2 minggu berlalu
Waktu yang cukup lama untuk libur sekolah dan dua minggu juga Sabbiya tidak melihat Pras, hanya diam di rumah menyibukan diri dengan aktivitas di rumahnya, rasa rindu ada tapi segera Sabbiya tepiskan rasa rindu itu.
Tidak boleh ia terlalu seperti itu pada pemiliknya.
Sabbiya pov
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Kumandang Adzan subuh sudah ku dengan segera ku mengambil wudhu, setelah itu aku segera melaksanakan kewajibanku dan di lanjut dengan membaca Al-Qur'an.
Saat aku sudah selesai melipat mukena aku berjalan ke arah balkon kamarku dan membukannya dan melihat ke arah langit subuh yang menyejukan masyaAllah.
Lalu teringat sesuatu yang tiba-tiba menyesakan dadanya bagaimana dengan rasa tersembunyiku.
Aku segera masuk kembali ke kamar dan menutup balkon hanya membuka gordennya saja. Lalu siap-siap ke sekolah karena waktu libur telah usai dan Aku sekarang sudah kelas 12. Setelah rapi dengan seragamnya aku segera turun dan berjalan ke meja makan.
"Pagi Bunda" ucapku saat melihat Bunda yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan di bantu Bi ina.
"Pagi juga kak" ucap Bunda, lalu aku segera duduk. "Ohh iya kak panggilin ayah dong sarapan gitu" ucap Bunda lagi.
Aku segera berjalan kekamar Ayah dan saat akan kuketuk pintunya sudah terbuka menampilkan laki-laki yang sangat aku cintai.
"Eh.. ayah baru ajah aku mau panggil" ucapku sambil tersenyum dan ya Ayah hanya mengelus hijabku.
"Sudah selesai liburannya?" Tanya Ayah.
"Udah dong yah, aku bete di rumah terus"
"Nanti udah masuk sekolah malah pengen libur lagi" ucap Ayah sambil terkekeh benar saja memang kebanyakan siswa seperti itu saat di kasih libur pengen cepat-cepat sekolah, saat sudah sekolah pengen libur dan yaitu aku.
"Ayah nanti langsung berangkat ke kantorkan?" Tanyaku saat sedang sarapan.
"Iya.. kenapa kak?"
"Nanti aku berangkat bareng Ayah ajah ya ya ya" ucapku.
"Siap peri kecil Ayah" ucap Ayah, aku sangat suka panggilan itu.
Saat selesai sarapan aku segera memakai sepatu. "Kak nanti pas pulang sekolah jangan lupa beli cemilanya seperti biasa" ucap Bunda.
"Siap Bunda" ucapku lalu mencium tangannya, dan memasuki mobil dan Ayah sudah menunggu dari tadi. "Ayoyah berangkat" ucapku.
Sesampai di sekolah aku segera mencari kelasku yang mungkin di ubah-ubah lagi dari kelas sebelumnya.
"Sabbiyaaaaa" teriak seseorang yang sudah kukenal suaranya, tuhkan benar saja Diana.
"Pagi Sabbiya, rindu ih" ucap Diana sambil memelukku.
"Kamu udah ada kelas, dapet kelas berapa?" Tanyaku penasaran.
"Aku ajah baru mau nyari nih" ucap Diana sambil terkekeh. Dan akhirnya kamipun mencari kelas kami bareng.
Saat sedang mencari kelas aku dan Diana bertemy dengan Ika dan Risa.
"Sabbiya Diana...?" Panggil mereka. Akupun segera menghampirinya "kalian sudah dapet kelas?" Tanyaku bersamaan dengan Diana.
"Udah dong aku satu kelas lagi sama Ika" ucap Risa sambil tersenyum.
Saat aku melihat data nama kelas XII Ipa 2 dan di situ ada namaku dan Diana dan yang lebih senangnya lagi ternyata aku satu kelas lagi dengan Ika dan Risa.
Setelah itu kami segera memasuki kelas kami yang baru, dan wali kelas baru.
----
Bel istirahat berbunyi banyak para siswa siswi berjalan ke arah kantin, begitu pula dengan Sabbiya dan teman-temannya saat di kantin Sabbiya melihat ke arah yang beberapa minggu ini tidak bertemu rasa rindu itu ada ya Pras laki-laki yang masih saja bergelut dengan hati Sabbiya.
"Makan bakso ajah yuk?" Tawar Ika kepada teman-temannya yang langsung di setujui.
Saat sedang memakan bakso tiba-tiba Sabbiya terbatuk saat melihat Pras yang berjalan ke arahnya.
Uhuukk..uhuk..
"Yaampun Sabb kamu liat apaan si sampe batuk gitu" ucap Diana sambil mengusap-usap punggung Sabbiya.
"Nih minum minum" ucap Ika sambil menyerahkan air botol.
Setelah itu Sabbiya meminum air putih dan menyudahi makanya yang belum habis.
"Baksonya aku yang makan ya?" Tanya Risa.
"Iyaudah habisin ajah" ucap Sabbiya.
"Deuhh.. biasa banget pasti kurang mulu kalau makan bakso" ejek Ika.
"Bukannya kurang atau laper tapi mubazir" ucap Risa sambil terkekeh.
----
Sesampai di rumah Sabbiya merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memejamkan matanya seraya menghilangkan penat.
Kelas barunya membuat Sabbiya terasa senang karena berkumpul lagi dengan sahabatnya.
Sabbiya berjalan ke meja belajar, lalu menarik kuris dan duduk dengan membuka sebuah buka catatan lalu memegang pulpennya.
Rasa yang tak pernah berujung.
Sampai kapan aku seperti ini menyimpan rasa yang terkadang membuat rasa sakit sendiri.
Aku tidak berani mengungkapkannya bahkan sampai dia tau saja membuatku malu.
Allah..
Bantu aku simpan rasa ini dengan baik..
Bantu aku agar aku tidak terlalu lebih mencintai makhlukmu..
Bantu aku agar aku tetap dengan keteguhanku..
Sabbiya:)
Lalu setelah menulis beberapa kalimat Sabbiya menutup kembali bukunya dan menaruhnya lagi di beberapa tumpukan buku lainnya.
Lalu berjalan ke balkon kamarnya menatap matahari yang mulai terbenam, sambil memejamkan mata merasakan sejuk ketika angin menghembus kearahnya.
---
Tbc.
Bantu votenya juga ya🙏
Makasih😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Batas Waktu
EspiritualCinta diam-diam Sabbiya yang tidak pernah berujung, sampai akhirnya Pras lah yang mengakhiri Di Batas Waktu. . . Atau mungkin mengakhiri Di Batas Waktunya, karena Pras sudah menambatkan hatinya pada wanita lain?
