2

3.6K 549 19
                                    

(cocok enggak jadi Arvian?)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(cocok enggak jadi Arvian?)

Lavira terus mengajak mengobrol sang bos, tetapi tidak ditanggapi. Lelaki itu terus fokus pada kemudinya. Malas menanggapi perkataan sekretarisnya yang sangat berisik.

"Bos, saya tadi waktu ke restoran depan kantor ketemu sama Manajer Ma. Agak kurusan tapi tambah cantik."

Arvian menyimak tetapi tak merespon.

"Tadi dia nyuruh saya nyampein pesen ke Bos tapi ..."  Lavira sengaja menjeda ucapannya. Ia tersenyum simpul seraya memainkan helaian rambutnya dengan jari kanan.

Arvian mengernyit. Melirik sekilas ke arah Lavira.

"Tapi apa?" Akhirnya dua kata itu keluar.

"Ihh kepo ... jadi bener ya Bos ada rasa sama Manajer Ma."

"Enggak," tegasnya dengan nada dingin, "kami cuma partner kerja. Not more, not less."

"Setahu saya Bos deket banget sama Manajer Ma dan Manajer Ma ini satu-satunya perempuan yang dekat sama Bos," Lavira terus mengamati mimik wajah Arvian, "Bapak sama Nyonya pasti ngerestuin hubungan Bos sama Manajer Ma kalau memang ada hubungan serius."

"Kamu kok ngeyel. Saya punya teman dekat perempuan tapi itu bukan Manajer Ma."

Lavira mengerti maksud teman dekat yang dikatakan bosnya. Lelaki itu tengah berkencan dengan seseorang. Namun hal ini malah membuatnya bingung. Ia tidak mengerti bagaimana Arvian bisa berkencan karena sang bos begitu sibuk dengan urusan kantor. Kalau sudah waktunya pulang, ia langsung diantar pulang oleh Lavira ke rumah orang tuanya. Sedangkan ketika libur lelaki itu menghabiskan waktu bersama keluarganya atau berolahraga. Kalau berolahraga pasti Lavira yang akan menemani Arvian setelah mendapat perintah dari Tuan Besar Gabrilio.

"Terus?"

"Udah sampai," Arvian mengalihkan pembicaraan seraya melepaskan sabuk pengamannya.

Lavira memegang tangan sang bos. Ia tidak memperkenankan Arvian turun sebelum lelaki itu memberikan penjelasan. Dirinya enggan disalahkan oleh Tuan Besar Gabrilio kalau Arvian berkencan dengan sembarang perempuan.

"Perempuan itu siapa?"

"Rahasia. Kamu suka ngadu ke ayah saya."

"Bosss," tekannya dengan raut wajah memelas, "saya enggak bisa tidur kalau kepo. Janji saya bakal jaga rahasia." Lavira menyatukan ibu jari dan telunjuknya digerakkannya seolah-olah tengah mengunci bibirnya.

"Dia itu perempuan yang mengasyikan, makanya saya bahagia sekali bisa bermalam dengan dia."

Manik mata Lavira membelalak, bibirnya terbuka seperti ikan koi. Ia menggeleng. Dirinya berharap salah mendengar.

"Bos bercanda, ya?" Lavira mencoba tersenyum, meski dalam hati ia sngat was-was.

"Serius. Saya masih ingat betapa lembut kulitnya, aroma tubuhnya begitu harum, tatapannya begitu menghanyutnya, dan rasa bibirnya begitu manis."

Pardon Me, Boss!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang