Pagi itu, Bella dan Dona membawa Lita ke posyandu untuk penimbangan rutin. Suasana ramai dengan ibu-ibu yang datang bersama bayi mereka. Lita, yang mengenakan baby doll pastel pilihan Bella, tampak menggemaskan di dalam gendongan Dona.
Setelah mendaftar, mereka menunggu giliran sambil duduk di kursi panjang. Beberapa ibu kader mulai memperhatikan mereka. Salah satu dari mereka, seorang wanita paruh baya dengan senyum lebar, mendekat.
“Ini pasangan yang serasi sekali,” katanya sambil melirik Lita. “Anaknya juga cantik banget, mirip ibunya.”
Bella tersenyum tipis, merasa tersanjung. “Terima kasih.”
“Dan ayahnya juga ganteng,” tambah ibu itu sambil melirik Dona. “Kalian benar-benar cocok.”
Dona terkekeh, merasa di atas angin. “Saya sih memang ganteng, Bu. Itu sudah dari lahir.”
Ibu kader lainnya ikut bergabung dalam percakapan. “Benar, benar. Kalau dilihat-lihat, wajah kalian berdua ini mirip. Kayak saudara kembar.”
Bella memutar mata. “Mirip kembar? Jangan bercanda, Bu. Dona ini jauh dari kata mirip saya.”
“Betul, Bu,” sela Dona sambil tersenyum lebar. “Saya lebih ganteng, kan?”
Ibu-ibu kader tertawa, mengiyakan dengan semangat. “Iya, iya, kamu memang ganteng!”
Bella mulai merasa panas. Ia menatap Dona dengan tajam, tapi pria itu justru balas tersenyum jahil.
“Kamu terlalu genit, Dona,” kata Bella, berbisik agar hanya Dona yang mendengarnya.
Dona membalas dengan nada usil, “Kenapa? Kamu cemburu, ya?”
Bella mendengus. “Kenapa aku harus cemburu? Itu tidak masuk akal.”
Dona terkekeh kecil, menikmati reaksi Bella. “Yakin? Soalnya tadi tatapanmu bilang sebaliknya.”
Bella mencoba mengabaikan komentar Dona, tetapi dalam hati ia merasa jengah. Cemburu? pikirnya. Apa iya aku cemburu?
“Giliran Lita!” panggilan seorang ibu kader memutuskan pikirannya.
Mereka berdua segera membawa Lita ke meja penimbangan. Bella memperhatikan dengan cermat saat berat badan Lita dicatat, sementara Dona sibuk berinteraksi dengan Lita untuk membuatnya tetap tenang.
“Beratnya bagus, sehat sekali,” puji ibu kader sambil tersenyum pada Bella.
Bella mengangguk dengan bangga, tetapi pandangannya sesekali mencuri ke arah Dona. Dia memang ganteng, sih, pikirnya dengan enggan, tapi langsung menepis pikiran itu.
Saat mereka pulang, Dona menggendong Lita di satu lengan dan membawa tas perlengkapan bayi di tangan lainnya. Ia melirik Bella yang tampak diam sejak mereka meninggalkan posyandu.
“Kamu masih mikirin tadi, ya?” tanyanya dengan nada menggoda.
Bella menatapnya dengan alis terangkat. “Mikirin apa? Aku bahkan sudah lupa.”
Dona tersenyum lebar. “Yakin? Mukamu kayak orang yang sedang menahan sesuatu.”
Bella mendesah. “Dona, aku serius. Jangan terlalu genit dengan ibu-ibu itu. Mereka terlalu… antusias.”
Dona tertawa kecil. “Oke, oke, aku janji tidak genit lagi. Tapi kamu harus jujur, tadi kamu cemburu, kan?”
Bella berhenti berjalan sejenak, menatap Dona tajam, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ia kemudian melangkah cepat ke depan, meninggalkan Dona dengan senyum puas.
Apakah aku benar-benar cemburu? pikir Bella sekali lagi, tetapi ia memilih untuk tidak mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri.
***
V
otes dan komen ya guys.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bella Mooi (END)
RomanceBella Mooi adalah nama beauty vlogger misterius yang cantiknya bukan main kayak barbie tapi tertutup dengan kehidupan pribadinya sehingga dia menjadi sosok misterius yang dicari-cari banyak orang. dr. Isabella Annesha Prawirohardjo, Sp. KK adalah d...
