Author POV.
"Eomma! Apa kita nanti jadi melihat adik Seora eonni?"
Suara kecil Jiseo memecah keheningan antara dirinya dan ibunya—Jieun. Jieun yang tengah fokus membuat pudding pun akhirnya menoleh pada putri kecilnya yang sedang duduk di sofa sembari menonton tayangan kartun favoritnya.
"Tergantung nanti appa pulang jam berapa.." Jawab Jieun. Jiseo mendengus kesal lalu mempoutkan bibirnya, "Apa Jiseo sangat ingin melihatnya, eum?"
"Nee! Jiseo sangat ingin melihat adik bayi!" Jawab Jiseo antusias. Gadis kecil itu yang sebelumnya duduk di sofa berganti menjadi berdiri lalu berlari dan memeluk kedua kaki Jieun. "Eomma, apakah aku boleh meminta adik?"
Pertanyaan polos putrinya berhasil membuat jantungnya berdegup kencang. Tidak, bukannya ia tidak mau, tetapi hanya saja ia masih tidak yakin bisa mengurus anak keduanya kelak. Ia takut, ia tidak bisa membagi perhatian kepada anak-anaknya nanti.
Jieun memilih diam, dan mengalihkan pembicaraan. Disejajarkannya tinggi tubuhnya dengan tubuh putrinya, ia berjongkok di depan Jiseo kecilnya.
"Sayang.. Sebentar lagi pukul lima, Jiseo mandi dulu, arra? Tidak baik mandi terlalu malam.." ucapnya kemudian mengusap rambut Jiseo.
"Nee, eomma.. Jiseo mandi dulu.." setelah itu, Jiseo pun memasuki kamarnya, meninggalkan ibunya yang masih sibuk dengan pudding-nya.
Jieun kembali melanjutkan pekerjaannya, membersihkan rumah. Tak berselang lama kemudian, terdengar pintu rumah terbuka. Menampakkan sosok pria yang membuat hatinya selalu menghangat saat berada disisinya.
Dihampirinya Seokjin lalu mengambil alih tas yang dibawa. Seokjin mendekat lalu mengecup bibir wanitanya sebentar.
"Tumben sudah pulang? Ini masih jam enam kau tahu.." Ucap Jieun sembari melepas dasi suaminya.
"Eum.. Tidak banyak pekerjaan di rumah sakit, jadi aku memutuskan pulang.." Jieun mengangguk menanggapi. "Kenapa? Rindu ya?"
Satu pukulan ringan didapat Seokjin dari tangan istrinya. "Tidak!" Jawab Jieun ketus, namun sebenarnya memang, ia rindu dengan Seokjin. Suasana rumah sedikit sepi karena tidak ada Seokjin, tidak ada yang menjahilinya saat ia memasak, tidak ada Seokjin yang selalu merebut sapu dari tangannya saat ia menyapu. Sedikit terdengar childish, tetapi Jieun sangat menyukai sisi kekanak-kanakan dari Seokjin. "Ti—dak sama sekali—cepat mandi! Aku akan menyiapkan pakaianmu..." Ucap Jieun ragu dan menundukkan kepalanya lalu mengundurkan dirinya dari sana.
Tunggu, tidak lagi. Kini tangannya di tahan oleh Seokjin dan menarik dirinya hingga jatuh pada pelukannya. Seokjin mengecup rambut Jieun dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu.. Sangat.." ucap Seokjin lirih. Jieun tersenyum di dada Seokjin, ia tak bisa berbohong, ia juga sangat merindukan dirinya.
"Aku pun.." balas Jieun.
"Tadi kau bilang tidak merindukanku, kenapa sekarang berbalik?" Sindir Seokjin dengan kekehan jahilnya.
"Terserah!" Jieun mendengus kesal, kemudian melepaskan pelukannya dan berjalan meninggalkan Seokjin yang tengah tertawa melihatnya.
*****
Seperti yang telah direncanakan, mereka—Seokjin, Jieun serta Jiseo akan menjenguk adik dari Seora. Sekitar pukul tujuh mereka berangkat menuju rumah sakit.
Setelah sampai, Seokjin berjalan menuju ruang informasi dan menanyakan ruangan yang akan mereka tunggu.
Setelah selesai, Seokjin pun berbalik menuju Jieun dan Jiseo. "Sudah, ayo!" Jieun mengangguk dan kemudian berjalan bersandingan dengan Seokjin yang kini tengah menggendong Jiseo.
KAMU SEDANG MEMBACA
ICE - Kim Seokjin [✓]
Random[END] Prolog Jeon Jieun gadis cantik berumur 25 tahun yang berkerja di salah satu rumah sakit di Seoul terpaksa harus menikah dengan dokter disana karena perjodohan orang tua mereka yang saling mengenal. Kim Seokjin namanya, pria berusia 30 tahun te...
![ICE - Kim Seokjin [✓]](https://img.wattpad.com/cover/181650727-64-k382164.jpg)