19.27
Malam minggu, 6 Juli 2019السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَ حْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَ كَا تُهُ
Bismillahirrahmanirrahim.
#CeritaPKL
Hai teman², gimana kabarnya? Udah lama ya kita gak bertegur sapa di work ini. :(
Mungkin karena sekarang aku lagi PKL di RS Paru Cisarua Puncak. Jangankan untuk nulis, untuk buka WhatsApp aja aku jadi jaraaang banget...
Kali ini aku mau cerita tentang perjalanan pulang setelah seminggu pertama PKL.
Ohiya, untuk hastag #ceritaPKL diatas itu artinya aku bercerita tentang pengalamanku selama PKL, yaa.
Oke, lets go!
Jadi, yang dinasnya barengan sama aku itu ada 4 orang. Kami pulang dinas jam 9 pagi tadi. Sampai di kost-an langsung bebersih kayak mandi, ngerapihin kamar, ngerapihin cucian, ngerapihin jemuran.
Biar bersih. Soalnya kan mau ditinggal beberapa hari.
Selesai itu, kami langsung buru² pulang karena mau ke sekolah untuk laporan ke guru pembimbing.
Tapi, kalian tau kan gimana kondisi jalanan puncak? Apalagi di hari weekend?
Subhanallah, macet luarr biasaaa.
Terlebih ada sistem one way, buka tutup jalur.
Satu teman kami udah pulang duluan dijemput bapaknya naik motor, alhasil tinggal kami berempat yang pulangnya naik angkot.
Iya, naik angkot di kondisi macet.
Jam setengah 11 siang kami berangkat, dan terjebak macet. Kendaraan jalan ngerayap kayak apa ya? Keong? Abisnya pelan-pelan banget. Kami jenuh nunggu lama diangkot. Akhirnya kami jalan berempat.
Iya, jalan.
Kalian tau sampai mana?
Kalian tau cimory?
Nah, lebih dari itu. Kami jalan kaki ngelewatin itu, dua cimory. Kurang lebih 5 km.
Cape?
Banget... :')
Temenku kaki nya pada lecet, merah, kapalan.
Jalanan naik turun, dipinggir kemacetan kami jalan. Gak jarang di klaksonin banyak kendaraan, padahal posisi kami udah menepi banget.
Pusing, pegel, bete, kangen sama orangtua. Semuanya bercampur jadi satu.
Akhirnya, kami berhenti di pinggir jalan. Duduk cukup lama. Antara capek dan bingung harus gimana lagi supaya sampai ke rumah. Soalnya angkot udah pada penuh...
Aku berdiri, ngelihatin jalanan yang macet. Dalam hati gak berhenti berdoa, "Ya Allah. Tolong mudahkanlah... Kami mau pulang ke rumah, kami mau ketemu orangtua kami. Kami kangen mereka Ya Allah, mudahkanlah..."
Selanjutnya, aku tiba-tiba pengin menghampiri tukang cilok yang mangkal gak jauh dari tempat kami duduk. Aku ngobrol banyak sama beliau pakai bahasa sunda.
Sampai akhirnya si bapak tukang cilok ngasih tahu kalau untuk ke tempat tujuan kami pulang itu gak harus dengan naik angkot. Ada bus yang aku lupa namanya apa. Nah, katanya kami bisa naik itu.
Jadilah aku dan si bapak cilok jadi mata-mata jalanan. Nunggu bus itu datang.
Dan akhirnya...
Bus itu datang!
Bapak tukang cilok itu memberhentikan bus, lalu aku ngajak teman-temanku untuk naik. Sempat bikin macet untuk kendaraan yang dibelakang bus. Kami buru-buru naik dan gak lupa aku mengucapkan terimakasih berkali-kali ke si bapak tukang cilok.
Maasyaa Allah, Allahu akbar...
Sesampainya di bus, tangisku pecah. Ya Allah, terimakasih sudah mengabulkan doaku. Engkau baik sekali ya Rabb. Tiada pertolongan sedikitpun tanpa seizin-Mu...😭
Aku selalu yakin. Allah nggak pernah tidur. Allah selalu ada bersama kita. Allah selalu mendengar doa kita.
Aku sampai di rumah jam 9 malam. Begitu buka pintu, naruh tas, aku langsung berhambur peluk mama. Ya Allah, aku kangen banget sama Mama. Aku nangis sesenggukan. Rasanya udah berbulan-bulan gak ketemu, padahal baru seminggu.
Sambil ngelus pundakku, mama bilang, "Gimana? Enak kan, gak ada Mama?" katanya bercanda.
Aku auto tambah kejer nangisnya. "Mana enak. Kangen banget Ma..."
Mamaku ngelepas pelukan kami duluan. "Jangan gitu ah, nanti perginya lagi (pergi ke kost an) males lho."
Mamaku benar... Aku gak boleh larut dalam kesedihan. Hidup terus berjalan dan selalu ada fase dimana aku akan meninggalkan atau ditinggalkan. Ini proses menuju dewasa. Aku gak boleh cengeng. Aku harus kuat. Aku harus mandiri.
Hari yang sangat melelahkan. Aku akui itu. Kaki pegal, kepala pusing cenat cenut, tangan pegal karna megang tas besar yang udah robek²...
Tapi gak papa. Demi ketemu keluarga.
Sekarang aku tau gimana perasaan orang yang merantau, mereka rela macet-macetan pas mudik demi ketemu keluarganya.
Dan... Aku bersyukur banget karena banyak pengalaman yang bisa aku dapat. Mulai dari perjalanan panjang yang aku lalui bareng teman-temanku yang baik dan pengertian banget.
Aku juga dapat pelajaran baru untuk jangan gengsi atau menganggap rendah seseorang. Contohnya si bapak tadi. Meskipun dia hanya berjualan cilok, tapi hatinya baik dan dengan senang hati bantu aku untuk nyari kendaraan.
Segini dulu yaa teman-teman... Makasih banyak udah mau aku ceritain. Doain ya semoga aku bisa sharing lagii. Terimakasih sudah mau baca.🤗
وَالسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَ رَ حْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَ كَا تُه

KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Hidup Singkat
RandomKedua bola mataku menyaksikan. Lalu, hatiku berucap pelan, "Kejadian ini perlu kau abadikan dalam bentuk tulisan." ... Selamat datang, selamat berpetualang ke dalam isi pikiranku yang sebagian besar tak mampu ku ungkapkan...