Jujur mengetahui Malika sudah bertunangan, ada perasaan marah di hati Abyan. Apalagi kalau mendengar bocah ingusan yang menatapnya penuh kemenangan, bikin hati Abyan membuncah. Lima tahun ia menunggu kesempatan ini. Berusaha tak peduli pada wanita-wanita yang mengejarnya. Bahkan menolak untuk di jodohkan keluarganya. Dan semuanya, hari ini berakhir sudah penantiannya. Ada rasa tidak rela kalau ia dikalahkan oleh bocah kemarin sore yang sepertinya sangat posesif. Bisa-bisanya Malika bertunangan dengan laki-laki yang usianya beberapa tahun lebih muda dengannya. Harga dirinya merasa terluka. Baru saja pendekatan akan di mulai, tapi sekarang sepertinya sudah tidak ada harapan. Dia bukan orang yang suka mencari permasalahan, dengan menjadi perusak hubungan orang lain hanya karena asanya yang tidak tercapai.
Abyan masuk kedalam rumah dengan wajah kusut. Ini sebenarnya bukan kebiasaannya. Sampai Bunda yang sedang menyulam heran melihat tampang anaknya.
"Kamu kenapa Mas, ada masalah di kantor?" tanya Bunda perhatian.
"Aku baik-baik aja, Bun. Abyan ke kamar dulu, ya." pamitnya pada Bunda.
Bunda heran melihat anaknya seperti. Sangat jarang Abyan bersikap dingin kecuali jika suasana hatinya sedang buruk. Dia pernah terlihat kacau, tapi itu sudah lama berlalu. Mungkin sekitar lima tahun yang lalu. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya setengah abad itu sangat paham, jika Abyan seperti ini pasti dia sedang menyukai seseorang. Tapi anak ketiganya itu tidak pernah terbuka. Lebih suka menyimpan semuanya sendirian.
Setelah sampai dikamarnya Abyan langsung mengganti pakaiaannya dengan pakaian olah raga. Dan masuk keruang tempat dia Fighting. Memukuli samsak sampai dia merasa puas, menumpahkan segala amarah berbalur rindu yang terpendam.
"Aku salah apa Tuhan, kenapa gadis yang aku sukai selama bertahun-tahun harus bertunangan dengan orang lain!" Jeritnya marah. Keringat sudah membanjiri tubuhnya. Mukanya merah melepas semua amarah.
Setelah puas memukuli samsak beralih meninju dingding sampai tangannya berdarah.
Bunda yang dari tadi penasaran dengan sikap anaknya, ia ikut menyusul ke atas dan menyaksikan penderitaan anaknya ternyata masalah asmara yang tidak teraih. Dia merasa lega sekaligus sedih. Lega karena dugaan orang-orang kalau Abyan gay karena tidak pernah terlihat bersama perempuan ternyata salah. Tapi sedih jika ketika anaknya harus jatuh cinta, tapi harus mengalami patah hati.
"Mas..." Sura Bunda menghentikan aktifitas Abyan yang sedang melakukan self injury. Nampak ada raut terkejut di muka Abyan. Karena sikap cengengnya kepergok Bunda.
"Kata Mas tadi kamu baik-baik aja. Ini maksudnya apa meninju samsak dan dingding sampai tanganmu berdarah?" Tanya Bunda dengan tatapan tajam.
"Aku...hanya...sedang olah raga aja, Bun?" elak Abyan.
"Dengan meninju dingding sampai tanganmu berdarah seperti ini? Jujur sama Bunda, siapa nama perempuan yang melukai hatimu?"
Ada sorot terkejut di mata Abyan. Kenapa Bunda bisa tau?
"Bunda sudah 29 tahun mengenalmu Mas, kamu nggak akan kaya gini kalau bukan masalah perempuan." terang Bunda seperi tau akan keheranan anaknya.
"Sini biar Bunda obati luka di tanganmu." Bunda menarik Abyan dari tempat biasa anaknya olah raga.
"Kalau kamu kesal, bukan dengan cara seperti ini melampiaskannya, Mas. Tapi coba terbuka. Masalah nggak baik di pendam sendiri. Kamu sedang jatuh cinta sama siapa Mas? Ujar Bunda lembut sambil telaten mengobati luka di tangan putranya.
