Bakar, biar hangat.
Purnama berlalu, tapi malam dingin mencekam.
Puisi hampir tertulis namun terhenti karena gerimis.
Hujan? Ah tidak, mungkin tangis. Tangis siapa? Ah mungkin tangis puan dilanda kerinduan?.
Tapi apa hanya puan? Bagaimana dengan tuan? Apa tuan tak rindu?.
Benar! Ternyata tuan pun merindu.
Tapi tangis siapa? Apa keduanya?
Mengais kenangan dalam kening, ruang menjadi hening.
Tampak tuan menatap foto sambil menangis lesu.
Tapi puan di jauh sana mungkin juga menangis merindu temu. Semoga lekas bertemu, agar rindu tak terbawa angin layaknya debu.
Segera menjadi temu, agar kalian kembali bersatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan hujan - "Quote&Poetry"
PoezjaPenulis Amatir, mencoba mengutarakan perasaan maupun keadaan dalam tulisan. Jangan Cuma jadi pembaca Rahasia ya Guys, tolong support Catatan Hujan dengan vote, comment dan share 😊
