Hari ini adalah hari dimana aku dan Dimas bertemu. Kami bertemu di sebuah cafe yang tidak jauh dari sekolah. Saat ini kami hanya diam tidak ada yang berbicara. Padahal sudah 30 menit kami diam sambil memainkan hp masing-masing.
Karena kejenuhan ini, akupun mengawali pembicaraan dengan menanyakan kenapa Dimas tidak datang waktu rapat.
"gue ada urusan kemaren." kata dimas sambil memainkan hpnya tanpa melihat sedikitpun ke aku.
Dan hatiku menyerukan utuk tetap bersabar menghadapi juteknya dimas.
"urusan apa? Sampai2 loe gak izin ke gue, apalagi ke ari? Loe anggep aku sama ari apa sih Dimas?" ucapku ke dimas dengan nada kecewa.
"gue nganggep loe itu cewek istimewa dihidupku. Dan ari, gue anggap dia sebagai orang ketiga antara gue dan loe." ucap Dimas dengan menatapku serius.
"orang ketiga? Maksud loe apa Dim?" tanyaku ke dimas karena aku tidak mengerti, kenapa Dimas bisa menganggap Ari sebagai Orang ketiga?
"Karena dia selalu bersama loe." ucap dimas yang kembali menatap layar ponselnya.
"Dimas, denger ya, aku sama Ari itu gak ada hubungan apa-apa. Aku sama Ari itu cuma sebatas sahabat. Dan hanya sebatas rekan kerja sesama osis. Dia ketua, dan aku wakilnya, jadi gak heran kan kalo ketua dan wakil selalu bersama?" ucapku dengan terang.
"kalo nggak ada hubungan apa-apa, kenapa kemaren loe duduk berdua sama Ari?" ucap Dimas menatapku tajam.
Dan dari nada bicaranya, aku sudah menebak. Kalo Dimas sekarang sedang dilanda rasa Cemburu.
"kemaren, aku sedang membahas masalah evaluasi tentang kesalahan ku yang fatal kemaren." ucapku sambil menundukkan kepalaku.
"kesalahan fatal apa?" ucap Dimas dengan nada khawatir.
"kesalahan yang saat kita pergi ketaman kemaren."
"oh... Yang itu?"
"gue harap kita gak lakuin kesalahan yang sama ya Dimas. Aku takut mengecewakan kakak2 osis. Apalagi kalo kita sampe pacaran. Pasti mereka bakalan kecewa banget sama kita."
"mereka gak bakalan kecewa."
"kok bisa?"
"karena, aku sudah resmi keluar dari Osis."
Saat Dimas mengucapkan kata itu, rasanya aku ingin menangis, teriak sekencang kencangnya. Dan bulir air mataku pun jatuh dengan derasnya. Bukannya kenapa, karena aku kaget dan aku sangat bersalah kepada kakak2 osis.
"loe kenapa nangis?" ucap dimas khawatir.
"kenapa loe lakuin hal bodoh kayak gini sih Dimas? Loe kan bisa lakuin hal lain, cara lain yang tanpa harus mengorbankan osis?" ucapku dengan sedikit tegas namun dengan air mata yang terus mengalir.
"cara apa lagi Nin? Mau sampai kita naik ke kelas 3 apa? Udahlah Nin... Yang penting, sekarang kita jadian." ucap Dimas sambil memegang tangaku. Dan aku langsung melepaskan genggaman tangannya.
"gue takut Dimas... Gue takut ngecewain kakak2 osis... Gue takut mereka tau kalo kita pacaran..." ucapku sambil menangis. Dan Dimas, lagi lagi memegang tanganku.
"gak usah takut ya... Kita bisa kok pacaran diam-diam, tanpa harus mereka tau? Yang penting sekarang, aku udah buktiin, kalo aku, bener2 suka, cinta, dan sayang kekamu Nindy..." ucap dimas dengan senyum. Dan aku hanya membalas dengan senyuman. Padahal dalam hatiku dan otakku berfikiran kemana-mana.
Hari ini adalah hari aku dan Dimas jadian. Tapi, jadiannya diam-diam. Tapi,, gpp lah, yang penting sekarang aku sudah tau kalo Dimas benar-benar mencintaiku dengan tulus.
SKIP
Pagi ini adalah hari yang bahagia untukku, kenapa? Karena aku sudah berpacaran dengan Dimas. Dan aku sangat senang akan hal itu. Yah, meskipun harus diam-diam sih...
Saat aku sedang bersantai di bangku taman sekolah, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Dan aku sontak kaget dan langsung menutup ponselku. Karena kebetulan saat itu aku sedang chatingan dengan Dimas.
Saat aku menoleh ternyata ada Melodi.
"Hai...." ucap melodi dengan nada alay bin lebaynya dengan senyum yang seperti tiada masalah.
"loe itu ya mel... Ngagetin gue aja!" ucapku kesal kepada Melodi. Dan dia pun dudul di sampingku.
"yah maaf, eh iya. Loe udah tau kabar belom?" ucap Melodi dengan nada bisik bisik.
"kabar apa?"
"Si Dimas... Dia keluar dari osis!"
Dan aku pun tidak kaget dengan hal itu. Karena kan memang aku sudah tau itu.
"eh, loe kok diam aja sih Nin? Oh... Apa jangan-jangan loe udah tau ya kalo si Dimas itu keluar osis? Tapi, loe tau gak, ada kabar lain dari Dimas..."
"kabar apa lagi?"
"si Dimas sama si Ari Tadi berantem!"
"apa?!! Berantem? Kok bisa?? Kapan?? Dimana??" ucapku dengan nada khawatir. Lagian, si Dimas sama Ari ngapain lagi berantem-berantem segala.
"eh nin... Loe nanya itu satu-satu napa. Tadi itu, si Dimas sama Ari berantem di Lapangan, terus kalo masalahnya kenapa itu gue ga tau, tapi, kata teman-teman sih, mereka mengalami kesalahpahaman deh. Tapi, tadi katanya udah diurus sama guru BK."
"sekarang, loe tau gak, dimana Dimas?"
"yaa mana gue tau? Gue kan bukan emaknya..."
Dengan khawatir aku pun pergi untuk menemui Dimas,tanpa memperdulikan Melodi yang sedang bingung dengan sikapku.
Aku pergi dan mencari keberadaan dimas.
"Dimas.... Dimas... Loe dimana sih?"
Dan, tujuan terakhirku adalah di kelas kosong yang tepat berada di kelas paling atas. Aku langsung memasuki kelas itu yang kebetulan tidak dikunci.
"Dimas!! Dimas!! Kamu dimana?" mataku terus menelusuri ruang kelas itu. Sampai menemukan Dimas yang duduk sambil sesekali memegang luka di bibirnya.
"Dimas??" ucapku kaget.
TBC
Tunggu part selanjutnya ya...
Kira-kira, apa yang terjadi dengan Dimas ya? Apakah Nindy akan memaafkan Dimas? Atau malah memarahi Dimas? Dan apa yang sebenarnya terjadi antara Dimas dan Ari ya??Maaf ya, kalo jelek...
Masih pemula hehehe....
Kalo ada saran dan kritik tolong di tulis di kolom komentar ya....
Terima Kasih...
Selamat Membaca...

KAMU SEDANG MEMBACA
The Crazy Love
Teen FictionNamaku Nindy. Nindy Faridha Puteri. Lahir pada tanggal 8 Oktober 2001. Aku tinggal di Gresik. Ayahku bekerja sebagai pengusaha sukses di luar kota. Aku tinggal dirumah bersama ibuku dan juga adik laki-laki ku. Disini aku tidak bercerita tentang baga...