Sore harinya sepulang dari kantor, Malika terjebak macet karena hujan deras membuat jalan-jalan Jakarta menggenang. Selalu begini. Tata kota di era kapitalis hanya keuntungan yang di kejar. Tidak memperhatikan drainase dengan baik, hingga akhirnya mengakibatkan pusat kota menjadi lumpuh tiap menghadapi musim penghujan. Gedung-gedung pencakar langit yang berdiri angkuh sebenarnya menjadi penyumbang banjir Ibu Kota Negara juga, karena sering mengabaikan ruang terbuka hijau. Apalagi jika semua kavling diperkeras oleh beton atau aspal akan menyebabkan wilayah yang ada disekitarnya tergenang air dikarenakan tidak ada resapan air di wilayah tersebut.
Berbeda halnya dengan kota-kota yang pernah menjadi pusat peradaban islam. Tata kotanya sangat rapi. Para arsitektur yang membangun Spanyol saat masih dikuasai islam, sangat cermat dan penuh perhitungan. Membangun bukan hanya sebuah seni, tapi ada ketakwaan didalamnya. Hingga tata kelolanya tidak melanggar dari syariah dan peninggalannya masih bisa ditelusuri sampai kini menjadi objek wisata yang sangat berharga. Peninggalan islam Spanyol yang sangat luar biasa adalah Masjid Cordoba, Medina Az-Zahra, Istana Alijaferia di Zarazoga, tembok Toledo serta Istana Alhambra di Granada. Dan jejak kota peninggalan yang ada Islam di Spanyol itu adalah Granada, Cordoba, Sevilla dan Toledo merupakan kota yang sangat indah.
Malika begitu takjub saat pertama kali menginjakan kakinya di kota yang pernah menjadi peninggalan islam tersebut. Saat dia melakukan compare antara arsitektur modern dan arsitektur abad pertengahan. Belum kota-kota peradaban peninggalan islam lainnya seperti yang ada di Madinah, Basrah, Kuffah, Baitul Maqdis. Ternyata kota-kota peningalan islam sangat amazing.
Dia juga sangat mengidolakan arsitektur yang di miliki islam masa keemasan Turki Usmani yaitu Mimar Sinan keturunan Yunani yang tergabung dalam tentara elit Usmani, Yeniceri. Awal karirnya adalah mengubah Hagia Sopia yang mulanya sebuah gereja Byzantium yang diubah menjadi yang sangat indah. Nama Mimar Sinan di abadikan menjadi nama Uiversitas Mimar Sinan yang terletak di kota Instanbul.
"Kita cari makan dulu ya Kak, aku lapar nih." Ujar Arsel yang dari tadi fokus menyetir. Bocah tengil itu hari ini kebagian menjemput Malika pulang dari kantor. Karena selain mobil masih dibengkel, Tante Dinar belum mengijinkan Malika bawa mobil sendiri. Alasannya takut Malika kelayapan.
Malika hanya mengangguk. Dia masih kesal, karena Arsel sudah menyanggupi keinginan mamanya untuk mengikuti kemanapun Malika pergi. Kecuali tidur dan ke kamar mandi.
"Muka kamu dari tadi kusut banget sih Kak?"
"Aku masih kesal sama kamu." Jawab Malika jutek.
"Yee...kesal kenapa?"
"Kamu kenapa, mau ngintilin aku kemanapun aku pergi? Emangnya nggak punya pekerjaan lain apa selain kuliah?"
"Kakak itu harusnya senang ada cowok ganteng mau nemenin kakak kemana-mana. Kan lumayan buat pamer."
"Ish...kamu ini. Kakak serius!"
"Itung-itung cari pahala lah kak, bahwa punya kakak perempuan itu harus dijaga, kalau belum goal. Lagian aku juga sedang nggak banyak pekerjaan. Emang kakak merasa terganggu?"
"Banget!"
Mereka masuk kedalam restoran.
"Kakak mau pesan apa?"
"Apa aja yang bikin kenyang." Ucap Malika sambil membuka ponselnya. Mencari artikel tentang arsitektur yang lagi di minati pasar saat ini. Konsep Back to Nature dan Arsitektur Hijau adalah suatu hal yang sangat di sukai Malika. Sudah seharusnya memang sebuah hunian di bangun mencerminkan rumah yang ramah lingkungan.
"Malika...wah kebetulan kita ketemu lagi disini." Suara itu cukup familiar ditelinga Malika. Gadis itu mengalihkan perhatiannya dari ponsel. Lagi-lagi soal Abyan. Kenapa sering sekali dia dipertemukan dalam satu tempat. Apakah ini bagian dari konspirasi semesta?"
"Hai, Abyan..." Malika berusaha untuk bersikap ramah.
"Sendirian?"
"Nggak, aku ditemani..."
"Kenalin aku tunangan Malika." Serobot Arsel mengenalkan diri.
Ck...Malika melotot. Gila itu bocah, kenapa sampai punya ide mengaku dirinya sebagai tunangan. Dasar bocah nakal. Awas aja kalau udah nyampe rumah. Geram Malika dalam hati.