Abyan meemjamkan matanya. Haruskah cerita pada Bunda tentang masalah hatinya.
"Aku sudah lama menyukai seorang gadis, dari semenjak masih kuliah. Suka karena dia gadis yang cerdas, tidak neko-neko. Dia sangat sederhana..."
"Mas pernah menjalin hubungan dengan dia?" tanya Bunda tertarik.
"Sayangnya tidak, dia salah paham karena mengira aku pacarn dengan gadis lain. Setelah itu, Mas tidak pernah melihat dia lagi Bun, kata teman-temanya dia lanjut kuliah ke Oxpord. Dan dua minggu ini kita dipertemukan lagi secara tidak di sengaja. Di mulai dari pertemuan di restoran, di pameran arsitektue, dan suatu malam, Mas menolong dia karena mobilnya mogok di tempat sepi. Dan Mas anter sampai rumahnya, tidak banyak yang kami bicarakan. Dia seperti menjaga jarak. Pas tadi Mas secara nggak sengaja ketemu dia di restoran, ada cowok yang mengaku sebagai tunangannya. Tapi usianya beberapa tahun di bawah, Mas. Mas sangat kecewa jika gadis yang sangat Mas sukai dan di tunggu dari dulu ternyata sudah jadi milik orang lain." Terang Abyan panjang lebar.
Bunda Aliya mengangguk paham. Sangat jarang anak laki-lakinya yang penurut ini jatuh cinta. Tapi sekalinya jatuh cinta, anak laki-lakinya ini akan sulit untuk berpaling. Persis dengan ayahnya, tipe laki-laki setia.
"Mas yakin cowok itu tunangannya?" tanya Bunda.
"Cowok itu ngaku sendiri, Bun?
"Bisa jadi dia adalah saudaranya yang ngaku-ngaku sebagai tunangan. Apalagi jika tunangannya itu usianya lebih muda."
"Kenapa Bunda bilang gitu?"
"Karena kita nggak boleh percaya pada sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Dulu waktu Bunda belum menikah, Pamanmu selalu mengaku-ngaku pacar Bunda kalau ketemu lelaki yang ingin dekat dengan Bunda. Katanya tidak ingin Bunda jatuh pada laki-laki yang salah. Dan ayahmu adalah satu-satunya laelaki yang tidak mengenal kata menyerah. Jadi pesan Bunda, kamu berjuang terus dan buktikan apa laki-laki yang bersama tunangannya itu benar-benar tunangannya atau bukan. Jika ya, Mas harus mundur meski harus terluka. Tapi yakinlah bahwa Allah pasti menyiapkan cinta yang lebih indah. Jangan pernah menyerah untuk sesuatu yang belum pasti." ujar Bunda sambil menfusap punggung anaknya dengan lembut.
"Terimakasih, Bunda." Abyan merasa lega sekarang.
"Siapa nama perempuan itu, Mas?"
"Malika, Bunda."
"Suatu saat jika kamu berhasil meyakinkan bahwa dia bukan milik orang lain. Mas kejar dia, kenalkan pada Bunda. Dan berikan dia ikatan yang pasti. Perempuan yang sudah dewasa tidak suka berjalan dalam ikatan yang tidak pasti. Mengajak wanita dengan menawarkan ikatan pernikahan itu adalah buktin keseriusan laki-laki."
Abyan mengangguk. Jika percakapan bersama Bunda bisa senyaman ini, dari dulu Abyan sudah bersikap terbuka. Tapi Bunda memang baru beberapa tahun ada di rumah, pensiun menjadi dosen dan benar-benar total jadi ibu rumah tangga sejati. []
KAMU SEDANG MEMBACA
Sketsa Takdir
Literatura FemininaCerita ini sudah tamat di KBM. Menjadi arsitek Islam kelas dunia adalah mimpi Malika. Gadis cerdas itu, sudah lama mengagumi arsitek kebanggaan Islam, Mimar Sinan yang hidup dimasa puncak kejayaan Islam Turki Usmani, saat dipimpim oleh Sulaeman Al-Q...
