Bagian 3. Diskusi

983 138 13
                                    

Tok! Tok!


"Nyonya, Tuan Lee ingin anda datang ke kam----,"


BRAK!


"Oke."

Dengan langkah besarnya Chaerin pergi meninggalkan pelayan yang masih diam didepan pintu, walau akhirnya pelayan itu berjalan mengikuti langkah Chaerin yang sedikit berlari menuju kamar Lee Tae, dengan wajah sebalnya ia menuruni tangga kemudian menambah kecepatan saat menaiki anak tangga menuju tempat dimana Lee Tae berada.

"Ribet sekali ya Tuhan, sangat memakan waktu hanya untuk pergi kekamarnya saja." Ucap keras Chaerin yang dapat didengar oleh pelayannya, pelayan yang menghampiri Chaerin tadi bernama Nia saat nametag kecil berada di apron terpasang rapi.

"Lagi juga ini sudah jam berapa, apa kepala pelayan Hong berbohong, memberitahu dia akan pulang jam tujuh malam tapi jam sebelas malam baru sampai." Dumel Chaerin sambil menghela napas kasar setelahnya.

Membuka pintu kamar setelah mengetuk tiga kali dengan keras, Chaerin menatap pada pelayan sebelum masuk. "Terimakasih, kamu bisa pergi."

"Baik, Nyonya." Tanpa menunggu pelayan tersebut pergi Chaerin menutup pintu pelan sambil berbicara kecil, "Awas saja jika pertemuan ini hanya untuk memicu emosinya."

"Untuk apa diam disitu?." Tanya Lee Tae dengan rambut setengah basahnya, kaos putih dengan training hitam, membuat ia terlihat sangat menyegarkan dimata, tidak ada kesan lelah sedikit pun diwajahnya, padahal setau Chaerin lelaki itu seharian ini memiliki banyak pekerjaan.

"Kenapa memang? Tidak ada yang tahu apa yang terjadi didalam sebelum aku masuk Lee Tae, siapa tahu kau sedang ada tamu lain." kata Chaerin sambil berjalan menuju ruang tengah milik kamar Lee Tae.

Sepertinya, kamar ini lebih luas dibanding kamarnya layaknya kamar tidur pangeran kerajaan yang memiliki meja kerja, meja tengah untuk bersantai, balkon, kasur dengan ukuran king size, terdapat televisi besar, belum lagi ruang pakaian yang terpisah, membuat ia tidak habis pikir, jika dapat dihitung mungkin satu kamarnya Lee Tae ini senilah dengan tabungan yang Chaerin kumpulkan selama bertahun-tahun.

Menduduki bangkunya yang dimana Lee Tae sudah ada disana, dia mengambil tempat berhadapan. Setelan piyama dress pink sebawah lutut dengan selendang rajut putih milik Oma yang Chaerin pakai untuk menutupi pundak telanjangnya, membawa rambut pirangnya ia gerai.

"Bagaimana rasanya tidur dikamar yang seluas ini? Sepertinya sangat menyenangkan." Celetuk Chaerin tanpa maksud tertentu, bahkan kedua bola matanya masih menelisik setiap sudut dari kamar ini, memperhatikan detail corak pada pahatan kayu yang menjadi partisi kamarnya dengan satu pintu yang dihiasi dengan gantungan bunga Lily, dimana posisinya menempel cantik pada bagian depan pintu tersebut dengan beberapa bingkai kecil mengelilingi, jika ditatap lebih jelas seperti terdapat beberapa foto disana.

Mencoba untuk menangkap lebih jelas pada penglihatannya, entah mengapa segala sesuatu yang ia lihat benar-benar sangat membuatnya penasaran. Mencoba bangun untuk pergi menuju pada bingkai yang tertempel itu, satu jawaban dari Lee Tae membuat Chaerin mengurungkan niat untuk bangun dan memilih menjawab omongan lelaki tersebut.

"Kalau mau, nanti biar saya suruh tukang untuk membuat kamar seluas ini dilahan sebelah." Jawab Lee Tae sambil menatap pada tablet yang baru saja ia nyalakan, dengan duduk bersandar menumpu kaki kiri dengan kaki kanannya, posisi yang terlihat sangat sibuk itu dengan kacamata baca dimana baru ia pasang membuat Chaerin menghela napas.

"Tidak usah, dikamar sebelah juga sudah cukup." Jawab singkatnya sambil menatap lelaki itu dalam dia, beberapa menit diisi dengan keheningan sampai pada suara printer berbunyi membawa bangun dari Lee Tae.

Let It Be (REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang