#Nggak nyangka, ada juga yang mau baca tulisan aneh saya ini. Terima kasih buat vote dan komennya. Itu jadi amunisi buat saya tetep semangat lanjutin cerita sederhana ini#
**
Pada akhirnya genggaman tangan Banyu yang terus menuntunku menuju meja bundar berlebel tamu spesial berhasil mencuri perhatian banyak orang di dalam ruangan ini. Sebagian besar tamu undangan menatap kami dengan rasa penasaran yang sudah mencapai ubun-ubun. Ada sorot menilai, dan tidak sedikit pula yang menebak-nebak. Di dalam isi kepala mereka pasti banyak sekali list pertanyaan yang menumpuk seperti cucian kotor. Tapi ya sudahlah. Toh, aku tidak punya kapasitas lebih untuk melarang siapapun berspekulasi dengan rasa penasarannya.
Hingga tanpa ku sadari ada perasaan hangat menjalari seluruh bagian tubuhku saat tangan besar itu begitu pas bertaut dengan jemariku. Aku merasa terlindungi, merasa nyaman, dan satu perasaan yang tidak mampu lagi ku jabarkan dengan kata-kata. Melebihi apapun dari semuanya itu, kenapa kebahagian membuncah yang justru sedang ku kecap? Bukankah harapan-harapan semu itu tidak sepantasnya ku semai? Aku takut. Ketika harapan sudah membumbung setinggi awan-awan putih yang berarak di atas langit, sedetik kemudian harus terhempas pada kekecewaan yang menyerupai batu-batu cadas kemudian menghimpit tubuhku. Tidakkah nantinya hanya rasa sakit yang harus ku tanggung?
"Iris, apa benar ini kamu, Nak?"
Dan pertanyaan itulah yang menyentak alam bawah sadarku yang sudah bercabang ke mana-mana.
Di hadapanku sekarang berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian gamisnya yang tampak branded berwarna terakota, serasi dengan hijab yang menutupi kepalanya. Beliau menatapku dengan sorot kaget dan penuh kerinduan yang membuat penglihatannya berkaca-kaca menahan airmata. Tapi lidahku terasa kelu untuk digerakkan, seperti mati rasa. Aku hanya mampu menjawab pertanyaan mami lewat bahasa tubuh, sebuah anggukan.
"Banyu, beneran ini mami nggak lagi mimpikan?" Pertanyaan yang lebih bertujuan untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya, mi...,"
Secepat Banyu menjawab, secepat itu pula mami merengkuh tubuhku ke dalam dekapannya. Beliau memelukku erat sekali sampai-sampai membutku sulit untuk bernafas.
"Jangan kenceng-kenceng meluknya, Mi. Lihat tuh wajah Iris kasihan banget nahan sakit," seloroh Banyu dengan tampang menahan geli melihat raut wajahku yang meringis karena ulah mami.
"Aduh...maafin mami ya Ris, soalnya saking senengnya lihat kamu."
"Nggak apa-apa kok mi," aku tersenyum maklum.
Mami membawaku ikut bergabung bersama yang lain. Sebenarnya hanya ada satu kursi kosong yang tersisa di meja ini, dan itupun jatah Banyu. Tapi dia lebih memilih duduk memangku si kecil yang sedari tadi memperhatikanku dengan seksama. Matanya bulat, rambutnya ikal, dan benar-benar perpaduan antara Banyu dengan Liana setelah sekilas ku perhatikan.
"Mami benar-benar nggak nyangka kalau kita bisa ketemu di sini," masih tidak henti-hentinya mami takjub dengan keajaiban sebuah takdir. Bagiku pribadi tidak ingin menyebut semua kejadian ini sebagai sebuah kebetulan semata, lebih bijak menyebutnya takdir karena runutnya sudah ada yang mengatur.
Apa mungkin wajahku ini punya magnet khusus sampai-sampai mami tidak berhenti memperhatikannya sedari tadi? Beliau menggenggam jemariku, dan sesekali mengelus lembut punggung tanganku. Seperti dejavu, hal ini juga pernah dilakukan mami seminggu menjelang Banyu naik ke pelaminan bersama Liana. Saat itu beliau mengungkapkan betapa inginnya melihatku yang bersanding dengan Banyu, bukan Liana atau perempuan manapun. Tapi yang namanya perasaan kan tidak bisa dipaksakan. Terkadang bukan rentang waktu berapa lama yang bisa dijadikan patokan untuk membuat seseorang jatuh cinta, karena teori semacam itu bisa jadi nihil hasilnya. Buktinya, meski aku mengenal dan dekat dengan Banyu jauh sebelum Liana masuk ke dalam lingkaran persahabatan kami, wanita itu jugalah yang pada akhirnya memenangkan hati Banyu. Ku lihat mami menyeka airmatanya yang sudah tidak mampu dibendung lagi. Seketika ada yang mengoyak hatiku hanya dengan menyaksikan adegan melankolis ini. Rasa bersalah membuat ruang gerakku terbatas. Aku bingung harus mengatakan apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unforgettable Marriage
RomanceIni hanyalah sepenggal kisah tentang Iris Jingga yang kembali dipertemukan dengan sahabat seumur hidupnya. Kisah yang kembali mengulik luka lama justru ketika dia baru saja terpuruk dengan pernikahannya. Banyu Biru dan Liana Kejora, dua orang sahaba...
