Tak ku jangka
Yang rembulan akan jatuh redup dihadapanku
Sirna cahayanya
Bertiup lembut dibalik angin keras pagi itu
Berbumbungkan embun salju pagi
Aku berteleku menyembah sang pencipta
Dan pada bait tasbih zikir
Melingkar lembut di jari jemariku
Mengucap syukur diatas keberadaan aku di buminya yang Esa
Dalam gerak langkahku
Kadang aku tersasar terkeliru
Di daerah Probolingo ini kulihat...
Sehingga lemah nafasku berlalu
Melepasi jarak dan sempadan
Diantara masa lalu dan kematangan
Diantara Bromo dan Tenger
Diantara anemisme, spirit, sulfur, krater & lahar
Diantara padang savanna dan Pasir Berbisik
Aku mampu menoleh dan lihat dari kejauhan
Saat kaki langkah dengan kejap
Yang aku nilai dari sudut mata seorang insan
Yang aku nilai dari sudut mata seorang yang mengembara
Yang hanya datang dan akan terus berlalu dan hilang
ANDA SEDANG MEMBACA
Puisi Tanpa Noktah
Poésie[Tamat] Sebuah Puisi Tentang Cinta dan Rasa "Cinta itu amat memenatkan, terutama ketika mencintai jiwa yang salah"
