[09] Shy

13K 967 10
                                        

Author POV.

Matahari perlahan memunculkan sinar paginya, membuat sepasang suami-istri yang tengah tertidur menjadi terbangun. Apalagi ditambah dengan riuhnya suara burung yang saling bersahutan.

Seokjin menggerjapkan matanya perlahan guna menetralkan cahaya matahari yang masuk mengenai matanya.

Saat terbangun, ia mendapati sang istri yang kini memeluknya. Kemarin, Seokjin telah berhasil merubah Jeon Jieun menjadi seorang wanita seutuhnya. Bahkan senyuman tak luntur dari bibir ranum Seokjin, mengingat apa yang telah mereka perbuat.

Seokjin memperhatikan wajah damai dan lembut milik Jieun. Jari-jari Seokjin tak bisa berhenti untuk tidak menyentuh wajah cantik istrinya.

"Mengapa aku baru menyadarinya kalau kau begitu sempurna hmm? Kenapa tidak dari dulu kau menampakkan wajahmu? " Seokjin menjeda sebentar perkataannya. Kini jari-jarinya mendarat sempurna di bibir Jieun. Mengusapnya lembut, "Dan bibir ini, aku candu dengan bibir ini.." Seokjin mendekatkan wajahnya, dan kemudian mendaratkan ciuman di bibir Jieun.

Jieun yang merasa risih karena ada benda lembek yang mengenai bibirnya pun akhirnya membuka matanya. Mendapati sosok Seokjin yang kini tengah menatap lekat dengan senyumannya.

Ia menundukkan pandangannya ke arah selimut yang menutupi tubuhnya, ia tak berani bertatap muka dengan Seokjin. Ia masih mengingat yang mereka lakukan kemarin, membayangkannya membuat Jieun malu dan gugup seketika.

"Kenapa menunduk hm?" Seokjin meraih dagu Jieun dan menghadapkannya ke arahnya. "Malu setelah kita berhasil melakukannya?" Ujar Seokjin menyeringai.

Blush. Pipi Jieun berubah menjadi merah, sungguh sangat memalukan baginya.

Jieun tak tahu harus menjawab apa, akhirnya ia memiliki untuk kembali memeluk Seokjin dan menyembunyikan wajahnya di dada Seokjin.

Seokjin terkekeh melihat tingkah laku Jieun yang kini tengah malu.

"Kau malu rupanya haha.. " Seokjin membelai lembut rambut Jieun, ia bisa merasakan anggukan kepala Jieun di dadanya.

"Kenapa malu? Seharusnya kau bangga, kau memberikan mahkotamu hanya untukku, kau menjaganya dengan baik selama ini.."  tutur Seokjin lembut. Mendengar itu membuat Jieun merasa nyaman.

"Terima kasih.. " ucap Seokjin lagi. Jieun mendongakkan kepalanya ke arah mata Seokjin.

"Buat?"

"Semuanya.. Mungkin aku termasuk salah satu orang yang beruntung karena berhasil mengubah gadis menjadi seorang wanita sekarang.. Aku mencintaimu Kim Jieun.."

Seokjin mencium dahi Jieun kemudian turun ke bibirnya. Hanya sebentar, kemudian kembali melepaskan bibirnya.

Jieun tersenyum tulus, ia melihat mata Seokjin berbinar.

"Terima kasih juga telah menjadi suamiku.. Terima kasih juga karena kau menjadi yang pertama untukku.. " Seokjin mengangguk. "Aku juga sangat mencintaimu Kim Seokjin.."

Kecupan sekilas Jieun berikan pada bibir Seokjin sembari mengulas senyumannya.

Seokjin mendekatkan tubuhnya, tangannya terulur untuk menyentuh perut rata Jieun. Mengusapnya lembut.

"Semoga ia secepatnya datang.." Mata Seokjin berbinar, mengharapkan sosok bayi yang akan dikandung Jieun nantinya.

Jieun hanya bisa tersenyum, sambil mengucap syukur kepada Tuhan karena telah diberikan banyak kebahagiaan.

Dikecupnya perut Jieun oleh Seokjin, perlakuan Seokjin membuatnya semakin malu. Ia merasa geli, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.

"Seokjin-aa, apa kau benar-benar ingin menjadi seorang ayah? "

Bodohnya Jieun. Kenapa pula harus menanyakan hal bodoh semacam itu. Semua orang pasti ingin menjadi seorang ayah. Apalagi jika anak mereka dikandung oleh wanita yang mereka cintai.

"Tentu saja!" Jawab Seokjin semangat.

"Semoga keinginanmu terkabul.. " Seokjin mengangguk, kemudian kembali merengkuh tubuh Jieun. "Ayo tidur lagi.."

Plak! Satu pukulan tepat mengenai lengan Seokjin. Siapa lagi jika bukan Jieun yang melakukannya?

"Mandi! Apa kau tak risih dengan tubuhmu? Bahkan rasanya aku seperti belum mandi satu minggu kau tau itu. " Cibir Jieun.

Seokjin terkekeh.

"Bagaimana kalau mandi bersama?" Tawar Seokjin dengan smirk andalannya.

"Andwae! Minggir aku mau bangkit." Jieun berusaha menyibakkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Ya, mereka masih sama-sama telanjang.

Saat hendak berdiri, Jieun meringis kesakitan. Pangkal pahanya terasa sangat nyeri. Apakah melakukannya harus sesakit ini?

"Ahh.. " ucap Jieun sambil menekan pangkal pahanya.

Seokjin yang mendengarnya akhirnya mencoba mendekatinya. "Apa masih sakit?" Jieun mengangguk. "Mianhae.."

"Geokjeonghajima.. Aku bisa menahannya.." Jieun mencoba kembali untuk berdiri. Namun naas, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya guna menahan rasa sakitnya.

"Sudah kubilang, mandi bersama ya? Aku janji tidak akan berbuat aneh kepadamu.." Seokjin bangkit dan mendudukkan dirinya di samping Jieun.

Setelah lama berpikir, akhirnya Jieun menyetujui saran Seokjin. 'Mandi bersama'

"Awas kalau macam-macam!" Ancam Jieun.

"Arraseo Arraseo.." Seokjin berdiri dan berusaha menggendong Jieun ala bridal style menuju kamar mandinya.

"Kau cantik." Puji Seokjin. Membuat pipi Jieun memerah kembali. Jieun yang malu hanya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Seokjin. Mengabaikan Seokjin yang terus-menerus menggodanya.



To Be Continues.
Noona Tae 💜

Khamsahamnida!! Yeoreobeuneun Saranghamnida💜💜 Maaf kalo part nya pendek:( Tergantung mood, jadinya kek gini:)

Eh btw, jangan lupa vote dan comment ya! Aku nungguin dari kalian semua😭 Habis baca sempetin ninggalin jejak ya! Biar aku lebih semangat updatenya:))

Makasih:)

ICE - Kim Seokjin [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang