Sabbiya Hasna saat ini sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah dan akan bertemu dengan teman-temannya dia gadis tertutup yang artinya hanya bermain dengan teman yang ia kenal saja, apalagi dia tidak gampang akrab dengan orang lain.
"Bunda Aku berangkat" teriak Sabbiya dari teras rumah, dan Bundanya segera bergegas keluar sambil membawa kotak bekal dan botol minum.
"Ininya bawa" ucap Bunda sambil menyodorkan kotak bekali dan Sabbiya sempat melirik rasanya malas sekali melihat kotak bekal itu.
"Bun aku udah besar bahkan sebentar lagi aku mau naik kelas 12 masa aku harus bawa bekal terus" ucap Sabbiya sambil menundukan kepalanya karena sebenarnya ia terlalu takut untuk menolak pemberian Bundanya.
"Mau udah besar mau kamu tetap kecil yang namanya bawa bekal itu wajib" ucap Bunda dengan nada tingginya.
"Yaudah maaf Bun, makasih" ucap Sabbiya sambil mengambil kotak bekal itu dan memasukannya kedalam tas.
"Aku berangkat ya Bun, Assallamu'alaikum.." ucap Sabiyya sambil menyalami Bundanya lalu masuk kedalam mobil.
Setelah sampai di sekolah Sabbiya segera turun dan bilang kepada supirnya.
"Pak nanti nggak usah jemput ya, aku nanti pulangnya sama teman" ucapku yang di angguki oleh Pak danang supir yang sudah lama sekali bekerja di rumah Sabbiya dan tugasnya mengantar jemput Sabbiya.
Saat memasuki pekarangan sekolah tanpa sengaja mata Sabbiya bertemu dengan seseorang yang selama 4 tahun belakang ini selalu di pikirkan oleh Sabbiya dan dengan berat hati Sabbiya selalu berucap istigfar karena tidak boleh Sabbiya memikirkan laki-laki yang bukan mahramnya takut dosa.
Dan laki-laki itu juga melihat ke arah Sabbiya tapi tidak ada kata yang ingin diucapkan karena memang selalu seperti itu saat meraka bertemu saling diam padahal saat di chaat mereka seperti akrab sekali tapi beda saat bertemu langsung seperti orang tidak kenal.
Buru-buru Sabbiya menghidar dan jalan dengan cepat sekali menuju kelasnya. Karena yang Sabbiya rasakan saat bertemu langsung seperti ada rasa gemetar di hatinya.
"Hayoo" ucap Diana yang setiap pagi pasti selau mengageti Sabbiya, untung saja Sabbiya tidak mempunyai riwayat penyakit jantung.
"Kebiasaan deh, waalaikumsallam.." ucap Sabbiya dan Diana hanya menderetkan giginya seperti malu gitu.
"Asslamualaikum warohmatullahi wabarokatuh" ucap ika di pintu sambil tersenyum Sabbiya dan diana mengucap dengan serempak.
"Tumben loh pake salam?" Tanya Diana sambil duduk di bangkunya.
"Mungkin dia dapet hidayah" ucap Dani yang tiba-tiba menjawab pertanyaan Diana.
"Ett ikut-ikut ajah lu" ucap Diana
"Ya kali gua ucap salam karena hidayah, kan mengucap salam itu wajib iyakan Sabbiya?" Tanya Ika yang melihat ke arah Sabbiya.
"Iya" ucap Sabbiya singkat.
"Sabbiya PR biologi udah?" Tanya Dani yang duduk di samping Sabbiya.
"Udah dong" ucap sabbiya santai.
"YaAmpun gua belum ika" teriak Diana yang memang duduk di sebelah Sabbiya sedangkan Ika duduk dengan Risa .
"Gua juga udah dong" ucap Ika dengan sombongnya.
"Moga-moga nanti gurunya nggak ada" ucap Diana yang selalu berdoa seperti itu.
"Luh mah gitu mulu doanya" ucap Dani dengan malas dan langsung keluar dari kelas.
"Yehhh si Dani suka-suka dong!" ucap Diana dengan teriakannya.
----
Setelah bel istirahat kedua berbunyi Sabbiya dan kedua temannya segera berangkat ke mushola yang memang sudah ada di sekolahannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Batas Waktu
SpiritualCinta diam-diam Sabbiya yang tidak pernah berujung, sampai akhirnya Pras lah yang mengakhiri Di Batas Waktu. . . Atau mungkin mengakhiri Di Batas Waktunya, karena Pras sudah menambatkan hatinya pada wanita lain?
