Day melihat ada sesuatu yang janggal yang terjadi dengan gengnya. Ia merasa teman-temannya tidak sekompak dahulu, tidak seberingas dahulu dan tidak semenakutkan dahulu. Pasalnya, Blacklist adalah geng yang paling di takuti dan tidak seorangpun yang bisa mengusik salah satu dari keempatnya. Namun kali ini, Sun terlihat sangat tidak bersahabat dengan Pang, Sementara Sing terlihat sangat asik sendiri dengan ponsel berserta game-game onlinenya.
Blacklist, Tidak seperti dahulu.
Pang melemparkan tasnya ke sembarang kursi dan sesegera mungkin pergi meninggalkan ketiga temannya tanpa satu kalimatpun.
"Day," bisik Sing pelan, "Pang sama Sun kenapa sih? Mereka berantem?"
Day mengangkat bahunya, "Gak tau."
Dilihatnya Sun yang mengambil kursi paling pojok belakang sedang menenggelamkan wajahnya dikedua lengannya. Tidak biasanya Sun terlihat selemas itu, ada apa dengannya?
Pikiran Sun mengawang, mencoba mencari jalan keluar untuk melarikan diri dari segala permasalahan yang ia hadapi saat ini. Sun mungkin terlihat tenang, namun pikirannya sangat begitu berisik sehingga sering kali ia ingin memukul keras kepalanya hingga pecah.
satu notifikasi pesan masuk muncul di layar ponselnya, Sun mengintip sekilas siapa yang mengiriminya pesan.
Keanu Gibrainn
Sun
Udah sampe kelas kan?
Habis kelas ke Cafetaria ya.
Enggan membalas, Sun kembali menenggelamkan wajahnya. Pikirannya kalut saat ini. Otaknya tidak berhenti berpikir tentang apa yang sudah diucapkan seorang Darell Pangalila. Bagaimana mungkin Pang menyukai dirinya?Jika iya, sejak kapan? Apa ia hanya berkata secara random karna ia tidak suka dengan Inn?
Sun, sangat bingung.
Sementara itu, Inn yang kini sedang berada di dalam perpus-pun tidak bisa berhenti memikirkan Sun. Tentang Sun yang tidak membalas pesannya, Tentang Sun yang terlihat sangat tidak bersemangat. Apa keputusannya saat ini benar? Apa semuanya akan berjalan lancar? Inn benar-benar ingin mengutarakan perasaannya pada teman kecilnya tersebut. Ia tidak ingin membiarkan Sun semakin larut dalam pergaulan tidak sehatnya. Ia ingin menjaga Sun lebih dari sekedar senior kepada junior.
Lamunan Sun seketika buyar ketika bahunya ditepuk lembut oleh Day. Sahabatnya yang sangat ahli dalam karate tersebut menatap Sun dengan air muka penuh rasa heran.
"Lo kenapa? Ribut sama Pang?"
Sun menatap ke arah Pang sekejap. Dilihatnya pria tersebut sedang menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya. Entah ia tertidur atau justru sedang melamun.
"Sun,"
Sun menggelengkan kepalanya, "Gak, gue gak apa-apa."
"Well, abis kelas nongkrong yuk? Kemana kek gitu."
"Ide bagus!" Sing menghampiri keduanya, "Gimana kalo kita ke mall? liat cewek-cewek celana gemes gitu, hehe."
"Boleh tuh. Gimana lo mau ikut?"
"Liat nanti deh."
Sun beranjak dari kursinya. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kelas yang bahkan belum dimulai.
"Eh lo mau kemana?" seru Sing, namun tidak dijawab oleh Sun.
———
Waktu menunjukan pukul 4 sore hari. Inn yang sedari tadi menunggu kabar sahabat kecilnyapun mulai merasa cemas, sebab yang ditunggu tidak kunjung datang. Bukannya kelas yang diambil oleh Sun sudah selesai sejak pukul 3.30?
Inn mengambil ponselnya, menekan sebuah tombol panggilan pada satu kontak yang ia beri nama 'Sunny'. Nada dering demi nada deringpun berlalu, namun tidak pernah terjawab.
"Kemana perginya anak itu?" tanya Inn pada dirinya sendiri.
Melihat seseorang yang sangat dikenalnya sedang duduk seorang diri, gadis itu menghampiri.
"Kak Inn!" sapanya.
Inn mengernyitkan dahinya, "Ay?"
"Kakak ngapain sendirian disini? Abis makan atau mau makan?"
"Oh, engga. Gue lagi nunggu Sun. Lo tau dia kemana?"
Ayna menggelengkan kepalanya, "Aku gak lihat dia dari tadi pagi. Emangnya dia ada kelas ya?"
"Seharusnya sih ada, udah selesai jam setengah 4 tadi."
"Oh, mungkin dia langsung pulang kayaknya kak."
"Mungkin kali ya." ucap Inn sedikit kecewa.
"Kak Inn.. Gak pulang?"
"Ini mau pulang sih. Lo balik sama siapa?"
"Kayaknya sendiri kak, Aku bisa pesan taxi online."
"Bareng gue aja kalo gitu."
Ayna menatap Inn sedikit ragu, "Gak apa-apa?"
Inn tersenyum kecil, "Ya gak apa-apa lah."
"Oke deh kak." seru gadis tersebut.
Ia mengikuti langkah Inn yang berada di depannya. Ia merasa sedikit bahagia melihat orang yang ia kasihi mengajaknya untuk pulang bersama. Momen yang sangat jarang bahkan mungkin, baru kali ini Ia merasa Inn memperhatikannya. Ayna sangat bahagia.
Inn membuka pintu mobilnya, mempersilakan gadis itu untuk masuk terlebih dahulu menduduki kursi samping pengemudi, sebelum dirinya yang memasuki mobil alphard kesayangannya.
Tanpa keduanya sadari, sepasang mata memperhatikan mereka dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Cemburu? Sedih? atau justru.. Senang?
"Dia lebih pantes dampingin lo, kak. dibanding gue." tuturnya lirih.
KAMU SEDANG MEMBACA
BLACK vs WHITE
Fanfiction"Lo gak takut sama gue?" Sun, Christopher Sun. Ketua geng Blacklist yang terkenal kejam dan angkuh. siapapun bertekuk lutut padanya. tapi tidak dengan Inn. "Kalo lo ngarep gue takut sama lo, Sorry, gak sedikitpun." Dia Inn, Keanu Gibrainn. Hanya seo...
