Chapter 11: Kutukan atau Anugrah

83 4 1
                                    

Kyungsoo POV

Hari ini cuaca cukup cerah untuk hanya dinikmati dari rumah, aku berjalan mengelilingi kebun ayahku, mengamati beberapa anggur yang mulai masak ditemani udara sore yang mengalir lembut melewati ku, biasanya sesekali aku menyapa beberapa pekerja di sini, tapi entah kemana mereka semua pergi, sejauh ku memandang tidak ada satupun dari mereka yang terlihat. Aku berada dibawah bawah pohon favorit ku di pinggir kebun saat ku lihat Ayah berjalan memasuki perkebunan. Kebetulan sekali ayah ada di sini, mungkin aku bisa menanyakan kemana perginya para pekerja hari ini. Jadi aku memutuskan untuk mengejarnya.

Ayahku masih berjalan membelah kebun tapi sama sekali tidak menghiraukan panggilanku, aku berjarak tiga meter dari Ayah saat ku lihat Luhan berdiri di depan ayahku, Luhan memamerkan senyumnya, aku hendak menanyakan apa yang dia lakukan di sini, tapi tubuhku membeku saat ku lihat senyum luhan berubah menjadi seringaian mengerikan, darah segar terlihat menyelimuti gigi putihnya beberapa menetes melewati dagu, mata merahnya menatap remeh ke Arah ku. Aku ketakutan, itu bukan luhan, aku berteriak memperingatkan ayahku untuk menjauh. Tapi Terlambat, Luhan merobek leher ayah dengan sadis menggunakan giginya. Aku berteriak histeris melihat ayahku tergeletak tak bernyawa, sial kenapa badanku tidak bisa bergerak.

Luhan berjalan ke arahku, dengan tangan yang masih berlumuran darah ayah, dia menyeka air mataku, aku masih tidak bisa menggerakkan tubuh saat Luhan menarik ku dalam pelukannya. Kebun anggur ayahku mulai terbakar Bersama mayat ayah di dalamnya. saat itu ku lihat bulan semerah darah, kabut hitam menutupi langit, dan darah segar mulai menetes dari pangkal leherku.

Ku rasakan pipiku basah saat aku terbangun. Luhan menyeka air mataku, tapi kali ini tangannya tidak berlumur darah.

"Apa kau bermimpi buruk lagi ?"

aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Dia menarik kepalaku, mendekap dalam pelukannya

"Kenapa kau bermimpi buruk setiap kali di culik, apa mereka melakukan sesuatu yang lebih kasar dari yang aku tau ?

Mata coklatnya menatap khawatir ke arahku, tidak, itu bukan tatapan khawatir, dia seperti sekarat, aku melihat rasa sakit di matanya setiap kali aku terbangun dari mimpi buruk, atau ketika dia menemukanku dengan luka lebam di sekujur tubuhku tempo hari, bahkan saat dia melihat lukaku kembali saat membantu mengobatinya. Luhan menatapku seolah memohon pertolongan untuk membebaskannya dari rasa sakit yang sedang dia rasakan. Aku masih tidak tau alasannya.

"Luhan ?"

"emmm, kenapa, kau butuh sesuatu ? "

Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaan luhan. Kemudian merubah posisiku menjadi duduk di atas tempat tidur, luhan mengikuti gerakan ku.

"apa yang ingin aku tanyakan ?"

"tentu kau bisa bertanya apapun, apa ini masalah serius ?"

"Tapi sebelumnya berjanji padaku, ku mohon jawab dengan jujur"

"Aku tidak bisa berbohong padamu, kau tau itu bukan "

Aku menatap mata coklatnya, memastikan apa yang baru saja dia katakana. Seperti biasanya mata itu selalu tampak berbinar setiap menatapku, tapi kali ini kesungguhan juga terselip di sana.

"saat Endru menculik ku.." ekspresi wajah luhan berubah kaku saat nama Endru terucap dalam pembicaraan ini, tapi dia tidak mengatakan apapun, "Dia membicarakan banyak hal tentang mu, tentang kau yang membakar kebun ayah ku, kau yang menggunakan cara licik untuk bisnis, sampe hal hal tidak masuk akal seperti kau seorang vampire dan... "

aku menelan ludah gugup, belum ada yang berubah dari ekspresi luhan, mungkin tidak masalah jika aku melanjutkannya.

"tentang kau yang mencintaiku"

Forecast (EXO Fanfic)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang