Bagian 11. Mustahil jika tidak curiga + 💋🥵

642 93 9
                                    

Setelah libur diweekend kemarin yang sangat menguras tenaga melakukan kepura-puraan didepan Ibu mertua, Chaerin disuguhi banyak dokumen dimana dirinya harus meninjau satu persatu pengajuan daripada persetujuan sebelum sampai pada Direktur perusahaannya. Hari demi hari dia berkutat pada laporan, laporan, laporan, dan laporan, bahkan jarinya seperti sudah menempel diatas keyboard untuk mengetikan jumlah kata dan membalas beberapa pesan penting untuk keberlangsungan event yang sangat tiba-tiba diadakan oleh Lee Joony, kakaknya Lee Tae itu.

Walau dia terlihat sangat serius dan tenang pada duduknya, sungguh Chaerin tidak berbohong jika sesekali sebuah umpatan keluar dalam hati ketika semuanya datang begitu sangat tiba-tiba. Dia merasa kesal sekali jika semuanya dilimpahkan padanya, apa-apaan LIBI ini, apakah perusahaan tidak melihat banyaknya karyawan lain untuk ditunjuk sekadar membantunya menyelesaikan tugas yang menumpuk.

"Sudah hari kamis saja." Ucap Chaerin sambil menghela napas kasar, mengusap kedua matanya dia bersandar sambil menatap kertas yang bertebaran dimana-mana. Ruangannya ini benar-benar terlihat seperti kapal pecah saking sibuknya dia, sampai tidak sempat untuk merapikan dokumen-dokumen yang berhamburan.

Terdiam beberapa saat sambil melamun dengan pikiran kosong, dirinya mungkin terlihat seperti mayat hidup sekarang, tapi tidak, dia harus sadar dan kembali menyusun laporan untuk diserahkan sebelum jam 12 siang ini pada Lee Joony. Melirik pada jam yang tertera disudut kanan bawah laptopnya, Chaerin mengikat rambutnya, mengambil segelas kopi yang berada disamping mejanya lalu melempar tube kosong itu pada seseorang yang masuk tanpa mengetuk sekali pun.

"Eiitts! Tidak kena." Hindar Ellie sambil menendang tube kopi yang terjatuh itu hingga masuk pada tempat sampah kecil disudut ruang Chaerin. "Ya Tuhan, tempat ini seperti kandang babi. Kamu butuh bantuan, Chaer?." Ucap Ellie sambil melihat banyak kertas dimana-mana, bahkan dirinya sampai menginjak tanpa sadar beberapa kertas itu.

"Seharusnya kamu menawarkan bantuan itu dari hari senin Ellie." Dengan tangan yang melanjutkan pekerjaannya, dia melirik sekilas sahabatnya itu dengan tatapan tajam.

"Aku dibuat bekerja dilapangan oleh Pak tua, dan benarkah kamu menginap diperusahaan ini?." Ujar mirisnya Ellie sambil menyerahkan map bewarna biru dengan senyum mencurigakan.

"Taruh saja, aku akan mengeceknya setelah pengajuan pada Direktur, dan juga bagaimana aku tidak menginap dikantor tercintaku ini, jika tanggat waktunya diminta secara bersamaan." Bangun dari duduknya, Chaerin mengambil beberapa berkas untuk dia bawa.

"Aku akan kembali setelah mengajukan beberapa laporan, jadi bisakah kamu membantuku untuk merapikan kantor tercintaku ini, Ellie?." Pinta Chaerin sambil tersenyum manis,

"Aku sangat sibuk, jadi tidak bisa membantumu." Jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya, merasa bersalah karena tidak bisa membantu untuk merapikan ruangan sahabatnya ini.

"Benarkah? Bukannya tadi kamu menawarkan bantuan?."

"Hanya basa-basi."

"Yah, mau bagaimana lagi, cepat keluar aku mau mengunci ruangan ini."

Berjalan keluar bersamaan, Ellie mengatakan sesuatu yang berhasil membuat Chaerin terdiam sejenak.

"Apa kamu pikir Kakaknya Lee Tae tidak mencurigaimu? Maksudku, namamu yang berbeda itu pasti menjadi tanda tanya bagi dia kan?."

Ellie memang benar, tidak mungkin jika dirinya tidak dicurigai dengan nama yang berbeda itu. "Aku akan membuat alasan nanti, saat ini aku sangat lelah untuk berpikir."

Menepuk-nepuk pundak Chaerin, Ellie menyemangati. "Lakukan yang terbaik."

"Tentu saja." Jawabnya sambil melenggang pergi meninggalkan Ellie.

Let It Be (REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang