8. menggibah

26 3 0
                                        

Sabbiya saat ini sedang duduk di bangku kelasnya sambil memakan bekal yang di bawanya dari rumah, tiba-tiba Ika datang dengan membawa es jeruk dan somay.

"Sabb kamu tau nggak?" Tanya Ika yang mebuat Sabbiya hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu.

"Tadi tuh di kantin ada yang berantem gitu" ucap Ika dengan antusias.

"Berantem kenapa?"

"Biasalah cewe-cewe alay yang merebutin cowo so keren itu loh" ucap Ika dengan wajah di buat-buat kesal.

"Ayooo lagi pada ngegibah ya?" Ucap Diana tiba-tiba dengan membawa 1 botol air putih.

"Yee.. lu ko ngagetin ajah si" ucap ika dengan kesal sambil meminum esnya,

"Pasti kalian pada lagi ngomongin cewe-cewe yang saling adu mulutkan di kantin" ucap Diana dengan santai.

"Gw ajah yang ngomongin Sabbiya mah nggak tau, gw ceritain ajah tadi sama Sabbiya" jelas Ika.

"Ohh.. lagian cuma cowo kaya gitu ajah di perebutin ya aneh bangetkan" ucap Diana yang melanjutkan cerita Ika tadi, dikira Ika dan Sabbiya Diana tidak akan cerita eh nyatanya dia ikutan juga.

"Terus-terus tadi saling jambakan gak?" Tanya Ika serius.

"Iyalahkan tadi guru langsung dateng dan membewanya ke Bk, mantemkan" ucap Diana terkekeh.

"Padahal tadi gw pengen liat jambak-jambakannya" ucap Ika.

"Lagian luh udah duluan ajah" ucap Diana, Sabbiya yang sedari tadi diam saja hanya mendengarkan lalu mulai bicara.
"Husss.. udah jangan ngomongin orang mulu" ucap Sabbiya lalau menutup kotak bekalnya.

"Habisnya seru sabb" ucap Ika sambil terkekeh.

Memang sudah terbiasa membicarakan keburukan orang sebagai bahan obrolan yang sudah jelas itu adalah dosa tapi tetap saja dijadikan bahan obrolan yang seru.

Kriing.. kriiiing..

Bel masukpun telah berbunyi menandakan bahwa jam istirahat telah selesai dan akan memasuki jam belajar. Para muridpun memasuki kelasnya masing-masing dan berjalan ke arah bangkunya.

"Ett tuh bel udah kaya suara sepeda ajah" grutu Ika sambil berjalan ke arah bangkunya.

Seketika semua murid yang ada di dalam kelas tertawa mendengar perkataan Ika.
"Haha.. besokmah gua ganti deh Ika pake suara tukang siomay" ucap Dani sambil terkekeh.

"Jangankan tukang siomay suara tukang es cream juga kalo boleh di ganti udah gua ganti dari dulu" timpal Rizal dan duduk ke arah bangkunya.

"Apaan si kalian ko jadi ngebahasa bel si" ucap Sabbiya sambil terkekeh.

"Habisnya lucu ajah suara bel udah kaya suara sepeda" ucap Ika sambil terkekeh.

Seketika Ibu Ani memasuki kelas dan melihat murid-muridnya masih tekekeh membuat sang Ibu guru melihat heran.

"Kalian ngetawain apa?" Tanya Bu ani dengan wajah juteknya.

"Eh.. nggak papa ko bu" ucap Rizal dan semua murid langsung terdiam dan duduk dengan rapi.

"Yaudah sekarang buka paket nya Bab 5" ucap Bu ani lalau menjelaskan materi yang akan di pelajari.

----

Saat ini Sabbiya sedang berdiri di depan gerbang sambil menengok ke arah jalan siapa tahu supirnya sudah datang menjemputnya, tapi ternyata belum.

"Lama ajah" ucap Sabbiya sendiri lalu duduk di bangku pinggir sekolah, sambil menunggu supirnya menjemput Sabbiya membuka buku novelnya menghilangkan rasa jenuhnya.

Saat sesang asik dengan kegiatan membacanya tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dan Sabbiya melihat ke arah yang berdiri di depannya. "Ayah?" Ucap Sabbiya lalu mencium punggung tangan ayahnya.

"Hey.. udah dari tadi nunggu?" Tanya sang Ayah sambil mengusap-usap kepala putrinya.

"Lumayan si Yah" ucap Sabbiya sambil memasuki novel ke adalam tasnya.

"Maaf ya.. yaudah ayo pulang" ucap Ayah.

Saat sedang di perjalanan Sabbiya hanya memandangi jalan ke luar jendela.

"Hmm anak Ayah kenapa? Kaya sedih gitu si" tanya Ayah.

"Eh.. gapapa ko Yah biasa cape gitu" ucap Sabbiya sambil menyenderkan kepalanya.

"Oh iya Yah ko pak Danang nggak jemput aku si?" Tanua Sabbiya karena hari ini Pak Danang tidak menjemputnya.

"Sengaja Ayah suruh untuk tidak menjemput kamu, soalnya Ayah mau jemput kamu" ucap Ayah dengan senyum hangatnya.

"Makasih Ayah" ucap Sabbiya sambil tersenyum menggemaskan.

Setelah memasukan mobil kedalam bagasi, Sabbiya berlari ke arah rumah dengan tergesa-gesa "Assalamu'alaikum.." ucap Sabbiya lalu berlari ke arah tangga memasuki kamarnya.

Bunda yang melihat anaknya yang berlari ke arah tangga hanya terbengong bingung, lalu sang Ayah masuk.

"Kamu kenapa Bun?" Tanya Ayah yang melihat istrinya diam seperti patung.

"Itu Yah ko Sabbiya lari-lari gitu si?" Heran Bunda lalu berjalan ke arah meja makan.

"Ya Ayah juga nggak tahu" ucap Ayah lalu berjalan ke arah kamar.

Bundapun segera menyusuli Sabbiya yang berada di kamarnya. Dan melihat seisi kamar tidka ada Sabbiya lalu Bunda berjalan ke arah pintu kamar mandi seketika pintu kamar mandi terbuka. "Lega juga" ucap Sabbiya sambil mengusap perutnya, Budanya yang melihat tambah bingung.

" kamu kenapa kak?" Tanya Bunda

"Eh Bunda, nggapapa ko Bun.. biasa pangilan alam" ucap Sabbiya sambil terkekeh lalu mencium tangan Bundanya.

Bundanya pun mengerti kenapa anaknya tadi lari sampai secepat kilat ternyara ada panggilan alam.

"Yaudah nanti kamu turun ya bunda udah siapin makan" ucap Bunda lalu berjalan keluar kamar.

Sabbiya segera siap-siap dan membereskan peralatan sekolahnya, lalu Sabbiya memandang ke arah jendela dan membuka jendela tersebut lamunan itu terus terjadi "bersabarlah wahai hati" lirihnya, seketika hembusan angis menyapu wajahnya membuat sabbiya merasakan setiap hembusan angin menyapu wajahnya.

Saabiya tersadar dari lamunannya lalu menutup kembali jendela dan berjalan keluar kamar.
Menuruni tanggai satu demi satu untuk kelantai bawah.

"Kak?" Panggil Bunda.

"Eh iya Bun" ucap Sabbiya tersadar dari lamunannya saat sudah di meja makan.

"Makan ko melamun, cepet-cepet habisin kak" ucap Bunda.

"Hehe.. iya Bun" ucap Sabbiya sambil terkekeh.

***

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 06, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Di Batas WaktuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang