun kembali berusaha bangkit, lagi-lagi Seokjin menahannya. "Wae?"
"Aa.. Kenapa semalam kau tidur disini?" Aishh Jinjja.. Hanya menanyakan itu saja? Oh ayolah Seokjin. Jangan canggung dengan istrimu sendiri.
Sedetik kemudian tawa Jieun pecah. Seokjin lebih bingung melihatnya.
"Semalam kau demam, aku ingin memberimu obat tapi kau tidak mau. Akhirnya aku beri kompres untuk meredakan panasnya. Saat aku hendak kembali ke kamar kau malah memelukku. Kau berkata bahwa 'kau ingin aku tetap disini' dan aku sudah ingin menolaknya, tapi kau memohon.. Akhirnya mau tak mau aku menuruti kemauanmu.. Aku tak ingin memperburuk keadaanmu.." terang Jieun.
Seokjin baru tersadar. Semalam pekerjaannya sangat banyak dan padat. Dan saat menyetir mobil pun ia merasakan pusing pada kepalanya. Untung saja ia sampai apartemen dengan selamat.
"Aa--itu.."
"Tak apa, aku tak berbuat aneh padamu.. haha.. sudah ya, aku akan memasak dulu. Lanjutkan tidurmu.."
"Tidak. Aku akan beker--"
Jieun memotong perkataan Seokjin dengan mengecup bibirnya sekilas, membuatnya mematung seketika.
"Tidak ada penolakan Dokter Seokjin.." Jieun tersenyum dan meninggalkan Seokjin yang masih terpatung.
Kemudian Seokjin sadar saat pintu kamarnya tertutup kembali. Ia langsung menghamburkan wajahnya ke bantal. Pipinya merona karena malu.
"Aaaaa!! Wae irrae?!!!! Kenapa harus merah segalaaaaa aaa! Aku akan lebih canggung saat bertemu dengannya nanti"
Seokjin tak henti-hentinya bergulung-gulung di atas ranjang. Menutupi wajahnya dengan selimut. Ia tengah malu saat ini. Iya, malu karena Jieun mengecup bibirnya.
*****
"Eoh, gak jadi tidur?"
Jieun melihat Seokjin menuruni tangga dan menuju ke sofa, ia tak menjawab pertanyaannya dan memilih berjalan dengan menundukkan kepalanya lesu .
Jieun menghampri Seokjin dengan membawa nampan yang berisi bubur dan susu. Serta tak lupa dengan obatnya.
Jieun meletakkan nampannya di atas meja dan ikut duduk disamping Seokjin. Seokjin menyandarkan kepalanya dengan menutup matanya.
Tangan Jieun mengusap dahi Seokjin dan membuatnya membuka mata.
"Makan dulu ya.." Seokjin hanya mengangguk. Kemudian Jieun mencoba untuk menyuapinya namun tangannya ditahan oleh Seokjin.
"Aku bisa makan sendiri " ucapnya datar.
"Oh. Baiklah." Jieun memberikan mangkuk berisi bubur tersebut kepada Seokjin. "Jangan lupa minum obatnya, aku akan membersihkan rumah dulu.."
Kemudian Jieun bangkit dan meninggalkan Seokjin di sofanya.
"Kau tidak ke rumah sakit?" Seketika Jieun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Seokjin yang saat ini juga menatapnya balik.
"Tidak, aku sudah izin kepada pihak rumah sakit. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu disini sendiri dengan kondisimu seperti ini? Tenang saja, aku juga sudah mengizinkanmu juga. Habiskan buburnya.." Jieun tersenyum tulus. Kemudian berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya.
Jujur. Jantung Seokjin berdegup kencang saat Jieun mengatakannya tadi. Seokjin bingung dengan dirinya sendiri. Apakah ia sudah menerima Jieun di hatinya? Ataukah hanya respon semata.
Seokjin diam dan menyentuh dadanya sendiri. "Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa segugup ini saat ia mengatakannya tadi..?" Lirih Seokjin.
"Aa-aaku tak tahu.." Seokjin menghilangkan pikirannya tersebut dan kembali memakan makanannya.
*****
Keadaan Seokjin hari ini sudah semakin baik. Bukan hanya keadaan tubuh Seokjin, namun juga hubungannya dengan Jieun. Semenjak Seokjin sakit, mereka menjadi tambah dekat. Jika biasanya mereka tidur dikamar yang berbeda, namun mulai malam itu---malam dimana Seokjin menyuruhnya untuk tidur bersama---mereka memutuskan untuk tidur seranjang. Itupun sudah mereka sepakati.
Dan kamar Jieun? Mereka jadikan sebagai kamar tamu. Entahlah, mungkin nanti jika ada yang menginap di apartemen mereka.
Jieun terbangun saat terganggu dengan suara hairdryer yang menggema di kamar mereka. Ya, kini Seokjin tengah mengeringkan rambutnya yang basah akibat keramas.
Tunggu, kenapa pakaiannya rapi sekali? Apakah dia akan pergi bekerja?
"Kau mau kemana?" Tanya Jieun sambil menyingkap selimutnya. Kemudian berjalan dan menghampiri Seokjin.
"Mau kemana lagi?"
"Kau akan bekerja? " Seokjin mengangguk "Kau sudah benar-benar sehat?" Seokjin berbalik dan menghadap Jieun.
"Aku sudah baikan. Aku tak mau lama-lama cuti, kau tahu jika sekarang banyak pasien. Aku tak ingin dokter yang berada disana kewalahan.. "
Seokjin benar. Karena pergantian musim yang ekstrim saat ini, banyak yang jatuh sakit karena daya tubuh mereka yang lemah. Akhirnya banyak yang dirawat. Seokjin juga tidak enak dengan seniornya yang bekerja keras, sedangkan dia malah dirumah dan menikmati cutinya. Akhirnya ia memutuskan untuk berkerja hari ini.
"Kau mandi lah, aku tunggu 20 menit lagi. Kita akan berangkat bersama. " Seokjin kembali menghadap cermin dan membenarkan rambutnya.
"Tapi aku belum memasak.."
Seokjin menghela nafas berat.
"Biar aku yang masak hari ini." Untung sekali memiliki suami yang pintar memasak seperti Kim Seokjin. Jadi tidak khawatir akan terlewatkan jam sarapan.
"Geurae.. Aku akan mandi dulu.."
Jieun mengecup pipi Seokjin sekilas dan berlari menuju kamar mandi. Seokjin diam di tempat. Jantungnya kembali berdegup tak beraturan. Pipinya kembali memerah. Tapi seulas senyum terukir di bibirnya.
"Aku semakin yakin dengan ini Jeon Jieun.." gumamnya sambil menyentuh pipi yang dikecupnya tadi sambil terkekeh geli.
To Be Continues.
Noona Tae💜
KAMU SEDANG MEMBACA
ICE - Kim Seokjin [✓]
Random[END] Prolog Jeon Jieun gadis cantik berumur 25 tahun yang berkerja di salah satu rumah sakit di Seoul terpaksa harus menikah dengan dokter disana karena perjodohan orang tua mereka yang saling mengenal. Kim Seokjin namanya, pria berusia 30 tahun te...
![ICE - Kim Seokjin [✓]](https://img.wattpad.com/cover/181650727-64-k382164.jpg)