3. Diam

42 6 1
                                        

Sabbiya pov

Hari demi hari berganti saat ini aku sedang berada di balkon kamar menatap langit malam yang di sinari bintang dan hembusan angin yang menyapu hijabku.

Entah apa yang aku rasakan aku sangat suka langit malam apalagi saar ada bintar yang bertebaran di mana-mana.

Suara handphone berbunyi kulihat siapa yang mengirim pesan ternyata pesan grup.

Osis/mpk

0857-: Selamat Malam..
            Jangan lupa besok
           Sepulang sekolah di harapkan
           Kumpulan terlebih dahulu
            Terimakasih..

🌿: siap👍

Dian: siap bu ketu😁

Naaa: siap

Pras: ok:v

Setelah itu kututup pesan grupp yang masuk terakhir ku lihat dia Pras nama yang kusimpan di kontakku diam-diam tapi dia tidak menyimpan nomerku.

Aku segera menutup rapat jendelaku lalu berjalan ke tempat tidur dan merebahkan tubuhku mencoba memejamkan mata tapa enggan sangat sulit sekali.

Lalu aku berjalan ke arah kamar mandi mengambil wudhu terlebih dahulu lalu aku membaca Al-Quran. Setelah setengah jam lebih aku selesaikan lalu kurebahkan lagi tubuhku dan mncoba kembali memejamkan mata tapi rasa susah sekali.

Kenapa ini Ya Allah, aku segera beranjak dari kasur dan berjalan dan menuruni tangga kuedarkan pandangan ku setiap ruangan sudah sepi pasti Bunda juga udah tidur, lalu aku lanjut lagi berjalan menuju dapur meminum air putih, setelah itu aku berjalan ke arah ruang tv menyalakan tv dan aku merebahkan tubuhku di sofa.

"Kak.. kakak" panggilan itu membuatku mengerjapkan mataku lalu membuka mataku dengan perlahan dan rasanya badanku pegal sekali dan aku teringat ini di ruang tv berati aku ketiduran.

"Jam berapa Bun?" Tanyaku pada Bunda.

"Jam 2, kamu kenapa bisa tidur di sini?" Tanya Bunda.

"Biasa Bun ketiduran" ucapku sambil berjalan menuju kamarku.

Lalu aku segera mengambil wudhu dan mengerjakan shalat malam seperti biasa,
Ya Allah maafkan aku yang sudah mencintai makhlukmu, maafkan aku yang sudah dengan lancangnya bilang kalau aku mempunyai rasa padanya, maafkan aku yang terlalu menaru harap padanya. Maafkan aku. Tanpa sengaja cairan bening itu menetes ke pipiku segera ku hapus.

Lalu aku mengambil Al-Quran dan membacanya ayat demi ayat entah kenapa air mata ini selalu menetes entah kenapa tidak mau berhenti.

Setelah itu aku membaringkan kembali tubuhku dan mencoba memejamkan mata.

------

Di sekolah Sabbiya hanya melamun tidak terlalu banyak bicara memang biasanya juga seperti itu tapi ini lebih parah tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir mungil nya Sabbiya hanya diam dengan tatapan kosong.

"Sabbiya ke mushola yu bentar lagi azan dzuhur" ajak Diana.

Sabbiya segera mengikuti Diana dan Ika ke Mushola, sedangkan Risa tidak ikut karena sedang berhalangan, dan saat menuju mushola azanpun telah berkumandang menyejukan hati.

Saat sedang membuka sepatu tanpa sengaja Sabbiya melihat laki-laki yang selama ini dia dambakan siapa lagi kalau bukan Pras yang sedang berjalan ke arah mushola.

Setelah melaksanakan shalat dzuhur Sabbiya melihat ke arah sampingnya biasanya di ujung sebalah sana pasti ada Pras yang akan sama dengannya sedang memakai sepatu tapi sekarang tidak ada.

"Kamu kenapa si dari tadi diem ajah" tanya Ika bingung dengan sikap sahabatnya ini.

"Aku biasa ajah ko" ucap Sabbiya sambil tersenyum.

"Kamu mah nggak pernah mau cerita" ucap Diana, "iya nih" timpal Ika. Sabbiya hanya tersenyum.

Saat di kelas seperti biasa tidak ada guru yang masuk katanya si lagi pada rapat jadi mereka semua hanya diam di kelas dan ada yang tidur, bercanda, ngobrol ya seperti Sabbiya saat ini ia dan sahabatnya sedang berbicara serius.

"Ohh iya kalian tau nggak, minggu depan kelas  12 akan ada acara Graduations" ucap Ika dengan semangatnya.

"Iya nih aku juga nggak sabar pengen poto sama kakak kelas" ucap Risa sambil membayangkan dengan senyum-senyum sendiri, membuat Sabbiya menggelangkan kepalanya karena sahabatnya ini seperti ngefans banget sama kaka kelas.

"Mana ada kakak kelas yang mau poto sama lu pada yang gesrek ini" ucap Dani sambil merapikan bukunya.

"Idih ikut-ikut ajah lu" ucap Ika dan Risa kompak.

"Yakan gua denger" ucap Dani lalu pergi keluar kelas.

"Idih tuh anak udah kaya jailangkung ya, tau-tau muncul dan ikut nimbrung ngobrol setelah itu langsung pergi" ucap Risa dengan wajah kesalnya.

"Lu bisa ajah Risa" ucap Rifki yang langsung berjalan keluar.

"Lu juga samanya!" Ucap Ika dengan menahan emosinya.

"Udah dong ko jadi pada berantem gini si" ucap Sabbiya menenangkan Risa yang sudah tersulut emosi.

"Harusnya kamu lebih bisa sedikit sabar kalau ngadepin mereka" ucap Sabbiya lagi.

"Gimana bisa sabar kalau yang di sabarinnya ajah ngeselin" ucap Risa, Diana sedari tadi hanya Diam saja.

"Ko tumben lo diem ajah Diana" tanya Risa melihat ke arah Ika.

"Perut gua seketika mules gitu" ucap  sambil memegang perutnya. Seketika Rifki tertawa dengan sangat keras.

"Lah.. lah mau apa luh, cepetan sana ke toilet" ucap Risa.

"Ini tuh kaya nyeri gitu, tapi bentar lagi juga ilang nih rasa sakitnya" ucap Diana dengan santai.

----

Tbc.

Jangan lupa vote dan comennya ya teman🥺🤗





Di Batas WaktuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang