Malam itu kau menjelma angin,
sebab malam menjadi dingin bahkan hampir membekukan hati.
Aku menyalahkan semesta,
kau melihatku sembil tertawa.
Memandang ria dari asal yang tak di pandang mata.
Malam itu aku menyendiri untuk merindukanmu,
Namun, kau kirim sunyi tuk membunuhku agar tak menodai tanganmu.
Rinduku kau balas sendu yang sinis,
entah aku sudah memberi berapa manis,
tetap saja kau tak menganggapku secara egois.
Aku mencoba mengerti dengan berpikir kritis.
Tapi, hitam di hatimu tak bisa aku kikis.
Aku mencari solusi dengan cara melupa.
Namun nyatanya tak ada hal yang bisa kulakukan tuk menghilangkan mu dari kepala.
Setiap kenangan yang ada walau itu hanyalah kepalsuan yang dicipta olehmu, aku tak bisa menghilangkannya begitu saja.
Benar kata semesta,
kami bukan musuh.
Kamulah yang sudah mengadu domba.
Aku sadar bahwa semesta adalah teman satu-satunya setelah kau tiada!
A. Safir
KAMU SEDANG MEMBACA
Arsip Puisi Tu(a)n
PoesíaBerdoalah, kepada-Nya yang memberimu hati Pun patah- hati yang kausengaja ||Toeanpelaoet Note: Puisi yang saya publish di sini adalah puisi lama yang saya buat. Maksudku puisi yg masih banyak salahnya. Saya simpan disini untuk suatu saat akan d...
