ALTERNATE ENDING

337 13 0
                                        

Hai panggil aku Haru, aku baru saja kembali ke kampung halamanku setelah 4 tahun insiden angkat kakiku dari rumah. Hari ini terasa berat meninggalkan kos ku yang mungil, hangat, dan nyaman untuk kembali kerumah yang luas, dingin, dan mebuatku muak. Dua kardus besar dan satu kardus kecil sudah ku masukan kedalam bagasi bis antar pulau ini. Tas gendong dan tas kecil berisi barang berharga bergelantungan ditubuhku yang kurus. Melangkah kedalam bis sempit dengan tatapan orang asing yang menjuri, aku benci harus duduk disebelah orang tak dikenal. Namun apa boleh buat ibu jatuh sakit dan kakak sedang bertugas dipelosok papua, ayah? Tidak usah ditanya, kalian akan ikutan muak jika tau tingkah lakunya. Tapi tidak apa - apa selama perjalananku pulang akan aku ceritakan.

Kisah angkat kakiku dimulai saat aku lulus SMA, dimana laki - laki itu berulah lagi. Tidak pernah kapok ia terus mengulangi kesalahan yang sama, layaknya seekor tupai yang tidak pernah puas akan satu kacang dan terus memasukan kacang kedalam mulutnya sampai pipi dan rahangnya pecah, sobek, terkoyak, terburai. Itulah ayah, jika aku bisa kasar padanya ingin sekali aku berteriak, "MENJIJIKAN!" Namun keluarga besarku adalah orang yang terpandang dan sangat tabu akan aib. Kelakuan ayahku adalah aib yang lebih memuakkan tidak ada yang tau kebusukannya, dan semua kelurga besar juga masyarakat sekitar segan akannya. Muak sekali bukan?

Angkat kaki ku membawaku kesebuah kota yang menjadi rumah baru untukku. Dimana aku bebas menjadi yang aku inginkan aku bisa tumbuh dan berkembang dengan kebebasan dan kesenangan kepuasan diri tiada tara saat aku masuk kuliah dan memiliki banyak sekali teman yang baik dan aku mulai mencari uang sendiri dengan karir yang melonjak naik terus sebagai freelance sebagai crew film. Masa kuliahku makin berwarna lagi ketika aku bertemu dengan kakak tingkat satu ini yang keceriaannya seperti matahari terbit di badai semalam suntuk. Sebut saja namanya Gio. Gio orang yang ramah, hangat, lawak, membuatku tidak pernah bosan pacaran dengannya. Ia bisa menjadi teman sahabat pacar kakak bagiku. Satu paket lengkap untuk aku. Dan dia membuat aku percaya bahwa tidak semua laki - laki seperti ayah. Cukup lama untuk ukuran percintaanku sebelumnya, aku berpacaran dengan Gio selama 2 tahun 6 bulan aku sangat yakin dengan Gio. Dan Gio pun begitu namun keluarga Gio dan agama kami tidak. Aku pun merelakan Gio dengan setiap sudut kota itu berisi kenangan bersama Gio. Walau begitu aku dan Gio putus baik - baik dan memutuskan untuk menjadi teman saja.

Putus asaku yang tidak akan bisa mencintai orang lain secinta aku pada Gio ternyata salah. Selang 4 bulan aku menjalin hubungan dengan salah satu crew ditempat aku freelance yang ternyata dari dulu sudah punya perasaan padaku. "Aku ingin kamu jadi yang terakhir untukku." Begitu katanya padaku saat kami duduk dirooftop kosnya ditemani bintang dan bulan yang terang dan bulat sempurna. Romantis sekali bukan?

Namun hubungan itu hanya bertahan 1 bulan kurang, aku dan dia terlibat dalam satu produksi web series. Pada hari pertama semuanya baik - baik saja, namun pada hari kedua dia bersikap aneh. Dia menjauhiku dan enggan bicara padaku. Malam itu juga aku yang kelelahan datang kekosnya dan mencoba untuk menyelesaikan masalah. Ternyata ia cemburu pada kedekatanku dengan aktor web series itu. Padahal aku sudah sangat profesional dan tidak ada yang terjadi diantara aku dan si aktor. Bukan hanya aku yang akrab partner divisi ku pun akrab karena divisi kami dituntut untuk menjaga mood aktor.

Setelah bertengkar akhirnya ia memaksaku untuk "melakukannya". Aku menolak karena aku sangat lelah dan ingin pulang untuk tidur karena besok subuh kami harus berangkat kelokasi syuting lagi. Tapi ia memaksa membuka bajuku dan mendorongku, aku sama sekali tidak memikirkan bahwa ini pemerkosaan aku hanya merasa marah dan kecewa. Kami tetap melakukannya walau aku sama sekali tidak menikmatinya. Setelah itu ia kembali diam. Apa maksudnya? Aku kembali bertanya dan ternyata masalah sebelumnya ia merasa belum selesai dan belum terima. Akhirnya aku benar - benar marah dan merasa hina sekali setelah ia memaksaku melakukan itu sekarang ia masih menjadi anak kecil yang egois. Aku segera mengambil helm dan kunci motor dan membentaknya, "Untuk apa aku datang kesini capek - capek niat menyelesaikan masalah tapi nyatanya hanya untuk hal lain." Jawabannya hanya, "yasudah sana pergi saja!"

Kumpulan One ShotTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang