Chapter 3

106 4 0
                                    

"Pranggggggg!!!"

Suara pecahan gelas kaca dan suara ribut yang sangat riuh terdengar dari luarr kamar Gladys.

Bunda -Batin Gladys.

Ayah Gladys adalah tipe orang yang kasar dan sangat tegas, sedangkan bundannya adalah tipe orang yang sangat lemah lembut serta sangat keibuan.

Gladys yakin saat ini ayahnya sedang marah, sampai harus memecahkan gelas seperti tadi.

"Rangga!" Satu nama lewat didalam pikirannya, Gladys buru buru mencari handphonenya untuk menghubungi kekasihnya itu.

Tut-tut-tut-

"Hal--"

"Bunda, Rangga" Ucap Gladys memotong Rangga.

"Kenapa, bunda? Kamu tenang, jangan nangis" Tanya Rangga.

"Ay-yah." Jawab Gladys dengan suara bergetar.

"Kamu tenang, jangan keluar kamar sampai aku datang" Ucap Rangga, berusaha menenangkan.

"Tapi, bunda Rangga! bun--Prangg!!! RANGGA hiks.. hiks.." Ucap Gladys dengan tangis nya.

"Sabar sayang, halo- halo Gladys!! Gladysa Michelle!!!." Terdengar Rangga yang meneriaki nama Gladys.

Gladys tidak memperdulikan teriakan Rangga, maupun suruhan Rangga untuk tetap diam di dalam kamar. Dia keluar untuk menyalamatkan bundanya dari amukan sang ayah.

Brak!!!

Begitu Gladys sampai di ruang keluarga, dia melihat bundanya terjatuh akibat dorongan ayahnya.

"Kamu jadi orang tua yang bener dong!! Gladys itu anak perempuan!!! Jangan dibiarin pulang malam kalo gak ada saya dirumah!!!!"

"Hiks.. hiks.. Gladys pul-pulang malam, karna Gladys ada tugas" Ucap Gladys terbata, sambil memeluk bundanya.

"NGAPAIN KAMU?!!! MASUK KAMAR SEKARANG" Bentak ayahnya.

"Gak!! Ayah gakbisa begini terus! Ini salah Gladys, bukan salah bunda."

"Udah nak, kamu masuk kamar sekarang" Ucap bunda Gladys.

"BERANI KAMU SAMA AYAH?!!!"

"Ayo, bunda. Kepala keluarga seperti dia tidak bisa diandalkan, hanya bisa menghakimi orang lain tanpa tau apa yang terjadi." Ucap Gladys dengan bahasa formal kepada ayahnya, dan pergi dengan bundanya menuju kamarnya.

"Huftt!!" Nafas kasar keluar dari ayah Gladys, lalu pergi keluar rumah.

-----

Ditempat Rangga.

Rangga panik.

Dia sudah berkali kali menelfon Gladys, tapi tidak ada jawaban dari kekasihnya itu.

Tut.. tut.. tut--

"Halah, anjing" Umpat Rangga.

"Kenapa sih Nga?" Tanya sahabatnya Rangga, Ijul.

"Si Gladys gue telfonin, gak diangkat angkat".

"Lagi selingkuh kali" Ucap salah satu sahabat Rangga, yang diketahui bernama Bima.

"Bangsat lo, Bim" Rangga tidak ingin memberi tau teman temannya, bahwa sekarang Gladys sedang dalam masalah keluarga. Bisa bisa teman temannya akan ikut khawatir juga.

Mereka sudah layaknya keluarga, saling tolong - menolong, bantu membantu, dan saling melindungi satu sama lain.

"Coba lo telfon sekali lagi, kalo gak diangkat juga, mending susul kerumahnya." Saran Gilang, sahabat Rangga yang paling bijak.

Tut-- tut--

Begitu bunyi panggilan ke dua, barulah Gladys mengangkatnya.

"Halo Yang, kamu ngapain aja sih?" Ucap Rangga dengan rentetan pertanyaan serta nada yang khawatir.

"Gak, aku gakpapa. Kamu jangan khawatir" Jawab Gladys berusaha tenang.

"Yaudah, kalo ada apa apa telfon aku"

"Iya, Nga"

"Besok pagi, aku jemput" Ucap Rangga dan memutuskan telfonnya sepihak.

-----

JANGAN LUPA!!!
VOTE & KOMEN NYA GUYS.
1 VOTE & 1 KOMENTAR KALIAN SANGAT BERHARGA UNTUK KAMI.

"ABRA"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang