Sambil menunggu jam berbuka,
Yuk! Baca si tengil Luke 😃
Happy Reading 💜
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Chizuru menatap seisi rumahnya dengan sorot mata sedih. Dia sudah menyusuri rumah itu, entah sudah berapa kali. Dari kamar utama, ruang tengah, ruang makan, sampai gudang, dia terus memeriksa keadaan rumahnya agar tidak ada yang terlupakan.
Dia sudah tinggal seumur hidupnya, dan tidak pernah sekalipun meninggalkan rumah itu. Rumah yang memiliki kenangan indah tentang orangtua, masa kecil, juga masa remajanya, dan saat-saat dimana dia menjalin hubungan dengan Hideaki. Kesemuanya itu sudah menjadi bagian hidup yang tidak akan pernah dia lupakan.
Setelah memikirkan tawaran Luke untuk keluar dari zona nyaman selama beberapa hari, akhirnya Chizuru menerimanya. Dia berpikir jika apa yang dikatakan Luke memang benar, bahwa dia harus melihat dunia dan tidak tenggelam dalam kesedihan yang berlarut. Salah satunya adalah meninggalkan rumah ini.
Dia sudah membereskan semua keperluan yang dia butuhkan, dengan dua koper besar yang ditaruh tepat di depan pintu rumahnya. Sekali lagi. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk kembali melihat seisi rumah dengan seluruh perasaannya.
"Apa kau yakin untuk pergi dari sini, Chi-Chan?" tanya Ayumi dengan ragu.
Chizuru menghela napas mendengar pertanyaan Ayumi untuk kesekian kalinya. Dia menoleh pada Ayumi dengan ekspresi jenuh. "Bukankah selama ini, kau ingin aku berpikir panjang untuk melepas semua masa lalu yang menyakitkan?"
"Tapi tidak harus pergi, kan? Nanti jika kau tidak ada, siapa yang akan membuatkan makanan enak?" balas Ayumi tanpa berperasaan.
"Ayumi! Jangan begitu kepada Chi-Chan!" tegur Satoru tidak suka.
Ayumi merengut cemberut dan menatap Chizuru dengan sorot mata sedih. "Aku hanya tidak rela jika kau pergi dari sini, Chi-Chan. Bagaimana aku bisa mengetahui keadaanmu, jika kita berpisah begitu jauh? Lagi pula, untuk apa Shinichi mengajakmu? Dia tidak punya hak atas dirimu, dan jangan mau dibodohi olehnya. Bisa jadi, dia ingin mendapatkan keuntungan darimu!"
Ayumi sengaja berbicara demikian, karena ada Luke yang sedang berdiri di pintu utama, dan bersandar di tembok, sambil menyilangkan tangan. Dia tampak bergeming sambil menatap Ayumi dengan datar. Sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan sinis darinya.
"Jika aku tetap di sini, aku tidak akan bisa melupakan kesedihan yang terus kurasakan," ujar Chizuru dengan tatapan memohon kepada Ayumi. "Aku tahu kau sudah sangat baik, mau menemani dan menjagaku sampai hari ini, tapi tolong... mengertilah. Aku bukanlah orang yang memiliki kasih sayang seperti dirimu, Ayumi."
Ayumi terdiam dan menatap Chizuru dengan sedih. Matanya sudah berkaca-kaca dan dia segera memeluk Chizuru dengan erat.
"Jangan berbicara seperti itu. Kau tahu jelas kalau hanya dirimu yang menyayangiku. Orangtuaku sibuk, Obaa-Chan terlalu dingin untuk kudekati, dan hanya kau saja yang menggubris kehadiranku. Aku tidak menyesal ketika keluar dari rumah dan tinggal bersamamu," seru Ayumi sambil menangus tersedu-sedu.
"Kini kau sudah memiliki Satoru, dia yang akan menjagamu," balas Chizuru lembut, sambil mengusap kepala Ayumi dengan penuh sayang.
Ayumi menarik diri dan menatap Chizuru dengan airmata berlinang. "Jangan lupakan aku, yah. Jika kau sudah merasa senang, kau harus ingat untuk pulang ke sini. Kemana pun kau pergi, di sini adalah rumahmu, dan aku akan merawatnya."
Senyum Chizuru mengembang. 'Terima kasih, Ayumi."
Ayumi pun menoleh pada Luke sambil mengusap pipinya yang basah dengan kasar. Dia bergerak untuk maju menghampiri Luke sambil bertolak pinggang, dan menatap Luke dengan tajam. Luke tetap dalam posisinya dan membalas tatapan Ayumi dengan datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lover (COMPLETED)
Roman d'amourThe Bodyguard Series #3 : Luke Wilson Oedipus Complex. Demikian sebutan orang tentang pria yang menyukai wanitanya yang lebih tua. Hal itu disebabkan karena katanya pria itu memiliki kedekatan yang amat kuat terhadap ibunya. Bagi Luke? Jangankan...
