Delapan

38 1 0
                                        


Langit siang ini terlihat cerah. Teriknya matahari ibukota menyengat semua benda yang beridiri di bawahnya. Mengerikan karena seperti ingin membakar. Wendy menyusuri lantai-lantai di dalam salah gedung pencakar langit sembari memerharikan jendela yang besarnya menjulang mengelilingi bangunan itu.

Ini adalah perusahaan dimana namanya diagung-agungkan. Ini adalah bangunan yang dirintis dari zaman kakeknya yang bekerja amat keras hingga melibatkan kerjasama dengan beberapa orang luar. Kekuasaannya ada di dalam sini, Wendy tahu tapi tidak ingin peduli.

Setiap petinggi, setiap pejabat, mereka akan selalu berhubungan dengan hukum. Oleh karena itu Wendy mengambil jurusan hukum dan menjadikan dirinya pengacara dibanding menekuni bidang dimana ia harus bergelut dan berurusan dengan saham dan kerjasama dengan pihak mana-mana.

Ia hanya butuh regulasi sebagai senjatanya.

"Selamat pagi, Presdir." Wendy menunduk hormat ketika ia sampai di ruangan teratas. Di kursi besar itu duduklah seorang yang sudah renta, wajahnya penuh akan wibawa, namun tatapan matanya sehangat matahari pagi. Itu adalah ayahnya.

"Kau datang tepat waktu."

Wendy tidak menyahut dan tidak melakukan apapun. Ia hanya berdiri di sana sambil memandang lurus ke dalam mata ayahnya, membiarkan suara sang ayah pergi menghilang ditelan udara. Setelah wisudanya usai, Wendy segera diminta untuk datang ke kantor.

"Presdir, apakah Anda memanggil saya kemarin sebagai seorang atasan atau sebagai seorang Ayah?" Wendy akhirnya berujar karena lelah dengan hening yang mengikis keduanya. Dahi sang ayah berkerut, entah karena ia bingung dengan perkataan Wendy atau terlalu fokus dengan laporan data yang kini tengah digarapnya.

"Aku memanggilmu kemari sebagai seorang anak, tenanglah Wen. Tidak usah terlalu tegang." Ayahnya menunjuk sofa kosong di dalam ruangan. "Duduklah dan tunggu dengan tenang. Kamu akan bertemu dengan rekanmu nanti."

Wendy duduk di antara bantalan sofa raksasa itu. Menjatuhkan punggungnya dan langsung mendesah lega karena ia merasa beberapa bebannya terangkat dan seketika ia merasa lebih baik. Semenjak ia menolak Erlan dulu, orang tuanya tidak pernah membahas soal pernikahan. Wendy menatap tangannya yang kini dibalut apik dengan gelas emas putih sederhana.

Gelang itu berbentuk bunga abstrak dan beberapa permata di atasnya. Indah namun sederhana.

Itu adalah hadiah ulang tahunnya.

Dari Dean.

Wendy tidak bohong, itu benar-benar dari Dean. Ia tersenyum kecil ketika mengingat kejadian beberapa bulan lalu dimana ia mendapat paket sekotak kecil mencurigakan. Paman dan Bibi hampir membuangnya dan melaporkannya ke polisi namun Wendy menahannya. Akhirnya mereka membuka paket itu bersama dan menemukan sekotak berisi gelang cantik tersebut dan selembar kertas bertuliskan 'dari Dean' yang amat sederhana.

Itu benar-benar berkesan. Karena tepat sebelum kejadian itu, Wendy hampir menyerah. Ia hampir memutuskan untuk pergi kemana pun yang tidak bisa dijangkau oleh Dean. Ia mengganti nomor ponselnya dan tidak menghubungi Dean sama sekali dalam jangka waktu yang lama. Ia hanya memandangi kotak kacanya tiap malam dan berpikir, apakah selama ini hanya dia yang berjuang?

Namun nyatanya, gelang sederhana ini membuktikan bahwa Wendy tidak sendiri. Ia tidak berlari sendirian. Wendy punya Dean.

Wendy asyik memandang gelang itu sampai akhirnya pintu ruangan Presdir terketuk. Ketukannya pelan dan penuh keyakinan, entah mengapa Wendy merinding. Seperti, orang yang di belakang pintu itu penuh dengan kengerian, dominansi dan arogan.

"Masuk."

Pintu terbuka pelan, deritnya memekakkan telinga. Wendy menahan napasnya kuat, matanya langsung bersirobok dengan hitam itu. Sosok yang selama ini ia nanti-nanti, berdiri dengan begitu gagahnya di sana. Mengenakan pakaian formal dan rambut tertata rapi. Jauh berbeda dan benar-benar berubah. Tapi Wendy tidak mungkin tidak mengenalinya.

Lidahnya kelu dan Wendy hampir tidak bisa menemukan kembali suaranya. Matanya bergetar dan napasnya total terhenti. Dengan berusaha susah payah, Wendy akhirnya bisa berucap lirih, "D-Dean...?"

Sebelum akhirnya hanya gelap yang sanggup ia lihat.


to be continued.

Cinta Luar BiasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang