Malika memasuki toko buku Open Troley yang terletak di Jalan Thamrin Jakpus. Disini toko bukunya lengkap dari buku lokal sampai Impor. Ada buku-buku arsitektur yang ingin dibelinya sekalian dengan buku agama dan beberapa novel islami. Buat teman bacaan saat lagi suntuk.
Banyak buku-buku yang bisa di cari di toko buku opentrolley mulai dari buku - buku antik, seni, arsitektur, bisnis dan ekonomi, anak - anak, komputer, memasak, biografi dan autobiografi, drama, pendidikan, seni, desain, fiksi, berkebun, sejarah, literatur, psikologi, hewan, fotografi, politik, psikologi, agama, ilmu pengetahuan, manual teknik, referensi, sosial, hingga olahraga.
Malika berjalan ke rak bagian buku-buku agama. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bisa berubah menjadi lebih baik. Karena hidayah itu harus dijemput bukan di tunggu sampai datang.
"Om, beliin aku buku cerita yang banyak ya?" teriak seorang anak kecil perempuan pada om nya.
"Aku juga mau." timpal bocah laki-laki.
"Ya udah, om anter ke tempat buku anak-anak. Tapi ingat kalian nggak boleh berisik, apalagi bertengkar."
"Siap om..."
"Oke om." setekah itu mereka berlarian dengan lincah menjadi pusat perhatian pengunjung. Malika jadi ingat Azrel dan Arsel.
Celotehan anak-anak yang riang dan ceria membuat Malika penasaran dengan kecerewetan mereka yang diladeni dengan sabar oleh omnya.
Tiba-tiba seorang anak menubruk dirinya. Malika hampir saja terjengkal. Anak itu menatap Malika dengan takut-takut karena sudah menabraknya.
"Gama... om sudah bilang jangan lari-lari. Ayo minta maaf pada tante yang sudah kamu tabrak."
Suara bariton yang ada di belakangnya itu terasa sangat familiar dan cukup membuat tubuh Malika menegang.
"Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati ya sayang, nggak boleh lari-larian di tempat ramai. Siapa namamu, nak?"
"Gamma, Tante." ujar anak itu sambil tersenyum manis.
"Hai...apa kabar?" Laki-laki itu cukup terkejut jika perempuan yang di tabrak oleh keponakannya adalah Malika.
"Alhamdulillah baik. Ini keponakan mu, lucu sekali." ujar Malika sambil berusaha untuk tidak gugup. Bertemu dengannya selalu membuat hatinya bertalu.
Laki-laki itu mengangguk. Setiap aku libur, mereka selalu minta di anter ke rumah omanya. Dan jadilah aku babysister mereka." ujarnya sambil tersenyum hangat.
"Pasti menyenangkan, punya keponakan yang cerewet dan aktif."
Cowok itu mengangguk dan menguasap kepala gamma penuh sayang. "Tapi lebih menyenangkan jika punya anak sendiri."
Malika diam, ia bingung mau merespon apa.
"Kamu kesini sendirian, tidak ditemani tunanganmu?"
"Tunangan?"
"Yang waktu bareng kamu dua hari yang lalu. Kayaknya dia masih muda banget."
"Dia saudara sepupuku. Dan aku belum bertunangan dengan siapapun." jelas Malika.
Entah mengapa mendengar penjelasan gadis manis di depannya yang menyebut belum bertunangan dengan siapapun ada rasa lega yang membuncah. Hatinya yang sempat patah kembali bersamangat. Boleh nggak sih, kalau ia banyak berharap jika wanita didepannya akan menjadi ibu buat anak-anaknya kelak. Benar kata Bunda kalau ia jangan dulu kecewa sebelum memastikan kebenarannya.
"Om Aby...Zeta sudah menemukan bukunya." seorang anak perempuan dengan rambut ikal mendekati mereka.
"Wah...coba Om lihat...," gadis itu dengan antusias menunjukan lima buku pada omnya.
"Duh ponakan om pintar banget sih, jangan lupa untuk dibaca ya, sayang." Abyan langsung menghujani ciuman pada keponakannya penuh sayang. Dan itu tidak luput dari perhatian Malika. Seperti melihat kedekatan seorang ayah dan anak.
Gadis cantik itu mengangguk senang. Lalu tatapan gadis cilik itu menatap Malika.
"Tante ini, siapa om Aby?" ujarnya penasaran.
"Ini Tante Malika namanya, ayo kasih salim dulu sama Tante Malika."
Gadis itu menurut. " Aku suka sama Tante." ujarnya berani.
"Tante juga suka. Kamu sangat lucu dan cerewet. Siapa namamu?"
"Zeta, Tante. Kata mama, ayahku sangat suka dengan Fisika, jadi aku sama Gamma namanya di ambil dari lambang Fisika." jelasnya tanpa di minta.
Ya ampun anak ini pintar banget. Boleh nggak sih, kalau di pinjam seharian?
"Mereka kembar?" tanya Malika pada Abyan. Meskipun Gamma dan Zeta sepantaran tadi tidak ada kemiripan sama sekali.
"Iya, mereka kembar tapi tidak identik."
"Om Aby, Gamma lapar." Gamma yang tidak terlalu banyak bicara menarik-menarik tangan Abyan.
"Ya udah ayo kita cari makan di luar, tapi kita bayar dulu buku punya Zeta. Gamma nggak cari buku?"
Anak cowok menggeleng. "Buku Gamma di rumah masih banyak."
"Bagaimana kalau kamu ikut gabung bersama kami, maukan Malika?" tawar Abyan. Dia sangat berharap Malika menyetujui ajakannya.
Malika melirik jam ditangannya. "Maaf aku masih ada keperluan lain setelah ini." tolaknya halus.
Terlihat ada kekecewaan dari sorot mata Abyan mendengar penolakan Malika.
"Ayolah Tante ikutan, kasihan om Aby." rengek Zeta.
"Maaf sayang Tante nggak bisa ikut sekarang, Tante sudah punya janji." Malika dengan sabar memberi pengertian.
Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya lucu.
"Tapi aku pingin berteman dengan Tante, kapan kita bisa bertemu kembali?" rajuknya.
"Tante nggak bisa janji sayang."
"Ya udah, Zeta nangi telephone Tante aja. Biar kita bisa teleponan. Om Aby punya nomer Tante Malika kan?"
Abyan menggeleng. Entah kenapa ia merasa harus merasa bersyukur dengan sikap keponakannya saat ini. Selama ini dia ingin minta nomer telepon Malika, tapi merasa bingung cara memintanya.
"Mal, boleh minta nomer handphonenya? Zeta kalau nggak dituruti keinginannya suka rewel."
Malika mengangguk dengan berat hati. Dan dia menerima hanphone yang disodorkan Abyan mengetikan nomer hapenya.
"Terimakasih"
Malika kembali mengangguk. Abyan dan dua keponakannya pun akhirnya pamit dari pandangannya.
Malika menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Merasa bingung dengan setiap episode yang sering mengaitkannya dengan Abyan. Sebenarnya ini tidak baik untuk hatinya maupun perjalanan yang ingin ditempuhnya nanti. Untuk urusan hati terkadang istiqomah itu berat.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Sketsa Takdir
ChickLitCerita ini sudah tamat di KBM. Menjadi arsitek Islam kelas dunia adalah mimpi Malika. Gadis cerdas itu, sudah lama mengagumi arsitek kebanggaan Islam, Mimar Sinan yang hidup dimasa puncak kejayaan Islam Turki Usmani, saat dipimpim oleh Sulaeman Al-Q...