Raut Abyan yang tadinya ramah berubah datar.
"Selamat ya, atas pertunangan kalian."
Apa-apaan lagi ini?
"Terimakasih." Ujar Arsel trsenyum penuh kemenangan.
"Oh, iya. Soal mobil kamu sudah selesai. Mau di anterin atau gimana?"
"Biar saya sendiri yang ambil. Minta alamatnya saja." Timpal Arsel.
"Ok, kalau begitu. Maaf saya permisi duluan." Pamit Abyan.
Setelah kepergian Abyan, Malika langsung menginjak kaki Arsel dengan sadis.
"Aww...! Kakak kok sadis banget sih.
"Kamu yang apa-apaan, ngaku-ngaku tunangan. Gila kamu ya, dek. Makan tuh semua makanan yang sudah kamu pesan. Kakak pulang." Malika mengambil kunci mobil yang tergelatak di meja Arsel lalu berlari keluar.
Malika bukan kesal dengan Arsel yang ngaku-ngaku tunangan terus Abyan bakal menghindar. Tapi, kesal aja kalau orang menyengka dia tunangan sama brondong. Tapi, bocah itu mana mau ngerti. Dia itu selalu protektif, terutama pada lawan jenis.
@--@
Sesampainya di rumah Malika benar-benar menumpahkan kekesalanya dengan mengurung diri di kamar. Samapai Arsel dan Azrel menggedor-gedor pintunya super kencang karena sudah di tunggu di ruang makan sama Tante Dinar.
"Kamu melakukan apa sama Kak Lika, Sel? Samapai dia marah dan nggak mau keluar." Ujar Azrel kesal.
"Aku cuma ngaku sebagai tunangan Kak Lika, saat di resto tadi. Karena ada cowok yang deketin dia tadi."
"Gila kamu, ya!" Azrel langsung menoyor kepala kembarannya.
"Lho, emang salah gue ngelakuin hal gitu. Gue cuma nggak suka aja lihat pandangan cowok itu yang sepertinya suka sama kakak sepupu gue yang cantik itu."
"Ya jelas lah marah, gue aja kalau jadi cewek seusia kak Lika malu banget kalau ada cowok brondong ngaku-ngaku sebagai tunangannya. Itu secara otomotis nurunin pasaran dia sebagai perempuan. Kamu emang nggak mau lihat kakak sepupu kita cepat married? Mikir Arshel, Kak Lika itu udah dua tujuh, cewek seusia dia sudah pada gendong baby lucu. Sedang Kak Lika terus sibuk kerja, dan lagi-lagi ditambah sikap kita yang protektif." Terang Azrel jelas ikutan jengkel dengan kelakuan bocah kembarannya.
"Ya gue kan nggak mau kakak sepuu gue jatuh cinta pada orang yang salah." Jawab Arsel tanpa merasa bersalah.
"Suka-suka lo deh. Sekarang lo harus tanggung jawab biar Kak Lika keluar dari kamarnya." Azrel menyerah karena sepupunya tetap bersembunyi dikamar.
Akhir-akhirnya pintu terbuka juga, setelah pintu di gedor-gedor sama Arshel.
"Apa?" jawab malika galak melihat wajah Arsel yang meringis.
"Maafin sikapku tadi saat di resto ya, Kak."
"Ogah!" Malika mengangkat bahunya acuh.
"Ayolah Kak, aku nyesel nih. Nggak lagi-lagi. Setiap orang berhak kok suka ke kakaku yang cantik ini."
"Suka?" ujar Malika sinis.
"Iya, cowok tadi kayaknya suka deh, sama kakak."
"Sok tau banget kamu dek, dia itu teman kakak waktu kuliah. Dia juga yang sudah nolongin kakak waktu mobil mogok kemarin. Tadi dianemuin kakak karena mau mengantar mobil yang kemarin di perbaiki sama temannya. Terus kamu sok tau banget, sampai ngaku-ngaku tunangan. Kekanakan banget sikap kamu."
"Iya maaf. Tapi kalau dia emang beneran suka sama kakak gimana?"
"Terus masalahnya sama kamu apa dek? Ya terserah dia mau suka atau nggak. Lagian bagi kakak, nggak ada namanya pacaran sebelum kata Ijab qobul terucap. Paham?"
"Wah...jadi kakak mau menikah?"
Apaan sih? Malika tambah emosi dengan sikap sepupunya yang super kepo ini. Selalu pingin tau aja urusan orang dan ikut-ikutan merecokin.
"May be yes, may be not." Jawab Malika sambil berlalu melangkah menuju tangga.
@----@
KAMU SEDANG MEMBACA
Sketsa Takdir
ChickLitCerita ini sudah tamat di KBM. Menjadi arsitek Islam kelas dunia adalah mimpi Malika. Gadis cerdas itu, sudah lama mengagumi arsitek kebanggaan Islam, Mimar Sinan yang hidup dimasa puncak kejayaan Islam Turki Usmani, saat dipimpim oleh Sulaeman Al-Q...
