=========================================================
"Ibu!!!"
Suara ketiganya mengalihkan perhatianku dari meja makan yang sudah dipenuhi oleh piring-piring berisi berbagai macam masakan yang siang ini memang sengaja aku siapkan untuk lunch kami sekeluarga.
"Isshh...berisik, Ed! Dedeknya kan mau bobok."
"Ibuuuu!!!!!!!" teriakannya malah semakin kencang.
"Ed!!!" sekali lagi anak gadisku yang sudah mulai beranjak remaja mengingatkan si bungsu dari kembar tiga kami agar mengecilkan volume suaranya. Aku hanya tersenyum maklum melihat tingkah bocah Samudra yang memang sedikit bandel dibanding kedua kakaknya. Langit dan Laut Biru.
"Ed enggak dengar ya kakak princess ngomong apa? Jangan berisik. Nanti dedek Ai-nya bangun," itu suara si Sulung Al yang ikut-ikutan menimpali.
"Kalau Ed bandel, nanti kita enggak diajak ayah mancing bareng eyang, lho," El menepuk-nepuk pelan pipi Ed yang hanya manggut-manggut sambil memamerkan cengiran lucunya. Lantas, ia terkikik tanpa dosa.
Al yang pertama melepas alas kaki kemudian berjalan ke arahku dengan cara mengendap-endap. Persis seperti orang yang hendak menangkap ayam. Lantas, dua kembar mengikuti di belakangnya.
"Ayah mana, Ibu?" kepala El celingukan. Mencari-cari keberadaan ayahnya yang belum juga menampakkan batang hidung padahal jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Biasanya, lima belas menit sebelum waktu makan ia sudah duduk manis di depan televisi.
"Masih di jalan, sayang. Sebentar lagi sampai kok. Abang cuci tangan dulu ya sebelum makan. Habis main pasti kotor," interupsiku pada ketiganya.
"Oke," tanpa perlawanan, ketiganya serempak mengacungkan jempol.
Saat ketiganya masih berceloteh riang di dalam kamar mandi, si Bungsu Aivara Utta Gayatri tiba-tiba saja menangis kencang dalam gendongan Haruka. Buru-buru aku berlari ke arahnya. Tapi, belum sempat mengambil alih baby Ai, tubuh mungil bayi perempuanku yang baru berusia empat bulan sudah berpindah dalam dekapan ayahnya.
"Ayah. Kapan datang?" tanya Haruka dengan nada heran yang begitu kentara.
Sambil menepuk-nepuk pantat baby Ai yang sudah tak menangis lagi, ia menilik arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.
"Sepuluh menit yang lalu," jawabnya disertai senyuman tipis.
"Ayah udah mirip rampok aja. Sukanya main kucing-kucingan," bibir Haruka mencebik kesal.
Si ayah hanya terkekeh renyah hingga membuat tubuhnya bergerak naik turun. Ia lalu berjalan ke arahku, mengabaikan Haruka yang sudah berpindah tempat ke atas sofa burgundy yang ada di depan televisi. Tangannya sibuk memegang remote. Mencari channel yang menurutnya menarik untuk ditonton.
"Kamu nggak kangen aku, Ai?"
"Perlu ya?"
"Harus dong. Kan aku suami kamu."
"Semua juga tahu kalau kamu itu suami aku. Surat nikah kita juga belum kadaluarsa," balasku setengah mencibir.
"Kamu itu, ya," ucapnya sedikit gemas.
Tangannya terjulur ke arahku. Meraih tengkukku. Lalu, tanpa diperintah langsung mendaratkan ciumannya pada bibirku. Kami berciuman cukup lama.
"Udah ah. Nanti pasukan kamu yang masih berisik di dalam kamar mandi lihat emak sama bapaknya lagi adegan live layar tancep. Bisa gawat kalau ditanyain ini itu," ucapku sambil menjauhkan diri darinya. Tapi dasar mesum. Tangannya yang terampil masih sempat-sempatnya menepuk pantatku.
"Ed juga suka mukul pantatnya Raisa kalau di sekolah, Yah," suara cempreng di belakangku membuatku terlonjak kaget. Dan aku berani menjamin. Kalau Ed baru saja melihat tangan terampil ayahnya yang suka beraksi tanpa tahu tempat dan kondisi.
Tapi bukan itu yang membuatku dan Banyu membelalakkan mata. Melainkan kata "memukul pantat Raisa" yang membuatku menahan nafas beberapa saat.
"Kenapa?" hanya itu suara yang berhasil lolos dari bibir suamiku. Wajahnya masih terlihat shock.
"Raisa kan suka joget-joget kayak topeng monyet kalau di dalam kelas. Terus, Ed pernah lihat Marimar berhenti joget waktu bang Kipli mukul pantatnya. Ya udah. Ed pukul saja pantat Raisa. Tapi Raisanya malah nangis," jelas Ed dengan memasang wajah teramat sangat polos. Dan perlu diketahui. Marimar itu si Topeng Monyet milik bang Kipli yang suka mangkal di ujung jalan kompleks perumahan ibu.
Aku dan Banyu hanya saling melempar pandangan. Terkejut bukan main mendengar pengakuan Samudra yang benar-benar mewarisi sifat mesum ayahnya. Benar-benar buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Like father like son.
===========================================================
Surprise buat kalian ya...hahaha... Sekelumit penggalan dari Blue Family yang masih belum tahu gimana nasibnya. Ini bukan epilog. Apalagi extra part, ya...hihihi...
KAMU SEDANG MEMBACA
Unforgettable Marriage
RomanceIni hanyalah sepenggal kisah tentang Iris Jingga yang kembali dipertemukan dengan sahabat seumur hidupnya. Kisah yang kembali mengulik luka lama justru ketika dia baru saja terpuruk dengan pernikahannya. Banyu Biru dan Liana Kejora, dua orang sahaba...
