#Sampai lupa dengan intronya. WOW...*mata bling2 berkaca2* nggak nyangka vote di part sebelumnya nyampe 50-an lebih. Buat ukuran pemula seperti saya, itu benar-benar luar biasa. Terima kasih ya buat vote dan komennya, ditunggu terus amunisinya itu haha.... Oh iya, jangan panggil saya, thor*selalu nggak nyaman dengan panggilan itu*, kalau kalian merasa di bawah line 87, panggil saja kakak atau mbak, kalau lebih tua dari saya, cukup panggil nama saja.
***
"Sudah ku duga...,"
"Apa?"
"Tentang yang barusan kamu omongin."
Aku dan Ave masih menikmati sepiring nasi pecel di warung Mbok Nah yang terletak di seberang jalan depan butik. Meski bertahun-tahun tinggal di luar negeri, tidak serta merta menjadikan Ave mengalami syndrom latah seperti kebanyakan orang yang memuja masakan ala-ala barat biar kelihatan sok parlente-nya. Justru lidahnya itu "ndeso" sekali. Bayangkan saja, setiap kali berkunjung ke rumah ibu, yang dicarinya cuma urap sayur, tempe, dan ikan asin. Bahkan sampai Rega menjulukinya bule KW karena hal tersebut.
"Jadi kamu udah memprediksinya dari awal?" Tanyaku setengah kaget. Ku urungkan niat yang ingin menyuapkan nasi ke dalam mulut. Aku meletakkan kembali sendok alumunium yang ku pegang ke atas piring porselin beraksen garis melingkar berwarna coklat.
"He'em...," jawabnya malas. Ave tampak bersemangat sekali mengunyah nasi pecelnya. Rahangnya bergerak naik turun, bibirnya tertutup rapat meski sesekali sedikit terbuka.
"Kok kamu bisa curiga kalau Tante Andini bakalan njebak aku dengan cara yang nggak etis kayak gini?"
"Feeling. Dari awal lihat emak-emak rempong itu aku udah nggak sreg. Apalagi dandanannya yang mirip ondel-ondel berjalan. Mana rambutnya setinggi menara Dubai lagi."
Kerongkonganku serasa disumpal batu mendengar kicauan Ave. Ku sambar gelas di hadapanku dan langsung meneguk isinya sampai tinggal setengah bagian untuk meredakan sakit karena tersedak. Dadaku kembang kempis, sedang Ave menepuk-nepuk punggungku dengan raut muka tanpa bersalah sedikitpun.
"Nyante aja kali, Ris. Kayak nggak pernah dengar yang lebih parah dari ini," kalau tidak ingat ini tempat umum, sudah ku tarik bibir Ave itu dengan penjepit cucian.
"Kamu sih! Kalau ngomong itu mbok sekali-kali dipikir dulu. Seenaknya saja ngatain orang. Gitu-gitu beliau kan orangtua."
"Siapa yang ngatain? Aku ngomongnya juga sesuai fakta. Jambul emaknya Reza itu kan saingan terberatnya Syahrini. Kali aja besok-besok bisa jadi trend nusantara," setelah itu Ave terkikik geli, lucu dengan ucapannya sendiri. Ku tonyor kepalanya dari samping, otaknya yang bergeser itu perlu dikembalikan ke posisinya semula.
"Yeee.... Belain mantan mertua nih ceritanya," bibirnya monyong mirip moncong bebek, terlihat lucu sekali. Benar-benar tidak ingat umur dia ini.
"Bukan belain, cuma otak kamu itu perlu dikasih terapi khusus biar nggak makin parah cara kerjanya."
"Eh, jangan sembarangan ya! Gini-gini profesiku double lho. DOUBLE! Kamu mah lewat," sambil mengibas-kibaskan tangan di depan wajahku. Aku hanya mengendingkan bahu, menanggapinya acuh dan kembali menekuri santap siangku.
Warung Mbok Nah semakin terlihat ramai dengan silih bergantinya pengunjung. Meski tempatnya sederhana dan kalah jauh jika dibandingkan dengan restoran-restoran berbasic cafe yang belakangan ini sedang menjamur di kalangan remaja, tapi soal citarasa bisa diadu. Resep pecel di sini memang sudah diwariskan turun-temurun semenjak jaman neneknya Mbok Nah, belum lagi harganya yang relatif terjangkau untuk semua kalangan. Jadilah paket komplitnya, harga miring rasa terjamin.
"Terus apa rencana kamu setelah ini?" Butuh waktu beberapa detik untuk mencerna ucapan Ave. Setelah terbengong dan nampak tolol, aku mengerti kemana arah pembicaraannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unforgettable Marriage
RomanceIni hanyalah sepenggal kisah tentang Iris Jingga yang kembali dipertemukan dengan sahabat seumur hidupnya. Kisah yang kembali mengulik luka lama justru ketika dia baru saja terpuruk dengan pernikahannya. Banyu Biru dan Liana Kejora, dua orang sahaba...
