Garis lengkung di bibir Elsa masih tercetak jelas di wajahnya, tanda ia bahagia setelah adegan mencium bibir Parka. Ia mengakui sediri bahwa dirinya memang sengaja dan perlu kenekatan diri yang tinggi untuk melakukannya.
Regan,Kelvin dan Aleta sedari tadi bingung dengan kelakuan Elsa hari ini yang banyak senyum, pasti giginya sudah mengering pikir mereka seperti itu.
Di jam pelajaran yang Elsa tidak sukai pun ia masih mengembangkan senyumnya sampai membuat gurunya itu heran.
"Elsa, saya amati kamu sedari tadi senyum kenapa?" tanya Bu Luna akhirnya.
"Senyum senang bu"
"Apa kamu mulai menyukai pelajaran saya?"
"Itu bukan pelajaran milik ibu" ralat Elsa.
"Itu milik semua bu" lanjutnya.
Bu Luna hanya menggelengkan kepala dengan tingkah Elsa.
"Yasudah kalian mulai kerjakan halaman 21. Nanti dikumpulkan, saya tinggal dulu karena ada urusan"
"Urusan penting gak bu?" tanya Elsa iseng.
"Penting"
"Penting ngapain bu?" timpal Kelvin.
"Boleh pulang gak bu?"
"Ke kantin boleh gak bu?"
Itu semua pertanyaan dari sahabat Elsa yang memang bandel, sampai guru itu melototi mereka dengan tajamnya.
"Jangan sampai kemana-mana, kerjakan dan kumpulkan!" tegas Bu Luna segera bergegas pergi keluar kelas.
"Gurunya OF tugasnya ON sialan" kesal Kelvin yang membolak-balikkan halaman buku.
"Lo kalau niat sekolah yang bener pin" sahut Elsa yang duduk di sebelahnya.
"Kayak lo udah bener aja" cibir Kelvin sambil menoleh ke Elsa.
"Pasti gue berubah, kalau udah dapetin Parka" balas Elsa asal, tapi justru membuat ketiga sahabatnya menatap penuh tanya kearahnya.
"Lo suka sama kak Parka?" tanya Aleta memastikan.
"Senior tengil itu beneran modelan kek gitu yang lo suka?" tambah Regan.
"Iseng aja HAHAHA..." jawab Elsa dengan tawa gilanya menurut teman-temannya.
"Kalau lo beneran suka?" tanya Kelvin.
Elsa menatap Kelvin di sampingnya, dan beralih menatap Aleta dan Regan duduk berdampingan di depannya. Ia berdeham sebentar untuk menetralkan suara.
"Belum"
"Berati lo ada niat suka sama Parka dong?"
"Gue niatnya milikin dia" balas Elsa terang-terangan.
"BENERAN LO?!" kaget Aleta heboh.
Kelvin dan Regan pun juga sama terkejutnya mendapati jawaban Elsa.
"Milikin dia buat jadi babu gue maksudnya HAHAHA.." jawaban Elsa memang selalu tak terduga, dipikiran ketiganya kalau Elsa benar-benar serius mengatakan itu. Tapi ternyata, tidak. Elsa memang tidak bisa serius.
Elsa masih saja ketawa membayangkan jika Parka benar-benar menjadi babunya sungguh lucu dipikir Elsa. Matanya sudah berair sampai-sampai gadis itu memegang perutnya sambil tertawa. Ketiga sahabatnya sudah kesal dibuatnya, apalagi melihat tingkah Elsa yang gampangnya tertawa itu mendengus sebal karena membuat suasana kelas menjadi ramai.
"Gila lo, diem napa" sebal Regan.
"Sirik aja lo" kali ini Elsa sudah bisa diam karena mendapat dengusan kesal dari teman-temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELSA
Teen FictionBagi Elsa, si ketua osis di sekolahnya adalah permainan baru untuk ia mainkan, dengan sejuta tingkah usilnya membuat dirinya tertimpa hukuman yang bahkan menurut gadis itu sangatlah kecil. Tanpa disadari Elsa, bentuk dari kejahilannya dan hukuman ya...
