pada suatu ketika.
setelah jam di sepakati sebagai penentu tunggu,
jenuh paling memabukkan.
di secangkir kopi,
bersebati antara tugas kuliah dan rindu padamu.
malam menyukai kopi,
menghamburi badannya sampai gelap buta.
saya dengan malam bercerita,
tentang kertas putih bergaris,
yang senang sekali meminta dicumbui pena.
saya mengatakan kepada malam;
"kau pulang dulu, saya butuh menutup mata sejenak,
agar besok, saya ingat untuk mengantar kertas putih bergaris itu kepada pemintanya.
untuk ditukar angka-angka."
malam bergegas pulang ditemani kokokan ayam.
"ah dasar"
saya belum sejam menutup mata,
mentari sudah mengetuk pintu bertamu.
katanya mau minum teh bersama.
@adiratnasafir
7 November 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Arsip Puisi Tu(a)n
PoésieBerdoalah, kepada-Nya yang memberimu hati Pun patah- hati yang kausengaja ||Toeanpelaoet Note: Puisi yang saya publish di sini adalah puisi lama yang saya buat. Maksudku puisi yg masih banyak salahnya. Saya simpan disini untuk suatu saat akan d...
